Aku mengenalnya Beby, kau jangan tanya yang lain. Ciri-ciri yang kau tunjukkan memang mirip dan hampir sama. Kenapa kau ingin tahu soal dia. Apakah dia punya hubungan denganmu, atau kau hanya ingin mencari-cari sesuatu untuk menyebak aku. Kau jangan coba-coba mempengaruhi aku. Kalaupun itu memang Beby, aku tak mau memberikan keterangan yang kau mau. Karena sudah lama aku tak menjalin hubungan dengan Beby, bahkan aku sudah tak tahu bagaimana kabarnya dia.
Kalaupun dia bukan bernama Beby. Aku tak peduli dan bahkan tak ingin konfermasi padanya. Sudahlah, kau jangan memburu aku untuk memberikan keterangan. Lagi pula, untuk apa kau mengusik keberadaannya. Biarlah dia menjalani keinginannya sendiri. Biarlah dia menekuni bidangnya. Kalaupun dia berhasil, itu karena jerih payah dan pengorbanannya. Kenapa kau ingin tahu tentang dia? Lagi pula, apa untungnya kalau kau sudah tahu tentang dia.
Aku mengenalnya Beby, poster yang kau bawa memang mirip. Rambutnya, hidungnya, bibirnya, bentuk tubuhnya. Tapi, nama yang kau bawa tak aku kenal. Apa mungkin ada dua nama orang satu. Kau pergi meninggalkan poster. Setalah aku tak mau memberi keterangan yang kau mau. Poster aku pandang dengan teliti. Aku menarik nafas, dalam dan dalam sekali. Sebenarnya ada apa dengan Beby?
Terus terang, poster itu memang poster Beby. Tapi dalam poster itu tertulis nama lain. Nama yang tak pernah aku dengar dan bahkan tak aku kenal. Mungkinkah nama itu nama Beby yang asli. Atau orang lain yang sengaja membuat poster Beby dengan namanya sendiri.
....
matapenaku
Disini aku ingin menelurkan gagasan, ide, dan membagi informasi
Minggu, 06 November 2011
Jumat, 04 November 2011
Yang Kau Lihat Kulitnya
Apa yang kau kata mungkin benar adanya. Karena kau hanya melihat kulitnya saja. Kau hanya melihat aku bekerja dan dia bekerja. Kalau kau tahu dalamnya, mungkin kau tak akan mau memandangku, dan bahkan mungkin kau tak mau menjadi tumpuhan hatiku yang selama ini gersang.
Ah....berat sebenarnya aku bercerita hal ini. Tapi, demi kekecewaan agar tak terjadi menimpa dirimu. Rasa berat itu aku letakkan, dan aku akan bercerita, siapa aku sebenarnya? Di balik aktivitasku bekerja sebagai pegawai rendahan, mengajar di sebuah perguruan swasta, dan tak lupa menulis setiap hari. Kalau kau punya anggapan gajiku berlebih, itu wajar dan masuk akal, aku tak menyalahkan.
Tapi, kau tak tahu kalau gaji itu sudah aku hutang dulu, di mana setiap bulan aku hanya menerima sisa-sisa hutang, dan itupun belum cukup untuk membayar hutang di koprasi. Padahal setiap bulan aku harus membayar rekening listrik, rekening koran, juga tak lupa pulsa merupakan kebutuhan yang tak mungkin aku abaikan. Sedangkan gaji dari yayasan di mana aku mengajar tidaklah terlalu besar, karena di yayasan itu aku mengabdi, dalam arti untuk mengembangkan diri. Beramal harta aku tak punya, beramal ilmu itu yang aku bisa.
Sedangkan gaji dia, mana aku berani minta, mana aku berani tanya. Bahkan dia malah minta aku. Padahal sudah aku jelaskan, kalau gajianku mens dalam arti untuk membayar utang saja belum cukup. Itulah sebabnya, kami sering diam dan bahakan sering bertengkar karena dia tak mau mengerti. Dia tak mau tahu, bagaimana aku mencari kekurangan setiap bulan. Aku sendiri tak tahu, dan bahkan mengeluh bertanya dalam hati, "itukah perempuan sholikhah". Ah...kalau aku cerita dia, mungkin kau tak percaya, kalau dalam pelayanan asmara dia begitu dingin. Bahkan aku tak menemukan cinta lagi didirinya.
Yang kau lihat kulitnya, kalau kau tahu dalamnya, mungkin kau tak percaya. Tapi aku berkata jujur dan setulusnya. Aku tak peduli, setelah kau tahu siapa aku sebenarnya, lalu pergi meninggalkan aku, aku tak peduli. Karena aku memang tak pantas untuk dikasihani. Kau jangan salah persepsi juga, beranggapan aku ingin merendah diri. Soal kau percaya atau tidak apa yang aku katakan, itu terserah kau sendiri.
Memang aku punya gelar, tapi apalah artinya sebuah gelar, kalau aku tak mampu membuktikan gelar itu sendiri. Gelar yang aku tempuh dengan mencari pinjaman uang ke sana kemari yang sampai saat itu belum terbayar, dan entah kapan terbayar. Tapi aku percaya, aku pasti akan mampu membayar, walau sekarang menahan rasa malu karena banyak hutang.
Secuil ceritaku sebenarnya, aku tulis sejujurnya. Kalau kau tak percaya, tak apa. Aku memang tak perlu kepercayaan itu. Aku apa adanya, ada ya ada, tak ada ya tak ada. Aku tak mau mengada-ada. Aku tak peduli apa yang akan terjadi, setelah kau membaca ceritaku ini. Karena aku sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjelek. Biar kau tak selalu beranggapan berlebih, dan mau menerima aku apa adanya, kalau itu kau menerima. Kalau kau tak mau menerima, aku sudah siap juga.***
Ah....berat sebenarnya aku bercerita hal ini. Tapi, demi kekecewaan agar tak terjadi menimpa dirimu. Rasa berat itu aku letakkan, dan aku akan bercerita, siapa aku sebenarnya? Di balik aktivitasku bekerja sebagai pegawai rendahan, mengajar di sebuah perguruan swasta, dan tak lupa menulis setiap hari. Kalau kau punya anggapan gajiku berlebih, itu wajar dan masuk akal, aku tak menyalahkan.
Tapi, kau tak tahu kalau gaji itu sudah aku hutang dulu, di mana setiap bulan aku hanya menerima sisa-sisa hutang, dan itupun belum cukup untuk membayar hutang di koprasi. Padahal setiap bulan aku harus membayar rekening listrik, rekening koran, juga tak lupa pulsa merupakan kebutuhan yang tak mungkin aku abaikan. Sedangkan gaji dari yayasan di mana aku mengajar tidaklah terlalu besar, karena di yayasan itu aku mengabdi, dalam arti untuk mengembangkan diri. Beramal harta aku tak punya, beramal ilmu itu yang aku bisa.
Sedangkan gaji dia, mana aku berani minta, mana aku berani tanya. Bahkan dia malah minta aku. Padahal sudah aku jelaskan, kalau gajianku mens dalam arti untuk membayar utang saja belum cukup. Itulah sebabnya, kami sering diam dan bahakan sering bertengkar karena dia tak mau mengerti. Dia tak mau tahu, bagaimana aku mencari kekurangan setiap bulan. Aku sendiri tak tahu, dan bahkan mengeluh bertanya dalam hati, "itukah perempuan sholikhah". Ah...kalau aku cerita dia, mungkin kau tak percaya, kalau dalam pelayanan asmara dia begitu dingin. Bahkan aku tak menemukan cinta lagi didirinya.
Yang kau lihat kulitnya, kalau kau tahu dalamnya, mungkin kau tak percaya. Tapi aku berkata jujur dan setulusnya. Aku tak peduli, setelah kau tahu siapa aku sebenarnya, lalu pergi meninggalkan aku, aku tak peduli. Karena aku memang tak pantas untuk dikasihani. Kau jangan salah persepsi juga, beranggapan aku ingin merendah diri. Soal kau percaya atau tidak apa yang aku katakan, itu terserah kau sendiri.
Memang aku punya gelar, tapi apalah artinya sebuah gelar, kalau aku tak mampu membuktikan gelar itu sendiri. Gelar yang aku tempuh dengan mencari pinjaman uang ke sana kemari yang sampai saat itu belum terbayar, dan entah kapan terbayar. Tapi aku percaya, aku pasti akan mampu membayar, walau sekarang menahan rasa malu karena banyak hutang.
Secuil ceritaku sebenarnya, aku tulis sejujurnya. Kalau kau tak percaya, tak apa. Aku memang tak perlu kepercayaan itu. Aku apa adanya, ada ya ada, tak ada ya tak ada. Aku tak mau mengada-ada. Aku tak peduli apa yang akan terjadi, setelah kau membaca ceritaku ini. Karena aku sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjelek. Biar kau tak selalu beranggapan berlebih, dan mau menerima aku apa adanya, kalau itu kau menerima. Kalau kau tak mau menerima, aku sudah siap juga.***
Rabu, 12 Oktober 2011
Gelar
sebuah pertanggungjawaban yang tak ringan
kalau aku memasang gelar dinamaku
setelah dikukuhkan dalam wisuda
apa kata orang bila aku tak mampu
mengaktualisasikan pascasarjanaku
banyak gelar terpasang berderet di sebuah nama
dari yang profesor, doktor sampai sarjana
tapi kenapa segala persoalan belum bisa
mengatasi ruwetnya persoalan yang ada
apakah gelar tersandang hanya sebagai hiasan
atau sebagai gagah-gagahan belaka
biar orang lain tahu kalau punya gelar
betapa beratnya pertanggungjawaban kedapan
setelah aku menyandang gelar yang kudapatkan
tak dipasang dibilang tak menghargai sebuah gelar
dipasang betapa beratnya berjalan
...^_^...
kalau aku memasang gelar dinamaku
setelah dikukuhkan dalam wisuda
apa kata orang bila aku tak mampu
mengaktualisasikan pascasarjanaku
banyak gelar terpasang berderet di sebuah nama
dari yang profesor, doktor sampai sarjana
tapi kenapa segala persoalan belum bisa
mengatasi ruwetnya persoalan yang ada
apakah gelar tersandang hanya sebagai hiasan
atau sebagai gagah-gagahan belaka
biar orang lain tahu kalau punya gelar
betapa beratnya pertanggungjawaban kedapan
setelah aku menyandang gelar yang kudapatkan
tak dipasang dibilang tak menghargai sebuah gelar
dipasang betapa beratnya berjalan
...^_^...
Senin, 10 Oktober 2011
Menyapa Ibu Kota
Ke mana langkah mata membentur ketidakpercayaan. Menyapa ibu kota, menyapa peradaban yang selalu berubah seiring perkembangan jaman. Pesatnya perkembangan, terkikisnya peradaban lama, terbentuknya peradaban baru yang mau tak mau harus diterima. Kalau tak mau menerima peradaban baru. Menyingkirlah dari ibu kota, dan kembali ke kampung halaman, di mana peradaban lama masih tersisa.
Di ibu kota, aku harus menyisihkan peradaban dari kampung halaman tercinta. Bukan apa-apa, tapi aku tak mau tertinggal oleh mereka. Aku tak mau tertinggal akan adanya perkembangan peradaban yang ada.
"Kamu boleh mengikuti perkembangan peredaban, tapi....!" kata temanku yang juga sama-sama dari kampung, dan lebih dulu berada di ibu kota.
"Tapi, kenapa? Salahkah bila aku mengikutinya"
"Kamu gak salah, memang kita harus mengikutinya. Tapi jangan sampai kamu kehilangan jati dirimu sendiri".
"Maksudmu!"
"Kamu harus punya jati diri pada jamannya"
"Ah....kamu semakin ngacau saja!"
"Aku gak ngacau, coba kamu lihat sendiri bagaimana kehidupanku?"
Aku diam
Mungkin benar apa yang dikatakan temanku. Boleh-boleh saja mengikuti perkembangan peradaban. Tapi, jangan sampai kehilangan jati diri. Jati diri sebagai keberadaan di mana titik awalnya diri ada. Dari mana diri ini sebenarnya. Mampukah aku menjaga jati diri, punya jati diri pada jamannya. Sedangkan, setiap hari sedari pagi sampai malam hari. Aku berada dalam lingkungan yang puralisme. Penuh dengan persaingan dan saling mempertahankan kehidupan di ibu kota.
Menyapa ibu kota, menyapa segala kemungkinan yang ada. Aku harus selalu siap menerima segala kemungkinan itu. Seperti hari ini, gerimis mewarnai ibu kota dan aku harus tetap pergi menemuinya. Pasti dia sudah menunggu kedatanganku. Sebenarnya, aku agak malas menemuinya. Tapi, haruskah aku melupakannya, melupakan jasanya. Aku masih ingat, kali pertama yang aku kenal di ibu kota dia, dan dia juga yang mengenalkan ibu kota, kali pertama aku menyapa ibu kota.
Hampir satu bulan aku tak bertemu dia. Kemarin dia SMS, aku diminta datang kerumahnya. Ada apa dan kenapa aku diminta datang. Padahal, dia sendiri yang memutuskan hubungan persaudaraan. Hanya karena salah informasi, dia meminta agar aku tak menghubungi lagi. Kami memang beda suku, beda adat istiadat, walaupun begitu kami saling menerima dan saling menghargai.
Gerimis bukannya reda, malah menjadi hujan yang agak lebat. Kalau aku belum sampai dirumahnya, mungkin aku sudah basah kuyup kayak kucing terjerumus ke dalam selokan.
"Ada apa kok aku diminta datang?" tanyaku langsung tanpa basa-basi sambil mengibaskan rambut basah yang tertimpa hujan.
"Kita berbicara di dalam saja"
Sebenarnya ini bukan rumahnya pribadi. Tapi rumah kontrakan yang berdesakan, tak ada sela antara rumah yang satu dengan yang lainnya. Apapun pembicaraan yang terjadi, tetangga sebelah pasti mendengarkan. Anehnya, biarpun didengar tetangga, kami tak memperdulikan. Karena mereka tak pernah menyoal apa yang terjadi dan dialami oleh tetangganya. Kehidupan begitu individualis sekali.
Di dalam kamar kami berduaan. Tiba-tiba dia menangis, menumpahkan segala kesalnya. Aku dibuat bingung tak kepalang. Ada apa dengannya?
"Sudah.....sudah....sebenarnya ada apa? Apakah aku diminta ke sini hanya diberi tangisan?"
Dia menghela nafas, pandangannya menubruk mataku, dan kami saling berpandangan. Dia menghela nafas lagi.
"Duduk dan tenangkan dirimu. Sebenarnya ada apa?"
"Aku minta maaf, mas!"
"Minta maaf.....aku rasa kamu tak punya salah. Kok tiba-tiba minta maaf!"
"Mas.....!"
