Kisah Mereka
Oleh: Syt Ethex
Lewat media televisi atau koran aku mengetahui kisah mereka para buruh migran. Para pejuang devisa negara yang harus melawan kerinduannya. Suka duka mereka bergitu berwarna. Kebetulan lewat pertemanan di dunia maya, salah satu buruh migran atau TKW yang ternyata mempunyai kreatif, meminta aku menjadi juri lomba menulis surat kerinduan.
Wow…menarik sekali kisah mereka. Penuh liku perjuangan yang panjang. Ternyata mereka punya dedikasi yang tinggi, dan patut diapresiasi. Baiklah, akan aku ambilkan beberapa kisah mereka yang ditulis dengan gaya mereka. Sebagaimana yang ditulis oleh Fitri Ermasari, TKW dari Lampung, dan aku tak akan menambah atau mengurangi tulisannya. Tapi tak semua tulisannya aku tampilkan.
Siang tadi aku ketemuan dengan kakak seorang teman. Mbak elza namanya. Seperti biasa jika sudah bertemu dengan kawan lama pasti kita akan berbincang-bincang berbagai informasi bermanfaat. Benarlah, dia datang membawa info yang aku juga membutuhkan yaitu informasi tentang tempat perkuliahan. Selang waktu beberapa minggu kebetulan akan di adakan seminar pembukaan mahasiswa baru (PMB), ternyata aku tertarik , lalu akupun mendaftarkan diri di universitas yang ada di “sheung wan” itu. Pada hari itu juga aku daftar.
Kali ini aku lebih sibuk dengan aktifitas belajarku yang mulai padat dengan tugas-tugas perkuliahan, ku akui semangt belajarku adalah semangat 45, semangat pahlawan tempo dulu. Aku sangat rajin dan terus bersemangat tak mengenal kata lelah dalam kamusku. Berprofesi kerja segai pekerja rumah tangga dan di sambil kuliah, seperti pribahasanya” menyelam sambil minum air”. Sudah selama kurang lebih empat bulan aku melakukan aktifitas seperti ini. Sunggh aku sangat senang dan menikmati hari-hariku penuh makna.
Tiba-tiba,” Utinnn…!” Suara itu menggelegar layaknya suara Guntur pertanda akan turun hujan lebat. “ sedang apa kamu di kamar?’ Tanya nyonya kepadaku. Aku tersentak sangat kaget dan sedikit tidak mengerti, kenapa majikanku tiba-tiba buas layaknya seekor harimau yang siap menerkan mangsanya.
“ Iya, nyonya ,, saya sedang membaca buku di kamar”. Jawabku dengan halus.
“Apa kamu bilang kamu sedang membaca buku? Apakah semua pekerjaanmu suda kamu bereskan? “ Tanyanya dengan sambil melotot ke arahku.
“Sudah nyonya semua pekerjaanku sudah aku bereskan, tidak satupun pekerjaan yang belum aku kerjakan, aku sudah membereskan semuanya. Jawabku penuh rasa percaya diri.
“Baiklah, mulai sekarang aku aku tidak mau melihatmu duduk santai di kamar membaca buku lagi titik, Owww… atau jangan-jangan kamu disini sambil belajar yaa??? Kamu hrus berhenti belajar, kamu disini kerja kamu tak ku izinkan menuntut ilmu meskipun kamu sudah membereskan semua pekerjaanmu.” Itulah yang di katakana oleh nyonyaku padaku.
“Dan satulagi yang harus kamu dengarkan, mulai minggu depan kamu libur hari kamis”. Ya Allah…mimpi apakah aku semalam?, aku tertegun semakin tak mengerti akan sesuatu yang sedang terjadi ini.
“GELEGARRR…! Suara itu menggelegar bagai Guntur pertanda akan turun hujan yang sangat lebat. Awan berubah menghitam kelam.
“Subhanallahh… “Ya Allah… aku terus saja menyebut asma Allah.
