Selasa, 07 Juni 2011

Gerbong Mutasi

Ketenangan terusik kembali, kerja belum selesai, sudah ada berita gerbong mutasi akan lewat lagi. Padahal belum lama gerbong mutasi itu berjalan, dan bahkan jalannya masih menyesuaikan diri. Ada gerbong mutasi lagi yang membuat sebagian besar masyarakat bertanya-tanya. Otonomi daerah bukan malah mudah tapi semakin payah, kepala daerah menjelma menjadi raja yang harus dilayani masyarakatnya, menentukan segala aturan bukan mengacu undang-undang yang sewajarnya. Lalu apa yang terjadi akhirnya?
Setiap daerah punya otoritas tersendiri, hingga terjadi perbedaan di sana-sini dan seling terjadi persepsi dalam menterjemahkan sebuah aturan tingkat tinggi. Dalam hal mutasi yang terjadi di sebuah daerah, seorang bupati dengan kekuasaannya tersendiri, meletakkan jabatan seseorang tak sesuai dengan kompetensi. Dinas Kesehatan dipimpin seorang yang berlatar belakang pendidikan, bukan berlatar belakang kedokteran. Dinas Pendidikan diisi orang yang berlatar belakang pendidikan ekonomi. Akhirnya apa yang terjadi?
Bahkan yang lebih vatal lagi, gerbong mutasi belum lama bergulir dan para pegawai belum mampu menyesuaikan diri dalam gerbongnya. Terjadi lagi gerbong mutasi yang terkesan dipaksakan. Memang mutasi pegawai itu hal yang lumrah dan wajar, tapi kalau permutasian itu tak memperhatikan kompetensi seseorang, apalagi dilakukan tak begitu berselang lama, apakah itu wajar? Disinilah perlunya ada semaam intropeksi diri dari masyarakat, dan tak membiarkan apa yang terjadi di daerahnya sendiri.
Gerbong mutasi bergulir mengikuti keinginan pribadi atau demi kembalinya dana yang dikeluarkan pada saat mencalonkan diri. Semua itu terserah kita yang menilai, dan tergantung kita bagaimana menyikapi apa yang terjadi. Karena benar tidaknya adanya kolusi, korupsi, sogok menyogok dalam mutasi itu hanya isapan jempol yang sulit untuk dibuktikan. Tapi yang jelas, marilah kita bekerja sesuai dengan keahlian dan kemampuan diri kita masing-masing. Biarkan gerbong mutasi itu bergulir, kalaupun pimpinan kita berganti, bersikaplah wajar sebagaimana mestnya, tak usah mencari simpati hanya karena ingin diperhatikan oleh pimpinan baru. Mari kita bekerja sesuai dengan tupoksi yang sudah ada!***