Rabu, 24 November 2010

Cerpen


Negeri Apa Ini
Oleh : Syt  Ethex

Kenapa dia datang, dan dari mana dia tahu, kalau aku seorang penulis yang suka menulis kebrobrokan negeri ini tapi tak pernah berani mengirimkan tulisan ke koran ataupun majalah. Karena aku punya kenyakinan, pasti tak ada satupun koran maupun majalah yang akan berani memuat tulisan-tulisanku.
Siapa yang memberitahu dia? Kalau aku suka bermain petak umpet menyembunyikan aktifitas, di mana menjadi pengajar, menjadi pengajar yang benar-benar pengajar, menjadi penulis yang benar-benar penulis, menjadi apapun totalitas sesuai dengan ruang dan waktunya. Padahal semua itu aku masih belajar, dan belum mampu ataupun belum dikatakan professional sebagaimana mestinya.
Ukuran professional, standarisasi professional ataupun apa namanya. Mungkin benar apa yang dikatakan dia.
“Negeri apa ini?” setelah basa-basi dan memperkenalkan diri, dia bertanya dan pertanyaan itu mengusik nasionalismeku. Betapa tidak, dia sudah tahu kalau negeri ini adalah negeri A. Kenapa masih bertanya, negeri apa ini? Apa dia tak membaca pintu gerbang masuk negeri ini? Bukankah di pintu gerbang itu tertulis besar nama negeri ini.
Sebagaimana setiap masuk wilayah kabupaten maupun kota, selalu tertulis nama kabupaten atau kota yang akan kita masuki, dan bahkan mau meninggalkan sebuah wilayah kabupaten, mata pasti membaca selamat jalan dan terima kasih atas kunjungan saudara. Tapi kenapa dia bertanya, dan pertanyaan itu bernada menghina.
Tanpa aku pinta, dia menceritakan tak hanya sekali ini datang ke sini. Tapi sudah beberapa kali, itulah sebabnya dia sangat paham dan paham sekali apa yang terjadi di negeri ini. Aku sendiri tak mungkin membela diri, walau sebenarnya rasa nasionalismeku terusik. Karena apa yang dikatakan mengandung kebenaran yang tak mungkin aku sangkal, apa yang dikatakan merupakan kenyataan yang sering aku liat, aku dengar, dan aku baca.
Segelas teh sudah tandas, sepiring camilan sudah tak tersisa, tapi dia belum pulang saja, dan masih bersemangat menceritakan pengalamannya. Aku liat jam di dinding, sudah hampir dua jam aku menemani dia. Sesekali dia menyapu ruangan tamu dengan pandangan mata penuh selidik.
“Itu lukisannya siapa?”
“Seorang teman, kebetulan hadiah dari teman”
“Goresannya cukup berani!” gumannya lalu mempertanyakan ketidakberanianku mengirimkan tulisan-tulisan ke media massa.
Aku katakana padanya, bahwa aku bukan penulis, aku bukan penyair. Aku hanya manusia pada umumnya. Tapi dia tak percaya, dan bersikeras dengan anggapannya. Dasar orang sinting, kataku dalam hati. Apa dia tak tahu, kalau minat baca negeri ini juga amburadul. E…ternyata dia tahu juga, kalau negeri ini suka membuat peraturan dan peraturan itu dilanggar sendiri.
Dia begitu heran, dengan mimiknya dia mengatakan apa yang terjadi di negeri ini. Negeri yang sebenarnya gemah ripah loh jinawi, murah sandang murah pangan, tapi kenapa banyak rakyatnya yang keleparan, hidup dalam kesulitan dan kesusahan. Rakyat hanyalah atas nama untuk melanggengkan kekuasaan. Aneh dan aneh sekali, kenapa rakyatnya mudah dimanipulasi, hanya dengan lembar bernilai mereka mudah digerakkan ke sana ke sini.
Lihat itu demo yang terjadi, mereka bukan demo murni sebagaimana pada saat terjadinya reformasi, di mana mahasiswa saling bahu membahu menumbangkan rezim tertentu, dan ingin membuat rezim baru yang sekarang sudah mereka nikmati. Sebuah rezim yang tak jauh berbeda, di mana korupsi masih meraja dan makin menjalar ke mana-mana. Di mana banyak raja-raja kecil berkuasa di daerahnya, dan tak begitu peduli pada pusat pemerintahannya sendiri.
Mungkin benar apa yang dikatakannya. Mengacu pada cerita temanku sendiri, yang beberapa minggu lewat telah menggerakkan warga kampungnya, berdemo ke pabrik yang berdiri di wilayahnya. Temanku membuar skrenario dan bahkan sebagai sutradara bagaimana agar warga saling bermusuhan. Ada kelompok yang membela berdirinya pabrik, tapi ada warga yang menolaknya. Padahal, itu hanya sebuah permainan dengan tujuan pabrik tersebut memenuhi tuntutan warga sekitarnya.
Disinilah sebuah korelasi yang mungkin dibenarkan adanya, dan sehingga aku tak mungkin menyeangkal apa yang dia katakana. Bahwa di negeri ini kepastian hukum belum ada sebagaimana mestinya. Undang-Undang yang terdiri dari beberapa pasal mudah dipermainkan. Seorang pencuri buah semangka atau papaya disidangkan begitu rupa. Sementara itu koruptor berlenggang kangkung, menikmati persidangan demi persidangan yang pada akhirnya menguras keuangan negara saja.
Para hakim dan jaksa dibayar untuk bermain undang-undang, begitu juga yang lainnya. Aneh, aku heran dan heran sekali, apa yang terjadi di negeri ini. Terus terang, biarpun aku bukan warga negara negeri ini, aku sangat cinta negeri ini. Tapi kenapa semua rakyatnya diam, dan seakan-akan membiarkan negerinya hancur berantakan.
Apa yang dibicarakan begitu menohok dan sangat menyinggung perasaanku. Tapi aku tak mampu berbuat, karena yang dibicarakan merupakan kenyataan yang ada, dan bahkan aku rasakan selama ini. Memang aku sering menulis tentang negeri ini, negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi, murah sandang, ternyata sebagian besar rakyatnya hidup dalam kesusahan yang tak berkesudahan.
Sudah hampir dua jam lebih dia bertamu, tapi belum juga ada tanda-tanda pamit, dan bahkan semakin ngelantur pembicaraannya. Sebagai tuan rumah yang bijak, aku tak mungkin mengusir seorang tamu tanpa alas an yang jelas, atau tanpa ada keperluan yang jelas. Memang wajah istriku sudah sungut-sungut merasa gerah dengan adanya dia. Tapi aku berusaha menyabarkannya, dan aku katakana bahwa dia temanku lama, yang lama tak ketemu, karena dia pergi ke luar negeri mencari dolar karena merasa kerja di dalam negeri tak sebanding dengan ilmunya yang dimiliki.
Aku baru tahu kalau dia teman lama yang sudah lama tak ketemu, setelah dia menyinggung kebiasaanku sewaktu sekolah di SMA. Di mana pada masa SMA aku suka berebut cinta dengannya, satu cewek dijadikan semacam lomba, siapa yang dapat duluan, dialah yang menang, dan di antara aku dan dia selalu sepakat bermain tak curang. Wow…begitu asik kalau mengenang masa SMA, masa yang penuh dengan cerita cinta.
Nah…kau tahu siapa aku, jadi salahkah bila aku mengatakan, “Negeri Apa Ini”, sejak dulu sampai sekarang belum merdeka sungguhan. Ah..aku tak mau menyangkal apa katanya, lebih baik aku biarkan saja dia menumpahkan kekesalannya terhadap negerinya sendiri.***