Aku kembali kekamarku sembari menangisi nasibku yang di larang belajar, ku lihat keluar kamar dari arah jendela,,dan memang benar langit begitu mendung dan mulai menghitam, seolah-olah menjadi saksi bisu kisahku di negri paman “ Jacky” ini. Menjadi saksi suara yang sengaja mematahkan semngat hidupku. Sungguh aku sangat sedih. Aku sakit hati dengan perkataan nyonyaku, aku ingin brontak, tetapi aku tak bisa melakukan itu, jika aku lakukan hal itu aku pasti akan di pecat dan aku tak bisa mengirim uang untuk keluargaku. Aku ingin pulang saja rasanya. Aku sangat merindukan kalian ,,,duhai bapak, ibu , adek,,,mbak utin kangenn.
“PLETAKKK…!
Sesuatu telah jatuh dari atas ke lantai, ternyata, sebatang pensilku yang jatuh ke lantai. Aku terus menatap pensilku itu, seolah-olah pensil itu bicara sesuatu padaku, tanganku mulai terasa kelu, dengan sekuat tenaga aku berusaha mengambilnya kembali pensil itu dan menggenggamnya erat-erat. “ tidak ada yang boleh menghalangi ku untuk mewujudkan cita-cita dan keinginanku untuk belajar. Aku harus mampu bertahan dalam situasi yang bagaimanapun demi mimpiku dan juga nasib keluargaku. Aku memang tidak berdaya karena larangan itu, merupakan peraturan baru yang harus aku patuhi dan menyakitkan hati. Aku tak boleh patah semangat. Aku harus menjadi kuat sekuat batu karang yang tak akan tergoyahkan saat di terjang badai. Toh…masa kontrakku hanya kurang beberapa bulan saja. Biarlah aku bersabar dulu, sampai masa itu tiba”. Aku berbicara sendiri dengan hati kecilku.
Keesokan harinya, setelah kejadian itu berlalu, saat pagi kembali terbelalak di mataku, seperti biasa aku mengecheck HPku, apakah ada pesan yang masuk untukku baca dan dari siapa. Biasanya sii ada sms dari ibu dan adekku. Terlihat ada satu pesan masuk di HPku, ku arahkan kursor untuk membuka pesan itu, klik “ Kak… Andri kangen kak Utin, kak Utin kapan pulang? Andri sedang sakit kak, kepala Andri kumat lagi, pusingggg,,,sekali kak rasanya, Andri pengen di temenin kak Utin terus…” begitulah bunyi pesan untukku pagi hari yang masih buta ini. Andri memang sejak kecil selalu dekat denganku ketimbang sama si “Dian”da juga ibu.
“Subhanallah… gustiii,, jangan engkau berikan aku cobaan di luar batas kemampuanku.” Aku mohon ya Rabb…biarkanlah cukup aku saja yang merasakan sakit ini, rindu yang teramat dalam sedalam lautan api, aku ingin adek-adekku semua bahagia”. Keluhanku pada sang Khalik.
Langsung saja aku menelpon Andri supaya kangenya sedikit berkurang. Aku memberinya pengertian yang lebih lagi padanya,
“ Andri, andri jangan banyak mikirin hal yang membuat Andri sakit kepala yaa, mbak Utin juga kangen banget padamu, kamu yang sabar ya dek, kaka janji akan cepat pulang, Andri berdo’a memohon kepada Allah yaa supaya waktu ini berjalan dengan cepat dan mbak Utin bisa menemanimu setiap waktu, terus menjagamu. Setelah telpon ditutup aku menghampiri sebuah cermin, aku melihat wajahku disana dan bekata pada diriku sendiri.”Cita aku masih disini, walau semua bagai duri benalu dihidupku.” Aku berkata kepada cermin lalu aku membayangkan wajah ayah, ibu dan adikku, dan bergumam kembali. “Tapi untuk kalian, aku masih disini untuk mengejar cita”. Kini aku semakin mantab terlebih wajah adikku hadir kuat dalam benakku dan aku kembali dengan mantab berkata pada cermin. “Tidak ada aral untuk itu, melintangpun akan kuterjang, Karena aku mencintai kalian.”
Bagaimana Fitri memperjuangkan dirinya, memperjuangkan keinginannya, dan bagaimana kerinduan Fitri kepada kedua orang tuanya. Semangat Fitri begitu menyala. Begitu juga dengan tulisan Atieq Ilham, menceritakan keriduannya yang mungkin tak jauh berbeda dengan apa yang dialami Fitri. Hanya cara penyampaiannya yang berbeda. Baiklah, ini secuil kisah Atieq Ilham.
