Rabu, 12 Oktober 2011

Gelar

sebuah pertanggungjawaban yang tak ringan
kalau aku memasang gelar dinamaku
setelah dikukuhkan dalam wisuda
apa kata orang bila aku tak mampu
mengaktualisasikan pascasarjanaku

banyak gelar terpasang berderet di sebuah nama
dari yang profesor, doktor sampai sarjana
tapi kenapa segala persoalan belum bisa
mengatasi ruwetnya persoalan yang ada

apakah gelar tersandang hanya sebagai hiasan
atau sebagai gagah-gagahan belaka
biar orang lain tahu kalau punya gelar

betapa beratnya pertanggungjawaban kedapan
setelah aku menyandang gelar yang kudapatkan
tak dipasang dibilang tak menghargai sebuah gelar
dipasang betapa beratnya berjalan

...^_^...

Senin, 10 Oktober 2011

Menyapa Ibu Kota

Ke mana langkah mata membentur ketidakpercayaan. Menyapa ibu kota, menyapa peradaban yang selalu berubah seiring perkembangan jaman. Pesatnya perkembangan, terkikisnya peradaban lama, terbentuknya peradaban baru yang mau tak mau harus diterima. Kalau tak mau menerima peradaban baru. Menyingkirlah dari ibu kota, dan kembali ke kampung halaman, di mana peradaban lama masih tersisa.

Di ibu kota, aku harus menyisihkan peradaban dari kampung halaman tercinta. Bukan apa-apa, tapi aku tak mau tertinggal oleh mereka. Aku tak mau tertinggal akan adanya perkembangan peradaban yang ada.
"Kamu boleh mengikuti perkembangan peredaban, tapi....!" kata temanku yang juga sama-sama dari kampung, dan lebih dulu berada di ibu kota.
"Tapi, kenapa? Salahkah bila aku mengikutinya"
"Kamu gak salah, memang kita harus mengikutinya. Tapi jangan sampai kamu kehilangan jati dirimu sendiri".
"Maksudmu!"
"Kamu harus punya jati diri pada jamannya"
"Ah....kamu semakin ngacau saja!"
"Aku gak ngacau, coba kamu lihat sendiri bagaimana kehidupanku?"
Aku diam

Mungkin benar apa yang dikatakan temanku. Boleh-boleh saja mengikuti perkembangan peradaban. Tapi, jangan sampai kehilangan jati diri. Jati diri sebagai keberadaan di mana titik awalnya diri ada. Dari mana diri ini sebenarnya. Mampukah aku menjaga jati diri, punya jati diri pada jamannya. Sedangkan, setiap hari sedari pagi sampai malam hari. Aku berada dalam lingkungan yang puralisme. Penuh dengan persaingan dan saling mempertahankan kehidupan di ibu kota.

Menyapa ibu kota, menyapa segala kemungkinan yang ada. Aku harus selalu siap menerima segala kemungkinan itu. Seperti hari ini, gerimis mewarnai ibu kota dan aku harus tetap pergi menemuinya. Pasti dia sudah menunggu kedatanganku. Sebenarnya, aku agak malas menemuinya. Tapi, haruskah aku melupakannya, melupakan jasanya. Aku masih ingat, kali pertama yang aku kenal di ibu kota dia, dan dia juga yang mengenalkan ibu kota, kali pertama aku menyapa ibu kota.

Hampir satu bulan aku tak bertemu dia. Kemarin dia SMS, aku diminta datang kerumahnya. Ada apa dan kenapa aku diminta datang. Padahal, dia sendiri yang memutuskan hubungan persaudaraan. Hanya karena salah informasi, dia meminta agar aku tak menghubungi lagi. Kami memang beda suku, beda adat istiadat, walaupun begitu kami saling menerima dan saling menghargai.

Gerimis bukannya reda, malah menjadi hujan yang agak lebat. Kalau aku belum sampai dirumahnya, mungkin aku sudah basah kuyup kayak kucing terjerumus ke dalam selokan.
"Ada apa kok aku diminta datang?" tanyaku langsung tanpa basa-basi sambil mengibaskan rambut basah yang tertimpa hujan.
"Kita berbicara di dalam saja"
Sebenarnya ini bukan rumahnya pribadi. Tapi rumah kontrakan yang berdesakan, tak ada sela antara rumah yang satu dengan yang lainnya. Apapun pembicaraan yang terjadi, tetangga sebelah pasti mendengarkan. Anehnya, biarpun didengar tetangga, kami tak memperdulikan. Karena mereka tak pernah menyoal apa yang terjadi dan dialami oleh tetangganya. Kehidupan begitu individualis sekali.

Di dalam kamar kami berduaan. Tiba-tiba dia menangis, menumpahkan segala kesalnya. Aku dibuat bingung tak kepalang. Ada apa dengannya?
"Sudah.....sudah....sebenarnya ada apa? Apakah aku diminta ke sini hanya diberi tangisan?"
Dia menghela nafas, pandangannya menubruk mataku, dan kami saling berpandangan. Dia menghela nafas lagi.
"Duduk dan tenangkan dirimu. Sebenarnya ada apa?"
"Aku minta maaf, mas!"
"Minta maaf.....aku rasa kamu tak punya salah. Kok tiba-tiba minta maaf!"
"Mas.....!"
Dia menatapku begitu rupa hingga menghujan rasa yang ada. Berlinang air matanya. Di antara sedu sedan tangisnya yang pelan. Dia berkata, mengatakan isi hatinya.

Terus terang, kali pertama bersua, aku sudah tertarik padanya. Apalagi kebaikkannya begitu nyata, dan sudah diberikan tatkala kali pertama menyapa ibu kota. Karena kebaikkannya itulah, aku anggap dia sebagai mbak sendiri. Tapi dalam perjalanan apa yang terjadi? Seirama perubahan ibu kota, kami berpisah karena kesibukan masing-masing. Apalagi dia sudah kembali punya kekasih lagi. Bahkan dia sendiri yang meminta, agar aku tak menghubungi dia lagi. Aku masih ingat kata-katanya.
"Mas...aku mohon tak usah menghubungi aku lagi".
"Memangnya kenapa, apa salahku?"
"Mas, gak salah. Aku hanya mohon pengertianmu".
"Baiklah, tapi kalau suatu saat membutuhkan aku, silahkan menghubungi aku"
"Iya...mas! Aku mohon maaf!"
"Ya....!"





Melintasi Suramadu

melaju di suramadu teringat sahabatku
abah d zawawi imron, fauzi, timur
dan rekan-rekan yang tak mungkin
tersebutkan satu persatu
salamku untuk kalian semua di pulau garam
yang punya cerita begitu seram

melintasi suramadu terbayangkan
andai setiap selat yang ada
menjulur jembatan yang sama
betapa gagahnya negeriku tercinta

melintasi suramadu melintasi jaman
yang semakin penuh ketidakpastian
melintasi budaya sebuah kekayaan
sebagai indentitas yang harus dijaga
dilestarikan pada jamannya

melintasi suramadu melintasi peradaban
jangan sampai menghilangkan
jati diri peradaban sejati
yang kita miliki