Apa yang kau kata mungkin benar adanya. Karena kau hanya melihat kulitnya saja. Kau hanya melihat aku bekerja dan dia bekerja. Kalau kau tahu dalamnya, mungkin kau tak akan mau memandangku, dan bahkan mungkin kau tak mau menjadi tumpuhan hatiku yang selama ini gersang.
Ah....berat sebenarnya aku bercerita hal ini. Tapi, demi kekecewaan agar tak terjadi menimpa dirimu. Rasa berat itu aku letakkan, dan aku akan bercerita, siapa aku sebenarnya? Di balik aktivitasku bekerja sebagai pegawai rendahan, mengajar di sebuah perguruan swasta, dan tak lupa menulis setiap hari. Kalau kau punya anggapan gajiku berlebih, itu wajar dan masuk akal, aku tak menyalahkan.
Tapi, kau tak tahu kalau gaji itu sudah aku hutang dulu, di mana setiap bulan aku hanya menerima sisa-sisa hutang, dan itupun belum cukup untuk membayar hutang di koprasi. Padahal setiap bulan aku harus membayar rekening listrik, rekening koran, juga tak lupa pulsa merupakan kebutuhan yang tak mungkin aku abaikan. Sedangkan gaji dari yayasan di mana aku mengajar tidaklah terlalu besar, karena di yayasan itu aku mengabdi, dalam arti untuk mengembangkan diri. Beramal harta aku tak punya, beramal ilmu itu yang aku bisa.
Sedangkan gaji dia, mana aku berani minta, mana aku berani tanya. Bahkan dia malah minta aku. Padahal sudah aku jelaskan, kalau gajianku mens dalam arti untuk membayar utang saja belum cukup. Itulah sebabnya, kami sering diam dan bahakan sering bertengkar karena dia tak mau mengerti. Dia tak mau tahu, bagaimana aku mencari kekurangan setiap bulan. Aku sendiri tak tahu, dan bahkan mengeluh bertanya dalam hati, "itukah perempuan sholikhah". Ah...kalau aku cerita dia, mungkin kau tak percaya, kalau dalam pelayanan asmara dia begitu dingin. Bahkan aku tak menemukan cinta lagi didirinya.
Yang kau lihat kulitnya, kalau kau tahu dalamnya, mungkin kau tak percaya. Tapi aku berkata jujur dan setulusnya. Aku tak peduli, setelah kau tahu siapa aku sebenarnya, lalu pergi meninggalkan aku, aku tak peduli. Karena aku memang tak pantas untuk dikasihani. Kau jangan salah persepsi juga, beranggapan aku ingin merendah diri. Soal kau percaya atau tidak apa yang aku katakan, itu terserah kau sendiri.
Memang aku punya gelar, tapi apalah artinya sebuah gelar, kalau aku tak mampu membuktikan gelar itu sendiri. Gelar yang aku tempuh dengan mencari pinjaman uang ke sana kemari yang sampai saat itu belum terbayar, dan entah kapan terbayar. Tapi aku percaya, aku pasti akan mampu membayar, walau sekarang menahan rasa malu karena banyak hutang.
Secuil ceritaku sebenarnya, aku tulis sejujurnya. Kalau kau tak percaya, tak apa. Aku memang tak perlu kepercayaan itu. Aku apa adanya, ada ya ada, tak ada ya tak ada. Aku tak mau mengada-ada. Aku tak peduli apa yang akan terjadi, setelah kau membaca ceritaku ini. Karena aku sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjelek. Biar kau tak selalu beranggapan berlebih, dan mau menerima aku apa adanya, kalau itu kau menerima. Kalau kau tak mau menerima, aku sudah siap juga.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar