Rabu, 24 November 2010

Cerpen


Negeri Apa Ini
Oleh : Syt  Ethex

Kenapa dia datang, dan dari mana dia tahu, kalau aku seorang penulis yang suka menulis kebrobrokan negeri ini tapi tak pernah berani mengirimkan tulisan ke koran ataupun majalah. Karena aku punya kenyakinan, pasti tak ada satupun koran maupun majalah yang akan berani memuat tulisan-tulisanku.
Siapa yang memberitahu dia? Kalau aku suka bermain petak umpet menyembunyikan aktifitas, di mana menjadi pengajar, menjadi pengajar yang benar-benar pengajar, menjadi penulis yang benar-benar penulis, menjadi apapun totalitas sesuai dengan ruang dan waktunya. Padahal semua itu aku masih belajar, dan belum mampu ataupun belum dikatakan professional sebagaimana mestinya.
Ukuran professional, standarisasi professional ataupun apa namanya. Mungkin benar apa yang dikatakan dia.
“Negeri apa ini?” setelah basa-basi dan memperkenalkan diri, dia bertanya dan pertanyaan itu mengusik nasionalismeku. Betapa tidak, dia sudah tahu kalau negeri ini adalah negeri A. Kenapa masih bertanya, negeri apa ini? Apa dia tak membaca pintu gerbang masuk negeri ini? Bukankah di pintu gerbang itu tertulis besar nama negeri ini.
Sebagaimana setiap masuk wilayah kabupaten maupun kota, selalu tertulis nama kabupaten atau kota yang akan kita masuki, dan bahkan mau meninggalkan sebuah wilayah kabupaten, mata pasti membaca selamat jalan dan terima kasih atas kunjungan saudara. Tapi kenapa dia bertanya, dan pertanyaan itu bernada menghina.
Tanpa aku pinta, dia menceritakan tak hanya sekali ini datang ke sini. Tapi sudah beberapa kali, itulah sebabnya dia sangat paham dan paham sekali apa yang terjadi di negeri ini. Aku sendiri tak mungkin membela diri, walau sebenarnya rasa nasionalismeku terusik. Karena apa yang dikatakan mengandung kebenaran yang tak mungkin aku sangkal, apa yang dikatakan merupakan kenyataan yang sering aku liat, aku dengar, dan aku baca.
Segelas teh sudah tandas, sepiring camilan sudah tak tersisa, tapi dia belum pulang saja, dan masih bersemangat menceritakan pengalamannya. Aku liat jam di dinding, sudah hampir dua jam aku menemani dia. Sesekali dia menyapu ruangan tamu dengan pandangan mata penuh selidik.
“Itu lukisannya siapa?”
“Seorang teman, kebetulan hadiah dari teman”
“Goresannya cukup berani!” gumannya lalu mempertanyakan ketidakberanianku mengirimkan tulisan-tulisan ke media massa.
Aku katakana padanya, bahwa aku bukan penulis, aku bukan penyair. Aku hanya manusia pada umumnya. Tapi dia tak percaya, dan bersikeras dengan anggapannya. Dasar orang sinting, kataku dalam hati. Apa dia tak tahu, kalau minat baca negeri ini juga amburadul. E…ternyata dia tahu juga, kalau negeri ini suka membuat peraturan dan peraturan itu dilanggar sendiri.
Dia begitu heran, dengan mimiknya dia mengatakan apa yang terjadi di negeri ini. Negeri yang sebenarnya gemah ripah loh jinawi, murah sandang murah pangan, tapi kenapa banyak rakyatnya yang keleparan, hidup dalam kesulitan dan kesusahan. Rakyat hanyalah atas nama untuk melanggengkan kekuasaan. Aneh dan aneh sekali, kenapa rakyatnya mudah dimanipulasi, hanya dengan lembar bernilai mereka mudah digerakkan ke sana ke sini.