Drett... Drett... Drettt...Hand phone-ku bergetar lembut, memberi aba-aba bahwa ada sms masuk. Cepat-cepat aku membukanya. Takut sms penting. Benar saja, ketika kubuka tertera nama Ayah di inbok messege. Memberitahu bahwa Ibu sakit.
Kupercepat langkahku, agar Aku bisa sampai rumah dengan cepat, Aku tak mau menelfon dijalanan, karna biasanya suara disebrang sana terdengar kecil disebabkan bisingnya suara mobil yang bersliweran. Sesampai di rumah buru-buru Aku langsung menelfon Ayah.
Kupercepat langkahku, agar Aku bisa sampai rumah dengan cepat, Aku tak mau menelfon dijalanan, karna biasanya suara disebrang sana terdengar kecil disebabkan bisingnya suara mobil yang bersliweran. Sesampai di rumah buru-buru Aku langsung menelfon Ayah.
" Bagaimana keadaan Ibu, Ayah?" tanyaku penuh kekawatiran. Ketika kudengar suara Ayah menjawab telfonku. Dipelupuk mataku spontan berkeliaran wajah Ibu. Rindu sekali Aku dengan seraut wajah Ibu yang mampu memberi kesejukan.
" Ibu tak apa-apa Wid, hanya kelelahan saja." jawab Ayah di sebrang. Namun entah mengapa naluriku tidak berkata demikian.
" Ibu tak apa-apa Wid, hanya kelelahan saja." jawab Ayah di sebrang. Namun entah mengapa naluriku tidak berkata demikian.
" Tolong Ayah, katakan yang sejujurnya." pintaku karna kutahu, andai Ibu hanya kelelahan pasti Ayah tidak mengabariku.
" Eeeee iya Wid itu, ehmm, anu, kemarin Ibu pingsan. Tubuhnya panas sekali tapi anehnya Ibu merasa kedinginan." jelas Ayah dengan terbata-bata. Hatiku seakan ditikam sembilu mendengar penjelasan Ayah tentang kesehatan Ibu yang akhir-akhir ini memang sering terganggu.
" Ayah, tolong Ibu dibawa kerumah sakit. Aku tak ingin terjadi sesuatu atas Ibu" pintaku dengan nafas tertekan.
" Iya Wid, ini juga sedang di Rumah Sakit. Hanya saja biayanya masih kurang."
" kurang berapa Ayah? Nanti Widi kirim, yang penting Ibu lekas sembuh. Seberapa besarpun biaya Rumah sakit tidak apa-apa. Pasti akan kutanggung yang penting Ibu sehat." kataku pada Ayah.
Mempertegas agar ayah tak perlu risau tentang biaya. Lalu Ayah menyebut nominal angka untuk persiapan perawatan Ibu selama di Rumah Sakit. Sebenarnya Adi, adik laki-lakiku yang kini telah menjadi pengayom masyarakat telah mengirimi Ayah uang, namun menurut penjelasan Ayah, uangnya tak mencukupi.
Sebelum Ayah mengakhiri telfonnya Ayah juga bercerita, katanya Ibu terlalu risau memikirkan statusku yang masih melajang diusia yang lebih dari seperempat abad. Aku tertegun nelangsa mendengar penjelasan Ayah. Bukan aku tak ingin menikah. Tapi cita-citaku masih tertinggal disini, di negri beton ini. Tinggal selangkah lagi aku bisa menggapainya Aku hanya meminta Ayah untuk menyampaikan pesan pada Ibu agar beliau bersabar.
Begitulah kisah Atieq Ilham yang harus menerima kabar dari keluarganya. Jauh dirantau di negeri orang, Atieq Ilham harus berjuang melawan kegelisahannya terhadap orang taunya yang sedang mengalami sakit, dan dimana biaya berobat harus Atieq Ilham tanggung. Disinilah sebuah perjuangan anak manusia. Begitu juga dengan Haruka Azary, bagaimana Haruka Azary akhirnya menyadari kekeliruannya tentang ibunya sendiri, dan Haruka Azary sadar setelah mengikuti sebuah pengajian.
Suatu hari, sahabatku santi mengajakku untuk mengikuti sebuah pengajian yang di selenggarakan oleh sebuah organisasi muslimah. Aku turut ia, kami duduk di barisan ke lima dari depan.
