Rabu, 19 Januari 2011

Menyikapi Realita

Ketersembunyian sikap dimiliki setiap individu, dan itu merupakan hak privat yang mungkin sulit dipahami, bahkan merupakan rahasia pribadi individu itu sendiri. Ketersembunyian sikap ini merupakan bibit persaingan yang tersembunyi pula di dalam hubungan bekerja. Dalam hubungan kerja, secara naluri atau kasat mata, ada persaingan yang tersembunyi dan tak mungkin nampak, selagi individu itu mampu merahasiakan agendanya yang sebenarnya.

Dalam tulisan ini, penulis ingin membeberkan sebuah realita yang selama ini penulis mencoba untuk menikapi realita yang ada, dan terjadi antara hubungan rekan kerja di sebuah kantor di mana penulis setiap hari bertugas melaksanakan kewajiban sebagai abdi negara. Sebuah realita yang mungkin tak tampak dan kasat mata tapi dapat dirasa, benar adanya. Setiap hari mungkin tak tampak adanya persaingan, itu realita yang nampak, antara teman saling membantu, saling memberi dan menerima. Tapi dibalik itu semua, ternyata ada persaingan yang membuat penulis harus berlapang dada dan menerima kenyataan yang ada.

Untuk menyikapi realita yang ada, penulis mencoba selalu menerima segala keluh kesah yang dirasa oleh rekan kerja. Keluh kesah rekan-rekan di dalam menghadapi atasan ataupun kabag yang kurang akomudatif, dan selalu menyalahkan bawahan setiap ada kesalahan yang timbul dan terjadi menimpa sebuah pekerjaan yang belum kelar-kelar juga. Hubungan personil kalau dilihat memang harmonis, tapi kalau sudah ketingkat hubungan yang lain, jangan ditanya lagi, pasti ada sket yang membuat sebuah perbedaan begitu mencolok sekali.

Menyikapi realita memang memerlukan sebuah keberanian tersendiri, dan juga memerlukan pengorbanan tersendiri, serta harus punya jiwa yang lapang dada, tak mudah putus asa, apalgi mudah tersinggung oleh kata-kata yang kemungkinan dilontarkan oleh rekan kerja. Menyikapi realita bukan perkara yang mudah untuk diterapkan, karena kita harus mampu memahami akan agenda rahasia yang mungkin dimiliki oleh rekan kerja kita. Bukankah dalam hidup ini (dalam bekerja) kita selalu ingin yang enak saja, dan tak mau bersusah payah.

Setiap hari penulis mencoba dan belajar menyikapi realita yang ada, dan dari realita yang ada itu, penulis ingin belajar bagaimana menjadi orang yang mudah diterima di mana kaki berdiri. Semoga kita semua mampu menyikapan realita yang ada, dan mampu mengambil hikmahnya dari apa yang terjadi menimpa diri kita.***