Lihat itu demo yang terjadi, mereka bukan demo murni sebagaimana pada saat terjadinya reformasi, di mana mahasiswa saling bahu membahu menumbangkan rezim tertentu, dan ingin membuat rezim baru yang sekarang sudah mereka nikmati. Sebuah rezim yang tak jauh berbeda, di mana korupsi masih meraja dan makin menjalar ke mana-mana. Di mana banyak raja-raja kecil berkuasa di daerahnya, dan tak begitu peduli pada pusat pemerintahannya sendiri.
Mungkin benar apa yang dikatakannya. Mengacu pada cerita temanku sendiri, yang beberapa minggu lewat telah menggerakkan warga kampungnya, berdemo ke pabrik yang berdiri di wilayahnya. Temanku membuar skrenario dan bahkan sebagai sutradara bagaimana agar warga saling bermusuhan. Ada kelompok yang membela berdirinya pabrik, tapi ada warga yang menolaknya. Padahal, itu hanya sebuah permainan dengan tujuan pabrik tersebut memenuhi tuntutan warga sekitarnya.
Disinilah sebuah korelasi yang mungkin dibenarkan adanya, dan sehingga aku tak mungkin menyeangkal apa yang dia katakana. Bahwa di negeri ini kepastian hukum belum ada sebagaimana mestinya. Undang-Undang yang terdiri dari beberapa pasal mudah dipermainkan. Seorang pencuri buah semangka atau papaya disidangkan begitu rupa. Sementara itu koruptor berlenggang kangkung, menikmati persidangan demi persidangan yang pada akhirnya menguras keuangan negara saja.
Para hakim dan jaksa dibayar untuk bermain undang-undang, begitu juga yang lainnya. Aneh, aku heran dan heran sekali, apa yang terjadi di negeri ini. Terus terang, biarpun aku bukan warga negara negeri ini, aku sangat cinta negeri ini. Tapi kenapa semua rakyatnya diam, dan seakan-akan membiarkan negerinya hancur berantakan.
Apa yang dibicarakan begitu menohok dan sangat menyinggung perasaanku. Tapi aku tak mampu berbuat, karena yang dibicarakan merupakan kenyataan yang ada, dan bahkan aku rasakan selama ini. Memang aku sering menulis tentang negeri ini, negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi, murah sandang, ternyata sebagian besar rakyatnya hidup dalam kesusahan yang tak berkesudahan.
Sudah hampir dua jam lebih dia bertamu, tapi belum juga ada tanda-tanda pamit, dan bahkan semakin ngelantur pembicaraannya. Sebagai tuan rumah yang bijak, aku tak mungkin mengusir seorang tamu tanpa alas an yang jelas, atau tanpa ada keperluan yang jelas. Memang wajah istriku sudah sungut-sungut merasa gerah dengan adanya dia. Tapi aku berusaha menyabarkannya, dan aku katakana bahwa dia temanku lama, yang lama tak ketemu, karena dia pergi ke luar negeri mencari dolar karena merasa kerja di dalam negeri tak sebanding dengan ilmunya yang dimiliki.
Aku baru tahu kalau dia teman lama yang sudah lama tak ketemu, setelah dia menyinggung kebiasaanku sewaktu sekolah di SMA. Di mana pada masa SMA aku suka berebut cinta dengannya, satu cewek dijadikan semacam lomba, siapa yang dapat duluan, dialah yang menang, dan di antara aku dan dia selalu sepakat bermain tak curang. Wow…begitu asik kalau mengenang masa SMA, masa yang penuh dengan cerita cinta.
Nah…kau tahu siapa aku, jadi salahkah bila aku mengatakan, “Negeri Apa Ini”, sejak dulu sampai sekarang belum merdeka sungguhan. Ah..aku tak mau menyangkal apa katanya, lebih baik aku biarkan saja dia menumpahkan kekesalannya terhadap negerinya sendiri.***