Seorang ustadz muda berpakaian gamis warna abu-abu memulai tausyahnya yang di lanjutkan dengan acara dzikir mengenang jasa orangtua. Entah setan mana yang merasuki hati ini hingga memaksanya untuk menangis demi mendengar bait-bait kalam do’a yang di lantunkan oleh ustadz yang masa itu tak ku ketahui nama dan asalnya.
Ada setetes embun yang menelusup masuk membasahi rongga dadaku, walau hanya setetes namun ia sungguh telah membuat jantung ini terasa sesak untuk bernafas.Hatiku bergetar, ustadz itu telah membuat hati yang sekeras batu menanam kebencian pada adik dan ibu luruh dan cair laksana es yang tersengat hangatnya mentari.
“Ibu maafkan anakmu karena selalu berburuk sangka” Mungkin jalanku yang sesak dan sempit dalam mencari rezeki di negeri orang( waktu itu macau) karena Allah tak redho sebab aku menanam kebencian pada ibu”Redho ibu sama dengan redho Allah, murka ibu sama dengan murka Allah”
Ah betapa bodohnya aku, bukankah hidup, mati, rezeki,kesehatan dan jodoh di tangan Tuhan. Mungkin jodoh adikku lebih dekat berbanding aku. Aku menyesali segala apa yang telah aku sangkakan pada mereka.
”Tuhan ampuni hambamu yang dhoif ini, ibu maafkanlah putrimu yang durhaka ini, adik semoga engkau memiliki keluarga yang sakinah mawadah warrahmah”
Dengan tersungkur dan penuh rasa rindu yang telah menjelma dalam relung hatiku yang terlalu dangkal ini, ku paksakan diri untuk bertanya kabar pada bunda melalui ponsel.
Sungguh hati terkejut dan tak tahu apa yang harus ku lakukan kecuali menangis sejadi-jadinya.Allah memberi ujian yang berat padaku. Ibu wanita yang sempat ku benci sekian waktu tengah berjuang melawan sakit hingga membuatnya terbaring tak berdaya di pembaringan lantaran ia sudah tak sanggup berjalan lagi, padahal menurutnya ia hanya sakit demam.
Tiada yang mengurusnya,ayah tengah mencari rezeki keluar kota, dua adik bungsu sekolah, adik lelaki pun tinggal di luar kota, sementara adik perempuan yang telah menikahpun harus mengurus mertuanya”Ya Allah berilah ibu kekuatan dan umur yang panjang agar aku bisa menghapus rindu ini, aku tahu, engkau maha penentu setiap garis kehidupan di muka bumi ini.
“Ya Allah, hamba tahu mungkin hamba terlalu buruk untuk meminta pada-MU, namun kiranya engkau izinkan, dan berilah peluang untuk menebus salah hamba pada ibunda”
Di dunia ini aku hanya memiliki mereka, jika bukan pada mereka, lantas pada siap kelak aku akan mengadu dan meminta selain pada Yang Maha Kuasa. Hanya suara yang terkadang terputus-putus lantaran koneksitas tidak bagus, ku tuang sekeping rindu pada keluarga tercinta di tanah air nun jauh.
Lewat sepoinya angin kadang aku berbisik” masihkah kami di beri peluang untuk bertemu dan melepas rindu yang terajut dalam bingkai waktu?” Aku tahu kita sebagai umat manusia tak bisa melawan takdir, namun biarlah dalam tiap baris do’a yang ku panjat aku selipkan sepatah dua patah do’aku pada bunda dan keluarga nun jauh di seberang samudra,Semoga suatu hari nanti kami akan segera bersua untuk melepas rindu, Rindu yang sesungguhnya tertanam di relung hati namun tak pernah aku mengakuinya.
Begitulah kisah mereka penuh dengan warna, keriduan mereka begitu terasa, apalagi menjelang menjelang hari lebaran, tentu mereka akan semakin rindu, ingat kampong halamnnya, ingat sanak sauradaranya, terutama ingat pada kedua orang tuanya. Kisah mereka memang begitu pelik sekali, disisi lain mereka pejuang devisa negara, tapi disisi lain mereka kurang mendapat perhatian dari Negara.***
Bukit Itu Menunggu Waktu
Oleh : Syt Ethex
Setiap hari suara bego mengusik ketenangan, hilirmudik dam truk memecahkan jalan desa. Pemandangan yang dulu rindang, bukit yang dulu tegak gagah perkasa, menunggu waktu saja. Bukit itu menunggu waktu, yang tak lama lagi akan menentukan keberadaannya. Keberadaan bukit itu ada ditangan-tangan perkasa yang setiap hari menggali tanah dasarnya. Galian tanah di bukit itu sudah menjadi lubang-lubang yang dari kejauhan nampak seperti bendungan.