Jumat, 14 Januari 2011

Memahami Waktu dan Ruang

Dalam kehidupan sehari-hari kita tak mungkin menghindari dan lepas dari adanya waktu dan ruang yang bebeda-beda. Perbedaan waktu dan ruang secara tidak langsung akan menuntut kita untuk melakukan adabtasi, menyesuaikan diri atau memahami waktu dan ruang yang ada. Apalagi bagi kita yang punya kerja multi komplek atau setidaknya dalam guliran waktu 24 jam sehari semalam harus menghadapi waktu dan ruang yang berbeda-beda. Jelas dituntut untuk mampu memahami waktu dan ruang yang ada.
Sebuah ilustrasi, seorang kreatif disamping mempunyai pekerjaan tetap, yakni seorang pegawai, sorenya menjadi seorang pengajar, kadang menjadi narasumber atau moderator sebuah seminar. Pagi berangkat ke kantor berperan sebagai pegawai yang harus taat pada atasan, yang harus taat pada undang-undang dan peraturan. Jam kantor sudah ditentukan, dan dia memenuhi. Begitu jam kantor habis, dia pergi mengajar di sebuah PT swasta, di mana dia harus menjadi seorang pengajar yang bijaksana.
Kalau dia tak mampu memahami waktu dan ruang di mana berada, tak mungkin dia mampu bekerja professional. Tapi karena dia mampu memahami waktu dan ruang yang ada, karena dia mampu berperan sebagaimana kebutuhan yang ada. Maka dia bias bekerja secara professional. Keberhasilan seseorang itu secara nyata juga bias dipengaruhi oleh pemahaman orang itu sendiri. Mampukah orang itu memahami waktu dan ruang di mana dirinya sedang berada.
Sebagaimana actor atau pemain teater yang mahir, karena dia mampu mehamami peran yang diberikan sutradara, maka dia mampu menjadi pemain teater yang handal dan menuai keberhasilan. Nah…dalam hal ini dapat kita tarik ke dalam diri kita sendiri. Apakah selama ini kita sudah mampu menyesuikan diri, mampu memahami waktu dan ruang di mana kita berada, dan juga tak kalah pentingnya mampu memahami diri kita sendiri, mempu memahami kemampuan kita sendiri.
Disinilah sebuah pembelajaran yang mungkin dapat kita ambil hikmahnya atau setidaknya untuk penyadaran diri kita sendiri. Karena pada intinya, keberhasilan itu terpulang pada diri kita sendiri. Bukan tergantung pada orang lain ataupun adanya modal yang banyak. Orang lain hanyalah efeknya saja, begitu juga modal. Biarpun modal banyak dan orang lain sering memberikan masukan, tapi kalau diri kita tak mampu memahaminya, mana mungkin kita dapat mencapai kesuksesan yang kita harapkan.
Memang banyak factor yang bias mempengaruhi keberhasilan seseorang, dan dari beberapa factor yang ada, waktu dan ruang merupakan factor yang utama. Sebab kalau kita mampu memahami waktu dan ruang di mana kita sedang berada, dan kita bias memanfaatkan waktu dan ruang yang ada sesuai dengan kemampuan yang kita meliki, niscaya kita akan dianggap berhasil oleh orang lain. Lalu bagaimana kiatnya agar kita mampu memahami waktu dan ruang yang ada? Bagaimana kita memanfaatkan waktu dan ruang yang ada?
Padahal untuk memahami waktu dan ruang itu sendiri sudah membutuhkan kemampuan tersendiri, apalagi memanfaatkan waktu dan ruang yang ada. Sementara itu, selama ini belum ada pelatihan bagaimana memahami waktu dan ruang, bagaimana memanfaatkan waktu dan ruang. Sebuah bidang garapan yang selama ini terabaikan dan tak ada yang memperhatikan. Padahal, dengan kemampuan memahami waktu dan ruang. Secara tak langsung kita akan mampu memanfaatkan waktu dan ruang itu sendiri.
Singkat coretan ini, dapat diambil garis bawahnya, memahami waktu dan ruang akan menghantarkan diri kita meraih kesuksesan. Karena dengan memahami waktu dan ruang di mana kita berada, secara tidak langsung kita akan mudah menyesuaikan diri dan pada akhirnya mampu mendayagunakan waktu dan ruang yang ada. Semoga kita berhasil!***

Selasa, 11 Januari 2011

Cemplok

Penumpang sudah penuh berdesak berdiri, bau ketiak bercampur bedak menusuk lubang hidung ini. Bus masih juga merapat menepi menaikkan penumpang lagi. Bahkan aku sendiri tak kebagian tempat duduk, dan diberi tempat duduk di sebalah sopir, di atas mesin yang rasanya panas sekali. Di terminal Jombang, beberapa penumpang turun, tapi ada juga yang naik. Ke luar dari terminal, ternyata bus masih menaikkan beberapa penumpang, dan salah satunya penumpang itu seorang gadis centil menarik perhatianku. Begitu dia naik, secara otomatis tak kebagian tempat duduk, dan dia diberi duduk di sebelahku yang kebetulan agak longgar dan masih bisa dijadikan tempat duduk.