Kamis, 18 November 2010

Cerpen


DESEMBER
Oleh : Syt  Ethex

Kenapa kau selalu takut dengan datangnya desember? Apakah ada sesuatu yang mengkwatirkan, sehingga kau selalu takut dengan datangnya desember? Atau itu hanya caramu saja untuk memberi tanda akan bertambahnya jumlah angka tahun dari 2010 ke 2011, begitu seterusnya.
Tepian jalan masuk kota, di pinggir-pinggir pasar dan alun-alun setiap kota sudah sedia terompet-terompet beraneka warna dan berbentuk gaya yang menggoda mata. Dan kau selalu berkata, terompet-terompet itu datang selalu pada bulan desember. Desember seakan-akan menjadi bulan yang penuh dengan terompet-terompet yang menunggu pergantian sebuah tahun, dan selalu menjadi tanda, kalau setiap pergantian tahun tanpa adanya terompet tak akan sempurna.
Desember juga kau hubung-hubungkan dengan hujan yang selalu mengguyur bumi, banjir bandang dan setiap akhir tahun selalu terjadi becana yang menurutmu sebagai peringatan bagi manusia. Mungkinkah itu semua hanya kekwatiranmu belaka, kekwatiranmu karena secara tak sadar sisa-sisa usiamu semakin berkurang saja.
Pada tahun lalu, malam tahun baru, kau larang aku ikut konvai ataupun membeli terompet, dan kau mengajak aku menepi menghindari kemaramian yang sedang terjadi. Aku masih ingat, kau selalu menyediakan kopi kesukaanku dan tak lupa rokok kegemaranku. Aneh…kenapa kau selalu menyoal bulan desember sebagai bulan yang membuatmu tak tenang, membuatmu gelisah.
Tapi bulan desember ini kau nampak berubah dan kelihatan tenang-tenang saja. Mungkinkah kau sudah menemukan jawaban, atau setidaknya sudah memperoleh apa yang selama ini kau cari. Aku jadi penasaran dan ingin tahu, kenapa desember tahun ini kau nampak tenang-tenang saja. Ada apakah sebenarnya?
Sementara itu, desember tahun ini aku yang mengalami kegelisahan yang memuncak. Aku harus menghadapi beberapa tanggungan, memasukkan data-data laporan akhir tahun, dan data-data itu menusuk-nusuk mata hingga nanar rasanya, dan aku tak mungkin menghindarinya. Mungkin ini salah satu konsekwensi yang harus aku hadapi, dan harus aku terima apa adanya.
Ternyata, bukan aku saja yang harus menghadapi bulan akhir tahun dengan kerepotan tersendiri. Bahkan pada umumnya, kita semua mempunyai urusan sendiri-sendiri di mana pada bulan akhir tahun selalu menjadi bulan yang penuh dengan harapan. Harapan di mana pada tahun yang akan datang lebih baik dari tahun yang sudah dijalani.
Aku tahu, kau punya cara tersendiri dalam mengisi bulan akhir tahun. Dan aku tak mungkin mengikuti caramu, karena aku punya cara sendiri dalam bulan akhir tahun. Apalagi akhir tahun ini, aku mempunyai agenda dan ingin memenehi mimpi yang selama ini aku rasa. Rasa itu adalah rinduku pada seorang wanita yang jauh di sebrang samudra. Samudra yang selalu ada ombak atau gelombang yang setiap hari selalu menjadi persoalan tersendiri.
Bahkan wanita itu tadi malam menelpon aku, mengharapkan dan sangat mengharapkan aku datang mengobati rindu yang mendera dirasakan. Haruskah aku mengikuti acaramu? Selain itu, desember tahun ini aku harus melunasi segala piutang yang belum tentu mampu aku atasi. Kau memang sangat beda, dan mengelami perubahan signifikan, tak lagi ada rasa kwatir dengan akhir tahunmu.
Aku sendiri sebenarnya takut dengan datangnya desember, bulan akhir tahun yang setiap tahun selalu terjadi perhitungan diri untung rugi dalam menjalani kehidupan ini. Apalagi tahun yang akan berlalu masih penuh tanggungan yang harus aku selesaikan, dan tak mungkin kelar sehingga menjadi perekjaan yang menambah beban di tahun yang akan datang. Dengan sendirinya, pekerjaan tahun ini yang belum selesai, menjadi pekerjaan tahun yang akan datang.
Padahal, tahun yang akan datang pasti ada kerjaan baru yang harus aku hadapi, kalaupun aku masih diberi ruang dan waktu untuk menghadapinya. Sebab aku tak tahu, apakah masih ada waktu yang diberikan padaku. Untuk itu aku selalu memohon padaNya, agar memperpanjang waktuku sehingga mampu menghadapi serta mengatasi persoalan yang harus aku hadapi.
Kau tentu tahu, kalau aku punya urusan sangat pribadi dan rahasia sekali. Bukan hanya tentang si dia perempuan yang berkenan member perhatian padaku. Tapi soal lain yang tak mungkin aku sampaikan padamu, dan persoalan itu biarlah aku nikmati sendiri. Aku tak mau orang lain, dan bahkan si dia perempuan yang selalu bersamaku tak akan kuberi tahu. Karena aku tak mau orang lain ikut merasakan apa yang sebenarnya aku rasakan.
Desember, ya…desember bulan akhir tahun yang membuat aku dank au bingung, dan bahkan tak hanya aku dan kau saja yang bingung, tapi semua manusia menjadi bingung.***