Dia menatapku begitu rupa hingga menghujan rasa yang ada. Berlinang air matanya. Di antara sedu sedan tangisnya yang pelan. Dia berkata, mengatakan isi hatinya.
Terus terang, kali pertama bersua, aku sudah tertarik padanya. Apalagi kebaikkannya begitu nyata, dan sudah diberikan tatkala kali pertama menyapa ibu kota. Karena kebaikkannya itulah, aku anggap dia sebagai mbak sendiri. Tapi dalam perjalanan apa yang terjadi? Seirama perubahan ibu kota, kami berpisah karena kesibukan masing-masing. Apalagi dia sudah kembali punya kekasih lagi. Bahkan dia sendiri yang meminta, agar aku tak menghubungi dia lagi. Aku masih ingat kata-katanya.
"Mas...aku mohon tak usah menghubungi aku lagi".
"Memangnya kenapa, apa salahku?"
"Mas, gak salah. Aku hanya mohon pengertianmu".
"Baiklah, tapi kalau suatu saat membutuhkan aku, silahkan menghubungi aku"
"Iya...mas! Aku mohon maaf!"
"Ya....!"
Di ibu kota, aku harus menyisihkan peradaban dari kampung halaman tercinta. Bukan apa-apa, tapi aku tak mau tertinggal oleh mereka. Aku tak mau tertinggal akan adanya perkembangan peradaban yang ada.
"Kamu boleh mengikuti perkembangan peredaban, tapi....!" kata temanku yang juga sama-sama dari kampung, dan lebih dulu berada di ibu kota.
"Tapi, kenapa? Salahkah bila aku mengikutinya"
"Kamu gak salah, memang kita harus mengikutinya. Tapi jangan sampai kamu kehilangan jati dirimu sendiri".
"Maksudmu!"
"Kamu harus punya jati diri pada jamannya"
"Ah....kamu semakin ngacau saja!"
"Aku gak ngacau, coba kamu lihat sendiri bagaimana kehidupanku?"
Aku diam
Mungkin benar apa yang dikatakan temanku. Boleh-boleh saja mengikuti perkembangan peradaban. Tapi, jangan sampai kehilangan jati diri. Jati diri sebagai keberadaan di mana titik awalnya diri ada. Dari mana diri ini sebenarnya. Mampukah aku menjaga jati diri, punya jati diri pada jamannya. Sedangkan, setiap hari sedari pagi sampai malam hari. Aku berada dalam lingkungan yang puralisme. Penuh dengan persaingan dan saling mempertahankan kehidupan di ibu kota.
Menyapa ibu kota, menyapa segala kemungkinan yang ada. Aku harus selalu siap menerima segala kemungkinan itu. Seperti hari ini, gerimis mewarnai ibu kota dan aku harus tetap pergi menemuinya. Pasti dia sudah menunggu kedatanganku. Sebenarnya, aku agak malas menemuinya. Tapi, haruskah aku melupakannya, melupakan jasanya. Aku masih ingat, kali pertama yang aku kenal di ibu kota dia, dan dia juga yang mengenalkan ibu kota, kali pertama aku menyapa ibu kota.
Hampir satu bulan aku tak bertemu dia. Kemarin dia SMS, aku diminta datang kerumahnya. Ada apa dan kenapa aku diminta datang. Padahal, dia sendiri yang memutuskan hubungan persaudaraan. Hanya karena salah informasi, dia meminta agar aku tak menghubungi lagi. Kami memang beda suku, beda adat istiadat, walaupun begitu kami saling menerima dan saling menghargai.
Gerimis bukannya reda, malah menjadi hujan yang agak lebat. Kalau aku belum sampai dirumahnya, mungkin aku sudah basah kuyup kayak kucing terjerumus ke dalam selokan.
"Ada apa kok aku diminta datang?" tanyaku langsung tanpa basa-basi sambil mengibaskan rambut basah yang tertimpa hujan.
"Kita berbicara di dalam saja"
Sebenarnya ini bukan rumahnya pribadi. Tapi rumah kontrakan yang berdesakan, tak ada sela antara rumah yang satu dengan yang lainnya. Apapun pembicaraan yang terjadi, tetangga sebelah pasti mendengarkan. Anehnya, biarpun didengar tetangga, kami tak memperdulikan. Karena mereka tak pernah menyoal apa yang terjadi dan dialami oleh tetangganya. Kehidupan begitu individualis sekali.
Di dalam kamar kami berduaan. Tiba-tiba dia menangis, menumpahkan segala kesalnya. Aku dibuat bingung tak kepalang. Ada apa dengannya?
"Sudah.....sudah....sebenarnya ada apa? Apakah aku diminta ke sini hanya diberi tangisan?"
Dia menghela nafas, pandangannya menubruk mataku, dan kami saling berpandangan. Dia menghela nafas lagi.
"Duduk dan tenangkan dirimu. Sebenarnya ada apa?"
"Aku minta maaf, mas!"
"Minta maaf.....aku rasa kamu tak punya salah. Kok tiba-tiba minta maaf!"
"Mas.....!"
Dia menatapku begitu rupa hingga menghujan rasa yang ada. Berlinang air matanya. Di antara sedu sedan tangisnya yang pelan. Dia berkata, mengatakan isi hatinya.
Terus terang, kali pertama bersua, aku sudah tertarik padanya. Apalagi kebaikkannya begitu nyata, dan sudah diberikan tatkala kali pertama menyapa ibu kota. Karena kebaikkannya itulah, aku anggap dia sebagai mbak sendiri. Tapi dalam perjalanan apa yang terjadi? Seirama perubahan ibu kota, kami berpisah karena kesibukan masing-masing. Apalagi dia sudah kembali punya kekasih lagi. Bahkan dia sendiri yang meminta, agar aku tak menghubungi dia lagi. Aku masih ingat kata-katanya.
"Mas...aku mohon tak usah menghubungi aku lagi".
"Memangnya kenapa, apa salahku?"
"Mas, gak salah. Aku hanya mohon pengertianmu".
"Baiklah, tapi kalau suatu saat membutuhkan aku, silahkan menghubungi aku"
"Iya...mas! Aku mohon maaf!"
"Ya....!"
Melintasi Suramadu
melaju di suramadu teringat sahabatku
abah d zawawi imron, fauzi, timur
dan rekan-rekan yang tak mungkin
tersebutkan satu persatu
salamku untuk kalian semua di pulau garam
yang punya cerita begitu seram
melintasi suramadu terbayangkan
andai setiap selat yang ada
menjulur jembatan yang sama
betapa gagahnya negeriku tercinta
melintasi suramadu melintasi jaman
yang semakin penuh ketidakpastian
melintasi budaya sebuah kekayaan
sebagai indentitas yang harus dijaga
dilestarikan pada jamannya
melintasi suramadu melintasi peradaban
jangan sampai menghilangkan
jati diri peradaban sejati
yang kita miliki
abah d zawawi imron, fauzi, timur
dan rekan-rekan yang tak mungkin
tersebutkan satu persatu
salamku untuk kalian semua di pulau garam
yang punya cerita begitu seram
melintasi suramadu terbayangkan
andai setiap selat yang ada
menjulur jembatan yang sama
betapa gagahnya negeriku tercinta
melintasi suramadu melintasi jaman
yang semakin penuh ketidakpastian
melintasi budaya sebuah kekayaan
sebagai indentitas yang harus dijaga
dilestarikan pada jamannya
melintasi suramadu melintasi peradaban
jangan sampai menghilangkan
jati diri peradaban sejati
yang kita miliki
Jumat, 30 September 2011
Seorang Koruptor Masuk Bui
langkahnya guntai terpapah petugas anti korupsi
teriringi langkah pengamanan begitu ketat sekali
menyimpan beribu teka-teki
dalam langkahnya yang guntai
menyebar senyum berarti
pada peliput pencari berita hari
seorang koruptor masuk bui
menerima keputusan sidang tempo hari
bukanlah mimpi buruk yang ditakuti
tapi sebuah kenyataan yang disenangi
karena di dalam bui tak berarti
kebebasannya terbatasi
keiningannya tak terpenuhi
seorang koruptor di dalam bui
kehidupannya makin terjaga sepanjang hari
biarpun tak ke mana pergi
masih bisa memenuhi keinginannya sendiri
bahkan mampu menebar simpati
pada semua penghuni
dengan bermilyar hasil dari korupsi
menerima hukuman baginya bukan mimpi
yang harus ditakuti
yang harus dihindari
karena di dalam bui surga tersendiri
hidup terjaga sepanjang hari
seorang koruptur yang masuk bui
kehidupannya tak terbatasi
seperti pencuri ayam yang masuk bui
malam tidur dilantai tanpa selimut menemani
bagaimana kalau koruptor yang masuk bui?
...^_^...
teriringi langkah pengamanan begitu ketat sekali
menyimpan beribu teka-teki
dalam langkahnya yang guntai
menyebar senyum berarti
pada peliput pencari berita hari
seorang koruptor masuk bui
menerima keputusan sidang tempo hari
bukanlah mimpi buruk yang ditakuti
tapi sebuah kenyataan yang disenangi
karena di dalam bui tak berarti
kebebasannya terbatasi
keiningannya tak terpenuhi
seorang koruptor di dalam bui
kehidupannya makin terjaga sepanjang hari
biarpun tak ke mana pergi
masih bisa memenuhi keinginannya sendiri
bahkan mampu menebar simpati
pada semua penghuni
dengan bermilyar hasil dari korupsi
menerima hukuman baginya bukan mimpi
yang harus ditakuti
yang harus dihindari
karena di dalam bui surga tersendiri
hidup terjaga sepanjang hari
seorang koruptur yang masuk bui
kehidupannya tak terbatasi
seperti pencuri ayam yang masuk bui
malam tidur dilantai tanpa selimut menemani
bagaimana kalau koruptor yang masuk bui?
...^_^...
Do'a Orang Tua
terus mengalir tak pernah berpikir
bagaimana tingkah polah anaknya
yang sekarang sudah berani bercinta
di ruang terbuka metropolita
komat kamit berdoa membentur langit
berharap anaknya tak salah arah
dari tujuan awal meninggalkan rumah
menuntut ilmu jadi manusia ilmiah
siang malam tak hanya do'a dipanjatkan
kerja banting tulang memenuhi kebutuhan anaknya
yang setiap bulan harus dikirimkan
dimana anaknya sedang menjalankan
studi keinginan yang lama disimpan
jadi seorang seniman beneran
jauh jarak hanya berita diterima
anak berkabar benar tidaknya
orang tua hanya mampu menerima
sambil berdoa kepada yang kuasa
kabar anaknya bukan rekasaya
hanya untuk menyenangkan orang tua
do'a orang tua mengalir membasahi waktunya
bukan jaman yang berubah membuat anaknya
lupa pesan orang tua sebelum berangkat ke kota
tuntut ilmu niat utama harus dijaga
komat kamit do'a orang tua
membentur langit terpantul realita
anaknya tak lagi sejalan dengan harapan orang tua
tinggalkan kampung halaman tujuan utama
menuntut ilmu pulang jadi sarjana
bukan jadi orang yang terhina
...^_^...
bagaimana tingkah polah anaknya
yang sekarang sudah berani bercinta
di ruang terbuka metropolita
komat kamit berdoa membentur langit
berharap anaknya tak salah arah
dari tujuan awal meninggalkan rumah
menuntut ilmu jadi manusia ilmiah
siang malam tak hanya do'a dipanjatkan
kerja banting tulang memenuhi kebutuhan anaknya
yang setiap bulan harus dikirimkan
dimana anaknya sedang menjalankan
studi keinginan yang lama disimpan
jadi seorang seniman beneran
jauh jarak hanya berita diterima
anak berkabar benar tidaknya
orang tua hanya mampu menerima
sambil berdoa kepada yang kuasa
kabar anaknya bukan rekasaya
hanya untuk menyenangkan orang tua
do'a orang tua mengalir membasahi waktunya
bukan jaman yang berubah membuat anaknya
lupa pesan orang tua sebelum berangkat ke kota
tuntut ilmu niat utama harus dijaga
komat kamit do'a orang tua
membentur langit terpantul realita
anaknya tak lagi sejalan dengan harapan orang tua
tinggalkan kampung halaman tujuan utama
menuntut ilmu pulang jadi sarjana
bukan jadi orang yang terhina
...^_^...
Rabu, 28 September 2011
Af........Tergenggam Terlepas
Seiring detak waktu bergulirnya roda menggilas peradaban. Perubahan tak mungkin terhindari, dan harus aku terima walau terkadang menimbulkan sesal diri. Af.....tergenggam terlepas tak mungkin bisa diam, tak bergerak, dan aku harus meningkatkan kesabaran, kesetiaan kalau masih ingin bersamanya. Af.....tatkala tergenggam begitu manja, begitu sayang, begitu penuh perhatian, dan menumpahkan segala perasaannya. Tatkala itulah, aku menemukan sebuah ketulusan cinta yang sudah lama terimpikan.
Sayang, tatkala terlepas tak tergenggam. Af.....selalu berpolah yang membangkitkan cemburu dendam, membangkitkan kejengkelan. Aku harus kuat melihat dan menerima apa yang dilakukannya. Walau perasaan terasa tersiksa, tapi aku tak mungkin melarangnya, karena Af....punya hak asasi yang tak mungkin bisa aku ambil paksa. Aku tak mau melarang hak asasi seseorang, walaupun aku harus menahan perasaan yang begitu berat terasakan.
Af......tergenggam terlepas begitu aku rasa selama menjalin tali ikatan, dan tali itu kadang terasa kuat mengikat, tapi kadang terasa longgar yang membuat aku kwatir Af....berpaling ke yang lain, karena banyak kumbang-kumbang lanang yang lebih berharga, yang lebih mapan, yang lebih punya, dan bahkan yang lebih mempunyai sayap untuk terbang leluasa. Sebuah kwatiran yang aku kira cukup beralasan, karena aku hanyalah kumbang lanang yang kurang bisa memberikan kedamaian sebagaimana mestinya. Aku hanyalah kumbang lanang yang hanya bisa berkata cinta, tapi tak bisa memberikan harta.
Tergenggam terlepas, Af.....selalu membuatku penasaran, selalu membuatku tak mengerti dengan apa yang dikehendakinya. Bila tergenggam begitu mesra penuh kerinduannya ditumpahkan. Bila terlepas, selalu menggoda perasaan, dan seakan tak punya konsisten dengan apa yang pernah dikatakan. Af.....ah......!
Sayang, tatkala terlepas tak tergenggam. Af.....selalu berpolah yang membangkitkan cemburu dendam, membangkitkan kejengkelan. Aku harus kuat melihat dan menerima apa yang dilakukannya. Walau perasaan terasa tersiksa, tapi aku tak mungkin melarangnya, karena Af....punya hak asasi yang tak mungkin bisa aku ambil paksa. Aku tak mau melarang hak asasi seseorang, walaupun aku harus menahan perasaan yang begitu berat terasakan.