Kamis, 18 November 2010

Cerpen


DESEMBER
Oleh : Syt  Ethex

Kenapa kau selalu takut dengan datangnya desember? Apakah ada sesuatu yang mengkwatirkan, sehingga kau selalu takut dengan datangnya desember? Atau itu hanya caramu saja untuk memberi tanda akan bertambahnya jumlah angka tahun dari 2010 ke 2011, begitu seterusnya.
Tepian jalan masuk kota, di pinggir-pinggir pasar dan alun-alun setiap kota sudah sedia terompet-terompet beraneka warna dan berbentuk gaya yang menggoda mata. Dan kau selalu berkata, terompet-terompet itu datang selalu pada bulan desember. Desember seakan-akan menjadi bulan yang penuh dengan terompet-terompet yang menunggu pergantian sebuah tahun, dan selalu menjadi tanda, kalau setiap pergantian tahun tanpa adanya terompet tak akan sempurna.
Desember juga kau hubung-hubungkan dengan hujan yang selalu mengguyur bumi, banjir bandang dan setiap akhir tahun selalu terjadi becana yang menurutmu sebagai peringatan bagi manusia. Mungkinkah itu semua hanya kekwatiranmu belaka, kekwatiranmu karena secara tak sadar sisa-sisa usiamu semakin berkurang saja.
Pada tahun lalu, malam tahun baru, kau larang aku ikut konvai ataupun membeli terompet, dan kau mengajak aku menepi menghindari kemaramian yang sedang terjadi. Aku masih ingat, kau selalu menyediakan kopi kesukaanku dan tak lupa rokok kegemaranku. Aneh…kenapa kau selalu menyoal bulan desember sebagai bulan yang membuatmu tak tenang, membuatmu gelisah.
Tapi bulan desember ini kau nampak berubah dan kelihatan tenang-tenang saja. Mungkinkah kau sudah menemukan jawaban, atau setidaknya sudah memperoleh apa yang selama ini kau cari. Aku jadi penasaran dan ingin tahu, kenapa desember tahun ini kau nampak tenang-tenang saja. Ada apakah sebenarnya?
Sementara itu, desember tahun ini aku yang mengalami kegelisahan yang memuncak. Aku harus menghadapi beberapa tanggungan, memasukkan data-data laporan akhir tahun, dan data-data itu menusuk-nusuk mata hingga nanar rasanya, dan aku tak mungkin menghindarinya. Mungkin ini salah satu konsekwensi yang harus aku hadapi, dan harus aku terima apa adanya.
Ternyata, bukan aku saja yang harus menghadapi bulan akhir tahun dengan kerepotan tersendiri. Bahkan pada umumnya, kita semua mempunyai urusan sendiri-sendiri di mana pada bulan akhir tahun selalu menjadi bulan yang penuh dengan harapan. Harapan di mana pada tahun yang akan datang lebih baik dari tahun yang sudah dijalani.
Aku tahu, kau punya cara tersendiri dalam mengisi bulan akhir tahun. Dan aku tak mungkin mengikuti caramu, karena aku punya cara sendiri dalam bulan akhir tahun. Apalagi akhir tahun ini, aku mempunyai agenda dan ingin memenehi mimpi yang selama ini aku rasa. Rasa itu adalah rinduku pada seorang wanita yang jauh di sebrang samudra. Samudra yang selalu ada ombak atau gelombang yang setiap hari selalu menjadi persoalan tersendiri.
Bahkan wanita itu tadi malam menelpon aku, mengharapkan dan sangat mengharapkan aku datang mengobati rindu yang mendera dirasakan. Haruskah aku mengikuti acaramu? Selain itu, desember tahun ini aku harus melunasi segala piutang yang belum tentu mampu aku atasi. Kau memang sangat beda, dan mengelami perubahan signifikan, tak lagi ada rasa kwatir dengan akhir tahunmu.
Aku sendiri sebenarnya takut dengan datangnya desember, bulan akhir tahun yang setiap tahun selalu terjadi perhitungan diri untung rugi dalam menjalani kehidupan ini. Apalagi tahun yang akan berlalu masih penuh tanggungan yang harus aku selesaikan, dan tak mungkin kelar sehingga menjadi perekjaan yang menambah beban di tahun yang akan datang. Dengan sendirinya, pekerjaan tahun ini yang belum selesai, menjadi pekerjaan tahun yang akan datang.
Padahal, tahun yang akan datang pasti ada kerjaan baru yang harus aku hadapi, kalaupun aku masih diberi ruang dan waktu untuk menghadapinya. Sebab aku tak tahu, apakah masih ada waktu yang diberikan padaku. Untuk itu aku selalu memohon padaNya, agar memperpanjang waktuku sehingga mampu menghadapi serta mengatasi persoalan yang harus aku hadapi.
Kau tentu tahu, kalau aku punya urusan sangat pribadi dan rahasia sekali. Bukan hanya tentang si dia perempuan yang berkenan member perhatian padaku. Tapi soal lain yang tak mungkin aku sampaikan padamu, dan persoalan itu biarlah aku nikmati sendiri. Aku tak mau orang lain, dan bahkan si dia perempuan yang selalu bersamaku tak akan kuberi tahu. Karena aku tak mau orang lain ikut merasakan apa yang sebenarnya aku rasakan.
Desember, ya…desember bulan akhir tahun yang membuat aku dank au bingung, dan bahkan tak hanya aku dan kau saja yang bingung, tapi semua manusia menjadi bingung.***