Kalam

PUASA MENINGKATKAN KESADARAN SPIRITUAL
Setiap datangnya bulan Ramadhan, kita semua umat Islam pasti menyambut dengan gembira, sebab siapapun yang merasa senang dan gembira dengan datangnya bulan puasa, ia diharamkan masuk neraka. Itu berarti di dalam bulan puasa merupakan waktu yang tepat untuk meningkatkan kesadaran spiritual.
Kalau begitu bagaimana sebenarnya bentuk kesadaran yang perlu kita tingkatkan, sebab kesadaran itu sendiri banyak ragam dan jenisnya, ada kesadaran social, kesadaran diri, kesadaran akan ketidakmampuan ataupun kesadaran yang lainnya. Namun di dalam bulan puasa ini yang patut di tingkatkan adalah kesadaran spiritual.
Kesadaran empiris, pada tahapan tertentu, sesungguhnya sangat bagus untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Allah swt sendiri di dalam al-Qur’an berulang kali memerintahkan kita untuk menggunakan segenap panca indera yang dikaruniakan kepada kita untuk bisa memahami dan merasakan kemahabesaran Allah lewat segala yang ada di alam ini.
Bahkan Allah swt sangat mengecam mereka yang tidak bisa menggunakan karunia panca indra ini dengan sebaik-baik dan menyamakan mereka dengan binatang. Sebagaimana firman Allah swt dalam QS al-A’raf ayat 179, yang artinya “Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS al-A’raf ; 179)
Dengan demikian Allah swt sangat menganjurkan agar manusia bisa menggunakan panca indra dengan sebaik-baiknya dalam rangka mencari ilmu dan karunia Allah yang lainnya. Tetapi, hal yang tidak benar adalah apabila segala sesuatu dinilai dari sudut pandang kesadaran empiris. Sebab panca indra manusia pun mempunyai keterbatasan.
Oleh karenanya, di bulan yang penuh rahmat ini, alahkah bijaknya kalau kita tumbuh kembangkan untuk bisa meraih karunia yang hakiki dari Allah swt. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim kepada kita. Beliau menyadari kesadaran rasional dan kesadaran empiris manusia bersifat nisbi dan relatif. Kebenaran yang hakiki hanyalah milik Allah swt. Karena itulah manusia tidak mempunyai jalan kecuali tunduk pasrah sepenuhnya kepada Allah swt, berupa keimanan, keyakinan dan kecintaan kepada Allah swt.
Dalam bulan puasa (ramadhan) dunia spiritual begitu terasa sekali, di mana setiap malam di masjid-masjid dan di  musholla-musholla dikumandangkan ayat-ayat suci. Padahal dunia spiritual adalah dunia sejati. Dunia yang tak hanya transparan tetapi terang benderang.di dalamnya tak ada kepalsuan dan rekayasa. Berada di bawah bimbingan dan petunjuk Sang Penguasa langsung.
Kesadaran spiritual adalah kesadaran terhadap dunia yang demikian. Kesadaran spiritual hanya dimiliki oleh mereka yang mencintai dan dicintai oleh Allah. Orang yang mampu melepaskan dan membebaskan dirinya dari semua ikatan kesadaran rasional dan empirik. Orang demikian memiliki sekurang-kurangnya empat hal: pertama, memiliki tingkat kepasrahan total kepada Sang Penguasa. Kedua, memiliki kesabaran terhadap segala bentuk ujian yang paling berat sekalipun. Ketiga, membenarkan dengan ainul yaqin – bukan hanya ‘ilmul yaqin – seluruh isyarat dan ajaran agama Sang Penguasa alam semesta dan, keempat, mengabdikan diri kepada Allah secara total sampai seakan-akan melihat Allah.
Untuk bisa sampai kepada kesadaran spiritual, tentu saja bukanlah satu perkara yang mudah. Perlu proses dan membutuhkan perjuangan yang tanpa menyerah, gigih dari diri kita untuk bisa benar-benar memiliki kepasrahan yang total, keyakinan dan kecintaan kepada Allah, kesemuanya itu kunci utamanya ada pada hati kita.
Begitu banyak ayat dan hadits nabi SAW yang menunjukkan betapa pentingnya usaha untuk menjaga dan membina hati agar selalu berada di bawah naungan hidayah Allah. Rasulullah SAW sendiri pernah menegaskan melalui sabdanya, yang artinya “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu bagus akan seluruh tubuh akan bagus,sebaliknya jika ia rusak maka rusak juga seluruh anggota tubuh. Segumpal daging itu adalah hati” (Mauttafaq ‘alayh).
Oleh karena itu, dalam kesempatan yang sangat membahagiakan ini, apalagi di dalam bulan ramadhan yang penuh rahmat dan hidayahNya, bulan yang penuh pengampunan, marilah mencoba dan belajar meningkatkan kesadaran spiritual dalam diri kita dengan tarus manata hati, menghilangkan ego kita dan memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah sehingga dengan demikian kita berharap agar Allah swt berkenan untuk terus menerus membimbing kita untuk menemukan kebenaran yang hakiki yang akan mengantar kita kepada kebahagiaan di dunia ini, terlebih lagi di akhirat  kelak.****