Senin, 25 Oktober 2010

Cerpen


Wajah Ibu
Oleh : Syt  Ethex

Masih tampak semangat juang di wajah keriput menua itu. Semakin kupandang, aku menemukan kesejukan tersendiri, aku menemukan samudra tersendiri, aku menemukan bulan tersendiri, aku menemukan keikhlasan tersendiri, dan aku mendepatkan pembelajaran tersendiri.
Ibu…! Wajahmu menyimpan sejuta makna, yang tak mungkin bisa kuartikan semua, dirimu mengalir apa adanya, membasahi hidupku selama ini. Kasihmu tak terbalas, cintamu tak terlibas, oleh keberadaan jaman yang semakin bias, antara kebenaran dan kesalahan sulit dibedakan. Tanpamu diri tak mungkin mampu, berdiri di atas bumi yang penuh dengan debu-debu keangkaraan murka ini.
Ibu…! Di wajahmu terselip pengorbanan yang tak mungkin dapat kujabarkan dengan kata-kata, yang tak mungkin dapat kujumlah dengan angka, berapa pengorbananmu selama ini yang telah kau berikan pada anakmu.
“Nak….kenapa kamu memandang ibu!”
Aku tersentak, dan langsung bersimpuh di kaki ibu, “Ibu….maafkan aku! Aku tak mampu membahagiakanmu..!” kataku terputus-putus
Dengan tangannya yang sudah keriput, ibu membelai ramputku, dan berkata, “Berdiri dan duduklah! Sebenarnya ada apa denganmu?”
Malam berjalan belum begitu jauh, suasana anak kecil yang bermain masih mewarnai malam, apalagi mala mini purnama benderang tanpa dihalangi mendung. Di ruang tamu, di kursi goyang ibu melawan penyakit tuanya, dengan kursi plastic aku duduk di sebelahnya. Ruang tamu yang sudah lama tak mengalami perubahan, rak buku yang sudah berumur masih kokoh berdiri, rak buku itu warisan bapak.
Aku sangat sayang dengan rak buku itu, karena di dalamnya berisi ilmu-ilmu.
“Apakah kamu ada masalah, nak?” Tanya ibu dengan suara pelan tapi lembut dan jelas ditengkap telinga.
Aku menghela nafas, “Tidak, bu! Aku tak mau membebani pikiran ibu, biarlah masalah ini aku hadapi sendiri, bu!”
Dengan pandangan yang lembut, ibu memandangku, “Apapun yang kamu alami dan kamu rasakan, ibu tak mungkin membiarkan, apalagi yang kamu alami itu kesusahan”.
Aku menghela nafas, berat rasanya terus terang dengan ibu. Aku tak mau ibu terseret ke masalah keluargaku. Sudah cukup banyak dan bahkan tak terhitung secara matamatika, berapa jumlah pengorbanan ibu untukku. Sedari jabang bayi sampai sekarang, kalau dihitung, tak terhitungkan. Apakah aku harus menambah lagi sebuah pengorbanan.
“Nak, biarpun kamu tak ma uterus terang sama ibu. Ibu bisa merasakan apa yang kamu rasakan!”
Aku tersentak dengan apa yang dikatakan ibu
“Sudahlah….nak! Sudah malam, tidur sana. Ibu mau mengaji!”
“Baik, bu!”
Malam memeluk alam begitu erat sekali. Samar-samar aku dengar suara ibu membaca ayat-ayat suci. Raga ngantuku terusir oleh bayangan wajah ibu. Kata-kata ibu mengiang-ngiang. Ya…mungin benar apa yang dikatakan ibu. Biarpun aku tak berterus terang, dan menyimpan persoalan, ibu bisa merasakan apa yang aku alami. Oh…ibu! Betapa murni jiwamu, perasaanmu.
Keriput wajah ibu menyisakan kecantikan tersendiri, dan aku bayangkan kecantikan ibu di masa perawan. Jelas ibu cantik, ayu, dan menjadi dambaan para kumbang lanang. Membayangkan kecantikan ibu masa muda. Aku teringat seorang perempuan yang jauh di mata tapi dekat di hati, dan bahkan dia selalu mengisi relung hatiku. Sedang apakah dia sekarang malam ini? Munginah dia sudah tidur lelap bersama mimpinya?
Aku sadar, aku tahu, tak mudah mewujudkan kebersamaan dengannya. Memang aku dan dia saling cinta, dan sering memadu cinta lewat hubungan maya maupun telepon. Aku dan dia bersepakat menikmati hubungan yang ada mengalir apa adanya. Tiba-tiba dering HP membuyarkan lamunanku. Dengan gerak reflek, aku ambil HP.
“Mas……!” suara dia menyapa
“Kamu belum tidur, sayang?” balasku
“Aku tak bisa tidur, aku tak tahu, kenapa mala mini memikirkan kamu”
“Sudahlah….sayang! Aku taka apa-apa kok”
“Enggak, Mas! Aku tak percaya!”
Aku menghelas nafas, dalam dan dalam sekali. Anganku melayang-layang menelusuri malam. Membumbung tinggi menembus sepi menyapa bulan dan gemintang.
Samar-samar masih aku dengar suara ibu melafal ayat-ayat suci. Suaranya lembut mendayu menusuk relung hati. Sementara itu, istri dan anakku sudah diselimuti malam bersama mimpinya. Aku menghela nafas, tatkala teringat kejadian yang beberapa manit lewat. Di mana istriku tak berkenan melayani keinginanku. Keinginan seorang suami tidur bersama menikmati kepuasan yang tak mungkin terlukiskan.
Itulah sebabnya aku tadi menemui ibu yang sedang duduk di kursi goyangnya. Sebenarnya aku ingin mengadu, menceritakan kelakuan istriku. Tapi aku tak mampu berkata-kata.
“Mas……!”
“I…ya….sayang!”
“Kenapa diam dan tak bicara?”
“Maaf…sayang! Kamu tak usah memikirkan aku. Aku baik-baik saja, sayang!”
“Aku mau tidur, kalau mas mau menceritakan apa yang sedang ma salami”.
“Baiklah….!”
“Jadi…..!”
“Begitulah sayang…..aku tak pernah menutup-nutupi, aku tahu siapa kamu. Soal kamu percaya atau tidak, itu terserah kamu!”
“Aku percaya, sayang…!”
“Malam sudah larut, tidurlah sayang”
“Aku mau tidur, tapi kiss dulu…!”
“Cuuuppppp…ah…!”
Lewat telepon aku dan dia bercinta, meyampaikan rasa, menyampaikan gejolak yang ada. Malam mengalir bergulir, sepi menggelanyut tak bertepi.
Kembali bayangan wajah ibu menyeruak mengusik anganku. Malam semakin jauh berjalan, dan sudah hampir menjelang senja, tapi rasa ngantuk belum juga menguasaiku, mata ini masih penuh memandang sekitar. Suara ibu sudah tak terdengar, dari kamar mandi aku dengar suara langkah kaki.
“Kamu belum tidur?” tegur ibu begitu melihat aku masih duduk merenung.
“Belum, Bu!”
“Sholatlah…..”
“Baik, Bu!”
Aku tak mungkin menolak perintah ibu. Aku tak mungkin melawan perintah ibu. Ibu bagiku orang pertama yang memberikan sesuatu, bahkan ibulah yang membuat aku mengerti akan dunia ini. Dari ibu, aku mampu berdiri, aku mampu menghadapi, aku mampu menerima kenyataan yang terjadi****