Bus bergerak melaju, kondektur berteriak melakukan tugasnya. Dari Surabaya bertujuan ke Solo semakin lama aku rasa. Apalagi bus selalu berhenti menurunkan dan menaikkan penumpang di setiap jalan.
"Mau kemana Mbak?" tanyaku
"Sragen....!"
"O.....!"
Sebuah awal interaksi aku lakukan, dari pada hanya merasakan penggapnya keadaan di dalam bus. Ramainya kendaraan begitu terasa sekali, penggap keadaan membuat aku merasa tak nyaman. Untung di sebelah ada seorang cewek kece hehehe....

Di terminal Madiun malam sudah menggulung, perut lapar berteriak minta ampun. Bus berhenti supir dan kundektur turun, para penumpang menunggu bingung. Suasana terminal tak semeriah siang hari yang penuh teriakan yang beraksi dan bersaingan mencari penumpang. Aku turun, dan beberapa penumpang juga turun. Ada yang membuang hajat, ada yang lainnya. Di terminal Madiun aku mengisi perut bersama sopir dan kondiktur di sebuah bedak sederhana.  Nasi pecelpincung terasa nikmat sekali, mungkin laparlah yang membuat nasi pecel terasa nikmat.

Agak lama juga bus berhenti di terminal Madiun, dan penumpang sudah tak ada yang berdiri, semua penumpang sudah kebagian tempat  duduk. Sebenarnya aku ke Solo bersama teman wanita yang sejak tadi diam menikmati duduknya. Baru di terminal Madiun kami bisa satu bangku, dan bahkan ditambah dia.
"Pean aja di situ, aku di pinggir!"
"Gak, aku yang dipinggir"
"Aku gak enak sama mbak, dia kan istri om!"
"Bukan mbak, aku bukan istirnya, aku temannya, pean aja yang ditengah"
"Nah...apa kataku"

Bus kembali melanjutkan perjalanan, dalam perjalanan ini semakin bermelodi karena aku sudah dapat duduk dengan tenang dan bisa menikmati rasa ngantuk yang menyerang. Tapi rasa ngantukku hilang, karena si Cemplok yang baru aku kenal.

Selasa, 04 Januari 2011

Dunia Sastraku

Pembelajaran Yang Mengasikkan
(cuilan catatanku versi alakadarnya)

Setiap kejadian aku jadikan pembelajaran dan untuk belajar ke arah yang lebih baik dari hari kemarin, karena aku tak mau berjalan ditempat melulu, aku harus bergerak dan bergerak sekuat daya yang aku miliki. Begitu juga di dalam berkarya, yang di mana aku berkecimpung selama ini, sebuah dunia pilihan yang harus aku cintai, yakni dunia sastra, dunia di mana aku beraktualisasi menyampaikan ide dan gagasan yang ada di benak ini. Oleh karena itu, selama tahun 2010 secara langsung maupun tidak langsung aku ikuti perkembangan dunia sastra, yang menurut cacatanku pribadi penuh dengan gejolak dan hiruk pikuknya sebuah persaingan tersendiri antara para sastrawan, baik itu persaingan secara terbuka, maupun terselubung, dengan adanya itu maraklah dunia sastra. Karena dalam sebuah dunia tanpa adanyaa persaingan akan terasa hampa dan biasa-biasa saja.

Dalam tulisan ini, aku tak membahas adanya persaingan yang ada, tapi aku ingin memberikan cacatan pribadi yang aku alami sendiri, bukan berarti aku ingin membela diri atau memojokkan yang lain. Aku hanya ingin memcatat apa yang telah aku alami di dunia sastra selama tahun 2010, dengan harapan di tahun 2011 akan lebih baik dan mampu mengaktualisasikan diri lebih bernas. Karena setiap kejadian merupakan sebuah pembelajaran yang sangat berharga, sebagaimana yang aku alami tatkala melaksanakan acara Festival Bulan Purnama Mojopahit, dengan tema "Majapahit Dalam sastra", sebuah tema yang aku angkat karena ditunjuk oleh teman-teman sebagai koordinator acara itu.