Keberadaan yang sekian tahun lamanya menjadi tanda sebuah daerah, menjadi tempat warga mencari nafkah, menjadi keindahan pemandangan karena tumbuhnya pepohonan yang rindang. Seorang kakek pandangannya tak mau lepas dari bukit yang setiap hari digali dan digali, tanahnya diangkut setiap hari, dibuat menanggulangi luapan lumpur lapindo.
Keluh hembus nafasnya begitu berat sekali, terasa ada beban tersendiri yang harus dihadapi. Sisa usianya tak lama lagi, kerut wajahnya mencerminkan masa mudanya yang pemberani.
“Dulu di bukit itu aku sering berburu, di bukit itu aku sering menghabiskan waktu”. Ia bicara sendiri mengenang masa lalu. Masa di mana bukit itu masih perkasa, bukit itu masih murni dan belum terjamah manusia serakah seperti sekarang ini.
Setiap ada dam truk lewat, kakek itu memandangnya dengan sorot mata kebencian, dengan umpatan kata kasarnya. Ia satu-satunya warga yang menolak adanya penggalian tanah di bukit itu. Penolakannya berbuah cemoohan, berbuah kebencian, berbuah ketidakditerima dirinya di lingkungan. Sehingga ia sering sendirian. Ke sana kemari tak pernah dihiraukan oleh warga desanya.
Ia tetap pada pendiriannya, tak mau meristui penambangan tanah di bukit itu. Apapun yang terjadi, ia tetap pada pendiriannya. Karena pendiriannya itulah ia harus menerima akibatnya. Warga sekampung yang pada umumnya mendukung penambangan tak memperdulikannya, bahkan ia dibiarkan menikmati sisa hidupnya dalam keadaan tak berdaya.
Padahal ia merupakan tokoh masyarakat yang dulu sangat disegani, pengaruhnya begitu kuat sekali. Tapi sejak adanya penambangan tanah di bukit itu, ketokohannya mulai luntur, ketokohannya mulai aus tergerus oleh kepentingan sesaat. Masyarakat tak mau lagi dan tak peduli dengan petuah-petuahnya. Kata-katanya dianggap ngelantur, ngelindur, dan bahkan masyarakat beranggapan ia sudah gila, ia sudah sinting dan tak waras.
Kakek itu hanya bisa diam, dan tak mungkin lagi bisa berbuat. Apalagi semua masyarakat sudah merasakan hasil dari penambangan tanah bukit itu. Dan juga keluarganya ikut merasakan hasil dari penambangan bukit itu. Bahkan keluarganya melarang kakek itu membicarakan bukit itu, menceritakan bukit itu lagi.
“Kenapa aku tak boleh menceritakan bukit itu?”
“Untuk apa, Kek?”
Kakek itu diam, matanya lurus memandang bukit yang dari jauh Nampak berlubang-lubang. Bila di dekati lubang-lubang itu nampak dalam sekali dan mengkwatirkan sekali. Para penambang terlihat tak peduli, dengan keadaan yang ada di sekitarnya, yang suatu saat bisa mengancam jiwanya.
Sudah berapa korban yang terjadi, tapi mereka tak peduli. Setiap hari mereka melayani dam truk yang datang mengisi tanah lalu diangkut ke luar. Sehari saja kalau dihitung lebih dari jumlah jari dua tangan dam truk datang. Tak peduli hujan setiap hari menimpa, dam truk masih saja datang dan para penambang melayani dengan senangnya. Lubang-lubang bekas galian menjadi kolam-kolam tempat katak-katak bernyanyi bila malam datang.
Tanah bukit yang dulu tak berlubang-lubang, sekarang penuh dengan lubang-lubang yang mengancam. Bukit itu akhirnya menunggu waktu. Seorang kakek saksi yang masih bisa dijadikan sumber cerita keberadaan bukit itu. Kini usianya semakin senja saja, dan tak lama malam akan mengajaknya. Tiap hari ia memandang bukit itu, pandangannya penuh dengan kasih sayang.