Jumat, 22 Oktober 2010

Cerpen


Dalam Mimpi
Oleh : Syt  Ethex

Apa? Tersentak juga aku menerima SMSmu yang member kabar kalau semalam kamu bermimpi bersamaku. Sebuah mimpi yang indah dan tak mungkin akan terjadi sebenarnya tanpa ijin-Nya. Ceplas, ceplos tanpa rasa risih, kamu ceritakan mimpimu, dan menyeret anganku membayangkan mimpimu itu.
Andaikata, seandainya, itu bukan mimpi. Di sebuah ranjang malam berselimut cinta. Kita tumpahkan segala rasa yang selama ini tertahan. Malam berjalan begitu lembut, kau pasrahkan dirimu tanpa ragu, dan aku menerima kepasrahanmu penuh dengan cinta yang selama ini telah kita rasa bersama. Kau biarkan jemariku bermain di tanah bukit kembarmu, dan kau hanya menggeliat-geliat begitu tanganku mulai nakal.
Benarkah apa yang kamu katakana? Ada rasa ragu menyelinap dibenakku.
“Mas…gak percaya?” tanyamu
“Bukan tak percaya, sayang!”
“Aku sendiri tak tahu, kenapa bisa mimpi begitu, Mas!” suaramu pelan meyakinkan.
“Jadi….kamu benar-benar mimpi bersamaku?”
“Haruskah aku berbohong padamu, Mas!”
“Uh…aku tak mampu membayangkan, sayang”
Tanpa sehelai kain malam itu kita berdua di atas ranjang malam yang indah penuh warna. Kita bermain  kuda lumping hingga akirnya kita sama-sama tak berdaya. Kau tahu, mas! Itu sebenarnya aku harapkan, walau hanya dalam mimpi, aku menikmatinya. Aku berharap mimpi itu terulang lagi mas, dan bahkan aku berharap juga, mimpi itu menjadi kenyataan, walau entah kapan itu terjadi.
Aku tahu, aku sadar, siapa aku, siapa kamu, dan siapa kita. Apakah aku salah bila mempunyai harapan itu. Apapun yang terjadi, aku akan menunggumu, sampai batas waktunya.
“Mas…kok diam…!”
“Enggak kok, sayang! Aku mendengarkan!”
“Tapi, kenapa diam?”
“Pikiranku terbawa ceritamu!”
“Bener lho, mas! Aku gak bohong, mau bukti!”
“Aku percaya, ini kan sudah bukti, kamu telpon aku hanya ingin bercerita tentang mimpi semalam”.
Di kamar tembok bercat merah muda, sebuah fotomu terpajang menghiasi pemandangan dalam kamar. Di pojok kanan meja belajarmu menemani buku-buku yang belum tertata rapi. Sebelah kanan kamar, di tempok tergelantung baju jelanamu, juga kaca mata dadamu. Sepatu yang setiap hari kamu pakai, tergeletak di sisi ranjang. Di atas ranjang itu, kamu bercerita peristiwa lewat mimpi yang kamu alami.
***
Waktu mengalir tak akan berhenti sebelum waktunya. Sejak mimpi itu, hubungan kita semakin mesra, walau hanya lewat dunia maya, maupun lewat HP. Setiap malam, kamu minta di telpon, dan bahkan sehari saja aku tak member kabar berita, kamu sudah kirim SMS dan bertanya. Sebuah kenyataan yang harus aku terima apa adanya.
Aku sendiri tak tahu, kenapa dan kenapa selalu ingin menghubungimu? Padahal, apa yang kita lakukan bukan tanpa resiko. Ada batu besar yang menjadi penghalang, dan kamu tahu itu.
“Aku tahu itu, mas!” katamu tempo hari, di mana aku agak telat menghubungimu. Sebuah mimpi, ya ibarat sebuah mimpi, kita menjalin hubungan selama ini. Aku tak tahu, bagaimana akhirnya nanti. Karena kita bersepakat saling menjaga cinta yang ada, saling percaya, dan saling memahami, juga mau menerima kekurangan serta kelebihan kita masing-masing.