Af......tergenggam terlepas begitu aku rasa selama menjalin tali ikatan, dan tali itu kadang terasa kuat mengikat, tapi kadang terasa longgar yang membuat aku kwatir Af....berpaling ke yang lain, karena banyak kumbang-kumbang lanang yang lebih berharga, yang lebih mapan, yang lebih punya, dan bahkan yang lebih mempunyai sayap untuk terbang leluasa. Sebuah kwatiran yang aku kira cukup beralasan, karena aku hanyalah kumbang lanang yang kurang bisa memberikan kedamaian sebagaimana mestinya. Aku hanyalah kumbang lanang yang hanya bisa berkata cinta, tapi tak bisa memberikan harta.
Tergenggam terlepas, Af.....selalu membuatku penasaran, selalu membuatku tak mengerti dengan apa yang dikehendakinya. Bila tergenggam begitu mesra penuh kerinduannya ditumpahkan. Bila terlepas, selalu menggoda perasaan, dan seakan tak punya konsisten dengan apa yang pernah dikatakan. Af.....ah......!
Minggu, 25 September 2011
Hanya Sebuah Konsep



OLEH: SITI CHAIRANI
KONSEP STUDI SYAIR
A. TEMA : MERAJUT KATA BERMAKNA MENGAKTUALISASIKAN DALAM PERTUNJUKAN SASTRA
B. PENGANTAR
Berawal dari sebuah kepedulian terhadap kurangnya minat studi syair, dalam arti menyusun atau merajut kata (syair) yang bermakna dan mengaktualisasikan dalam sebuah pertunjukan (performent art) yang ada di kalangan mahasiswa khususnya mahasiswa ISI Jogjakarta, dan masyarakat pada umumnya. Maka perlu adanya sebuah konsep studi syair yang harus dibuat serta dilaksanakan oleh mahasiswa ISI Jogjakarta, untuk menjawab betapa pentingnya studi syair tersebut.
Memang semua orang bisa menulis, apalagi mahasiswa. Tapi tidak semua orang akan mempu membuat tulisan yang baik, tidak semua mahasiswa mampu membuat syair. Apalagi mengaktualisasikan syair/puisi dalam sebuah pertunjukan sastra. Karena tidak semua orang yang mampu membaca atau mengaktualisasikan karya sastra (syair) akan mampu memberikan sebuah pertunjukan yang menarik dan enak dinikmati.
Sudah barang tentu, kesemuanya itu memerlukan proses, memerlukan latihan. Tanpa adanya proses atau latihan. Apa yang akan dilakukan pasti hasilnya kurang maksimal. Begitu juga dalam studi syair, tidak hanya cukup satu atau dua hari saja. Memang untuk memberikan teori hanya cukup satu dua hari, tapi untuk mendapatkan hasilnya harus berani melakukan proses dan latihan yang konsisten. Pantang menyerah dan putus asa, karena studi syair dan apalagi mengaktualisasikannya dalam pertunjukan (performent art).
Untuk sebagai tahap awal sebagaimana terpaparkan di atas. Perlu diadakan workshop sehari yang dilanjutkan dengan pertunjukan sastra, sebagai langkah awal yang harus ditindaklanjuti oleh mahasiswa ISI Jogjakarta khususnya, masyarakat pecinta seni pada umumnya.
C. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan dari kegiatan workshop dan pertunjukan sastra adalah sebagai berikut:
- Menggali potensi kepenulisan mahasiswa dan masyarakat
- Mengapresiasikan syair/puisi lewat pertunjukan sastra
D. TARGET DAN SASARAN
Target dari kegiatan ini adalah keterlibatan seluruh mahasiswa ISI Jogjakarta khususnya, guru bidang studi kesenian, dan masyarakat pecinta seni
E. KONSEP ACARA
Konsep studi syair yang dimaksud adalah sebagai berikut:
- Workshop sehari tentang apresiasi syair/puisi dan sekaligus mempraktekkan menulis syair/puisi, dengan nara sumber seorang penyair/sastrawan.
- Pertunjukan sastra
Peserta workshop membaca syair/puisi, yakni menampilkan karya satra dalam sebuah pertunjukan (performent art)
F. SUSUNAN ACARA
Adapun susunan acara adalah sebagai berikut:
- Workshop Sehari
| Jam | Acara | Penanggung Jawab |
| 07.30 – 08.00 | Registrasi Peserta | Panitia |
| 08.00 – 10.00 | Pembukaan | Panitia |
| 10.00 – 11.00 | Materi workshop | Panitia |
| 11.00 – 12.30 | Praktek menulis syair | Panitia |
| 12.30 - ……… | Evaluasi/Penutup | Panitia |
- Pertunjukan Sastra (Performent Art)
| Jam | Acara | Penanggung Jawab |
| 19.00 – 19.30 | Pembukaan | Panitia |
| 19.30 – 20.00 | Sambutan | Panitia |
| 20.00 – 22.15 | Penampilan | Panitia |
| 22.15 – 23.30 | Evaluasi/diskusi | Panitia |
| 22.30………. | Penutup | Panitia |
G. KEPANITIAAN
Susunan Kepanitiaan adalah sebagai berikut:
Pelindung : ………………………………………..