Kakek itu nampak begitu saying, bila bukit itu hilang dan tak lagi kelihatan. Di bukit itu semasa mudanya menghabiskan waktu. Mencari kayu buat masak, mencari rumpu buat pakan ternak.
“Kenapa anak-anakku tak melestarikan bukit itu?” kakek itu bicara sendiri, bertanya sendiri, dan pertanyaan itu tak pernah terjawab, bahkan karena pertanyaan itu ia semakin tak diperhatikan oleh warga masyarakat.
Begitu juga keluarganya sendiri, tak lagi menghiraukan apa yang dikatakan, dan bahkan ia sering menerima bentakan dari anaknya sendiri.
“Sudahlah, Pak! Itu masa lalu, tak usah diungkik-ungkik lagi”.
“Kalau tak ada masa lalu, apa ada masa sekarang?” tanya kakek, lalu mengingatkan anaknya agar berhenti ikut menggali tanah bukit itu. Tapi apa yang terjadi?
Kakek itu diusir dari rumahnya, dan sejak kejadian itu ia menggelandang tidur di pos penjagaan. Hidupnya lantang lantung sehari makan, sehari tak makan. Ke mana langkah kaki berjalan, semua warga memandang saja dan tak ada yang mau menyapanya. Ia menjadi terhina dan tak berguna lagi. Bila malam tiba ia ke masjid berdiskusi dengan dirinya sendiri. Bila siang ia berkelana mengikuti langkah kakinya ke mana pergi.
Sambil berjalan ia selalu memandang bukit itu. Bukit yang semakin hari semkin penuh dengan lubang yang mengangga. Dan dalam ketidaksadaran, kakek itu berjalan ke arah bukit itu. Ia terus berjalan dan berjalan tak pedulikan adanya dam truk yang lewat, tak pedulikan pandangan mata yang melihat. Di bawah pohon yang agak rindang, ia berhenti menghela nafasnya, tak lama ia berjalan lagi, seakan-akan ada kekuatan yang mengajaknya untuk naik ke bukit itu.
Penggalian di bukit itu terus terjadi, bahkan semakin menjadi dan lubang-lubang yang ada semakin dalam sekali. Setiap hari ke luar masuk dam truk sudah tak terhitung lagi. Akses jalan rusak bukan masalah, asal tanah bisa terangkut terbawa ke tujuan. Suara dam truk meraung-raung membawa tanah bukit setiap hari. Kakek it uterus berjalan mengikuti kata hati.
Kakek itu berjalan mengikuti suara panggilan dari atas bukit. Suara itu terus memanggilnya. Suara itu memberi semangat tersendiri baginya.
“Aku harus menemuinya, aku harus ke sana” kakek itu bicara sendiri sambil terus melangkah dan melangkah.
“Kakek…..!” suara itu semakin jelas didengarkan, dan membuat ia semakin bersemangat melangkah. Langkahnya semakin naik membuat para pekerja penasaran dan heran tapi tak ada yang berani menegurnya.
Kakek itu terus naik ke bukit. Para pekerja saling berpandangan melihat ulah kakek yang menaiki bukit. Para pekerja penggali tanah berhenti bekerja. Mereka melihat kakek itu, dan bertanya-tanya akan kekuatan kakek itu. Setua renta masih kuat mendaki bukit itu. Seorang pekerja mengejarnya.
“Kakek mau ke mana?”
“Ke puncak bukit!”
“Kakek kembali saja!”
Kakek itu tak peduli dan tak mau kembali. Ia terus berjalan menaiki bukit. Suara dari atas bukit terus memanggilnya. Kakek itu seperti punya firasat tersendiri, akan kejadian yang menimpa warga di bawah kaki bukit.
Hujan yang setiap hari tak pernah redah, tak menghentikan kegiatan penggalian tanah yang terjadi di bukit itu, dan dam truk masih datang dan pergi mengangkut tanah bukit di bawa ke luar. Kakek itu semakin dekat dengan puncak bukit. Para pekerja keheranan dengan apa yang dilakukan kakek itu. Gelegar halilintar menyentakkan para pekerja, mereka lari tunggang langgang meninggalkan pekerjaannya. Apa yang terjadi?***