Malam ini sebenarnya tak ada waktu untuk menghubungimu, karena aku harus menyiapkan materi untuk bahan mengajar, belum juga tugas lain yang sempat aku bawa pulang. Di samping itu, ada urusan lain yang harus aku selesaikan malam ini. Aku coba untuk bertahan dan tak menghubungi kamu, tapi apa yang terjadi?
Kosentrasiku terpecah dan aku tak bisa focus ke pekerjaan. Pikiranku selalu tertuju padamu. Akhirnya di sela waktu yang ada, menjelang tengah malam di mana gemintang Nampak bersinar. Aku putuskan dulu menghubungimu dengan berharap, semoga kamu belum tidur, dan menunggu kabarku. Suasana malam sepi, aku ke luar karena tak mau telpon di dalam rumah, takut nantinya membangunkan mereka yang telah tidur lelap.
Begitu ke luar, angin malam menerpa badan. Aku tengadah, melihat bulan tersenyum sendirian. Aku angkat HP dan aku hubungi kamu dengan penuh harap, kamu langsung membalas sapaku, ternyata benar. Penuh dengan nada mesra kau membalas sapaku.
“Malam…mas, kemana aja, kok sejak tadi gak telpon aku!”
“Maaf…sayang, banyak kerjaan yang harus aku selesaikan”
“oh….apa sudah selesai kerjaannya?”
“Belum….!”
“Lanjutkan saja kerjaannya, mas!”
“Terus terang, sayang! Aku tak bisa konsentrasi sebelum telpon kamu!”
“Ya..udah kalau gitu!” katamu dengan mesra dan meminta sesuatu.
“Baik, sayang!”
Sebuah permainan atau apapun namanya. Aku bermesraan denganmu, dan kita saling balas walau hanya lewat kata-kata yang terucap. Kemanjaanmu begitu terasa sekali, nada suaramu begitu manja, membuat aku enggan memutuskan hubungan telepon mala mini.
“Mas..mas…mas….!”
“Iya…sayang!”
“Seandainya mala mini kita benar-benar bersama, apa yang mas lakukan terhadapku”
“Apa…ya…..em….ah, gak etislah kalau aku katakan!”
“Alah, mas! Dengan aku saja kok malu-malu!”
“Aku gak enak…!”
“Nggak…apa-apa, ayo katakana, mas!”
“Oke..oke…akan kukecup bibirmu, akan kulumat bibirmu!”
“Selanjutnya…..!”
“Selanjutnya….”
“Iya….selanjutkan, mas mau apa?”
“Lha, kamu mau apa?”
“Ah….mas! ditanya malah bertanya!”
Tiba-tiba hubungan telepon terputus, dan kita kehilangan kontak. Malam terus berjalan, aku coba lagi menghubungimu.
“Kok putusih, mas!”
“Aku tak tahu!”
“Lanjutkan, mas….!”
“Apanya….”
“Tadi mas bilang, akan kukecup bibirmu….!”
“Oh…itu….yayayaya….!”
Lewat telepon kita bercinta, hingga larut malam, dan di mana pada akhirnya hubungan kita mengalir membahasi kehidupan kita.
Entah sampai kapan hubungan ini berjalan. Mungkinkah selamanya, atau mungkinkah hubungan ini akan menjadi sebuah kenyataan yang sebenarnya. Hanya Tuhan yang punya jawaban, aku hanya mengalir saja, melewati bebatuan penghalang. Dalam mimpi, hanya dalam mimpi hubungan kita begitu mesra sekali.
Haruskah hubungan ini hanya dalam mimpi? Sebuah pertanyaan yang sebenarnya tak sulit untuk dijawab, kalau kamu atau aku berani melawan batu sandungan yang ada di depan mata. Hanya padaNya yang punya keputusan, kita serahkan apa yang terjadi. Karena segala sesuatu itu serba mungkin, dan yang tak mungkin menjadi mungkin. Semoga!***