Majapahit dalam sastra, merupakan rangkaian acara Festival Bulan Purnama Mojopahit yang diselenggarakan DKKM (Dewan Kesenian Kab. Mojokerto), dan pada bulan Oktober 2010, merupakan bulan giliran Biro Sastra yang punya gawe. Oleh karena itu, sebulan sebelumnya atas inisiatif seorang teman, membuat pengumuman lewat dunia maya tentang penerimaan naskah puisi dan cerpen. Tak pernah aku bayangkan, tetnyata respon teman-teman luar kotak begitu dahsat, hingga 500 orang lebih yang kirim naskah ke DKKM. Dari kiriman yang ada, akhirnya ditentukan 3 orang kurator untuk memilah dan memilih naskah-naskah yang masuk.

Sebuah prosesw yang membutuhkan keberanian, dimana baru ini kali pertama DKKM menerima tumpukan naskah, dan baru kali pertama menerbitkan antologi Cepren dan Puisi berskala nasional. Sebuah keberaanian yang nekat, di mana saat itu gejolak dunia sastra begitu berkembang, dan silih bergantinya acara sastra di setiap daerah. Sebuah gairah yang patut diapresiasi, karena gairah sastra yang ada begitu menarik sekali, walau pada intinya ada yang menjadi korban atau dikorbankan, tapi semua itu meruipakan riak-riak yang memang harus ada, dan harus kita terima dengan lapang dada.

Memendekkan kata, pada bulan Oktober 2010 merupakan bulan yang penuh pembelajaran bagiku di dalam mengarungi dunia sastra, dunia yang penuh dengan inrik tersendiri, dan siapapun yang ada di dunia sastra harus berani memasuki malam, melawan siang, yang di mana harus berani berkarya sebagaimanaa mestinya, dan tak boleh putus asa kalau memang benar-benar mau berdiamdiri di dunia sastra. Betapa tidak, begitu acara tergelar yang di mana sebelumnya aku merasa ragu, was bertumpuk kekwatiran karena pada acara itu berbarengan dengan acara yang sama di daerah lain, aku tak percaya kalau ternyata banyak teman luar kota yang berkenan hadir.

Sebuah luka yang mungkin masih terasa, yang mungkin akan membekas, karena aku harus siap menerima komplin dari beberapa penyair/penulis yang tanpa babibupa, atau tanpa konfermasi dulu, tapi langsung menyerang panitia hanya karena tak kebagian buku antologi. Sebenarnya, panitia (kami) ingin memberi semua penulis/penyair, tapi apa daya, maksud hati memeluk gunung, tapi tangan tak mungkin mampu memeluk gunung itu, disinilah sebuah kenyataan yang harus aku hadapi dengan lapangan dada yang ada. Aku harus menerima apa yang ada, karena semua itu pembelajaran yang berharga.

Bahkan semala tahun 2010, aku juga mengikuti kegiatan sastra secara langsung, di mana bisa berinteraksi dengan teman-teman. Wah sebuah pembelajaran yang menambah wawasan tersendiri, apalagi dengan maraknya istilah "Peta sastra" maupun istilah lainnya yang membuat aku mengkrenyitkan dahi sendiri menghadapinya. Tapi semua yang ada akujadikan pembelajaran yang berharga, karena semata-mata aku ingin di tahun 2011 punya ruang dan waktu yang semakin lebar untuk mengaktualisasikan diri.

Jelasnya, disamping maraknya perkembangan dunia sastra di tahun 2010, merupakan pembelajaran yang indah kalau kita mau menerima setiap perbedaan yang ada di dunia sastra itu sendiri. Semoga di tahun 2011 ini perkembangan dunia sastra semakin marak sekali. Semoga!!!