Penanggung Jawab : ………………………………………..
Ketua Panitia : ……………………………………
Sekretaris : ……………………………………
Bendahara : ……………………………………
Sie Acara : …………………………………….
Sie Publikasi dan Dokumentasi : ……………………………………
Sie Keamanan dan Perlengkapan : ………………………………………
Sie Konsumsi : ………………………………………
H. ANGGARAN KEGIATAN (Terlampir)
I. SPONSHORSIP
Sponsorship sangat diharapkan dalam kegiatan ini, selain meramaikan event sekaligus menjadikan kegiatan ini menjadi makin greget ,heboh dan meriah untuk disaksikan dan kami menawarkan bentuk kerjasama kepada sponsorship
1) Sponshor Tunggal
Apabila menjadi sponsor tunggal dalam rangkaian kegiatan acara ini.akan mendapat bentuk penawaran ekslusif dengan kompensasi pembiayaan 100% dari kekurangan dana yang dibutuhkan yaitu Sebesar Rp. 2.625.000,- , dan dikukuhkan dengan perjanjian tertulis yang tidak dapat diubah tanpa persetujuan kedua belah pihak.adapun kompensasi yang kami berikan. Dengan kompensasi sebagai berikut:
- Sponshor Tunggal akan diberikan stand khusus untuk memperkenalkan produknya.
- Sponshor Tunggal akan diperbolehkan memasang spanduk denagn ukuran 2 x 2 meter dan juga umbul-umbul lembaganya sebanyak 15 buah di tempat penyelenggaraan acara.
- Nama ataupun logo Sponshor Tunggal akan diikutsertakan dalam pembuatan Banner, Kaos panitia, Piagam Penghargaan.
- Pihak penyelenggara menjamin tidak ada sponshor lain selain sponshor tunggal.
2) Sponshor Utama
Sponshor Utama menanggung kompensasi pembiayaan 75% dari kekurangan dana yang dibutuhkan dan dikukuhkan dengan perjanjian tertulis yang tidak dapat diubah tanpa persetujuan kedua belah pihak. Adapun kompensasi yang kami berikan:
- Pencantuman nama ataupun logo sponshor Utama di dalam Banner, kaos panitia maupun piagam lebih besar daripada nama atau logo sponshor biasa.
- Sponshor Utama diberikan satu tempat khusus untuk stand guna memasarkan produknya.
- Sponshor Utama diperbolehkan memasang spanduk ukuran 2 x 2 meter dan umbul-umbul sebanyak 10 buah.
3) Sponshor Biasa
Sponshor biasa menanggung kompensasi pembiayaan dari kekurangan dana sebesar 50% dari kekurangan dana yang dibutuhkan dan dikukuhkan dengan perjanjian tertulis yang tidak dapat diubah tanpa persetujuan kedua belah pihak. Adapun kompensasi yang kami berikan:
- Pencantuman nama ataupun logo sponshor Utama di dalam Banner, kaos panitia maupun piagam.
- Sponshor biasa diperbolehkan memasang umbul-umbul sebanyak 3 buah
J. PENUTUP
Demikian konsep studi syair yang bisa saya kerjakan semoga memperoleh perhatian sebagaimana mestinya
Jogjakarta, 25 September 2011
SITI CHAIRANI
ANGGARAN BIAYA KEGIATAN
A. Kesekretariatan & Administrasi
| No | Uraian | Rupiah |
| 1. | Pembuatan proposal 20 buah @ 10.000,- | Rp. 200.000,- |
| 2. | Stempel 1 buah | Rp. 25.000,- |
| 3. | Publikasi dan Dokumentasi | Rp. 150.000,- |
| 4. | Perijinan | Rp. 200.000,- |
| 5. | Keamanan | Rp. 150.000,- |
| Jumlah | Rp. 725.000,- | |
B. Workshop Sehari
| No | Uraian | Rupiah |
| 1 | Foto copy makalah | Rp. 100.000,- |
| 2. | Sertifikat | Rp. 150.000 |
| 3. | Blok Note | Rp. 150.000,- |
| 4. | Sewa gedung dan kursi | Rp. 500.000,- |
| 5. | Narasumber | Rp. 500.000,- |
| 6. | Moderator | Rp. 150.000,- |
| 7. | Lain-lain | Rp. 100.000,- |
| JUMLAH | Rp. 1.550.000,- | |
C. Performent Art
| No | Uraian | Rupiah |
| 1. | Sound system | Rp. 200.000,- |
| 2. | Sewa pentas | Rp. 400.000,- |
| 4. | Konsumsi
| Rp. 600.000,- Rp. 50.000,- |
| 5. | Lain-lain | Rp. 100.000,- |
| Jumlah | Rp. 1.350.000,- | |
Jumlah total biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 2.625.000,-
Langganan:
Komentar (Atom)