Selasa, 19 Oktober 2010

Cerpen


Persimpangan Jalan
Oleh : Syt Ethex

Pencaharian ini belum berakhir, dan sampai batas waktu yang tak terbatas, aku akan terus mencari. Jalan yang harus aku lewati masih panjang membentang di depan. Aku tak tahu, apa mungkin melewati jalan itu. Jalan yang penuh lubang dan berdebu, jalan yang penuh goda dan nafsu. Pada setiap jalan aku selalu bertemu, kepalsuan, kecurangan, kebohongan, keamburadolan. Kejujuran sangat sulit aku ditemukan di setiap perjalanan.
Pada persimpangan jalan penuh kendaraan. Warung remang temaram napak tenang ke luar masuk satu dua orang. Aku penasaran, tapi aku ragu melangkahkan kaki. Jangan-jangan warung itu tempat berjudi, tempat bertransaksi, tempat penuh dengan segala kemungkinan yang terjadi, dan aku tak mau dalam perjalanan ini terkantuk batu yang membuat aku berurusan dengan surge duniawi belaka.
Sejenak di persimpangan jalan. Aku menghadapi segala kemungkinan yang tak mungkin aku hindari. Melanjutkan perjalanan atau berhenti sampai di sini? Sebuah pertanyaan yang berat terjawab. Karena pada persimpangan jalan begitu banyak alternatif  yang harus aku hadapi. Kebimbanganku begitu meraja menguasai keinginanku, antara melanjutkan perjalanan dan tidak, begitu sulitnya aku memilih.
Waktu terus mengalir dan tak mungkin berhenti mengalir. Aku ingin mengikuti aliran waktu, dan tak mau berhenti untuk melakukan sebuah pencaharian yang selama ini telah aku lakukan. Pada setiap jalan yang aku lewati, segala kejadian aku rekam dalam ingatan, dan aku catatan bagian-bagian yang penting saja di sebuah buku harian yang selalu menemani aku dalam perjalanan.
Kala waktu pada jalan sebuah kampong. Aku menemukan sebuah kisah yang sangat sulit untuk dilupakan. Seorang anak kecil merengek-rengek minta sesuatu pada ibunya. Dengan wajah yang memelas, anak itu berharap agar ibunya  berkenan meluluskan permintaannya. Tapi ibunya tak menggubris, dan bahkan tak memperhatikan permintaan anaknya. Begitu juga, pada jalan yang lain, ada sebuah peristiwa di mana seorang tua renta berjalan sekuat tenaga, entah mau ke mana. Sepintas melihat raut wajahnya yang sudah keriput, mungkin dia seorang pejuang, yang tegar di dalam menjalani hidupnya.
Semakin jauh berjalanan, semakin penuh kisah-kisah yang terekam. Bahkan buku harianku sudah hampir habis lembarannya, dan hanya tersisa beberapa lembar saja. Sementara itu, di depan mata bentangan jalan masih panjang, dan masih banyak kisah-kisah yang harus aku tuangkan. Apakah aku harus berhenti, setelah lembaran buku harian yang terakhir?
Padahal, aku belum menemukan apa yang aku cari. Aku tengadah melihat matahari yang masih perkasa. Aku berdoa seraya memohon padaNya, akan segera menemukan apa yang aku cari. Pencaharian yang aku lakukan, ternyata bukan pekerjaan yang ringan. Setiap jalan yang aku lewati, selalu aku temui tantangan dan godaan.
Di depan jalan masih panjang membentang, dan jalan itu harus aku lewati. Tapi aku tak mungkin melanjutkan perjalanan. Apalagi jalan di depan bukan jalan biasa, tapi jalan penuh tantangan. Jalan di depan meliwati hutan, walaupun hutan itu tak serindang dulu, banyak pepohonan yang telah ditebang, tapi semak belukar masih mewarnai dan memenuhi hutan itu. Apalagi musim hujan tahun ini agak panjang, semak belukar yang ada nampak segar-segar.
Selain itu, matahari sudah menyambut senja, dan tak lama lagi malam akan menggantikan siang. Aku tak mungkin melanjutkan perjalanan pada malam hari. Mungkin kalau jalan di depan tidak melewati hutan, aku masih berani berani melanjutkan perjalanan.
Aku manusia biasa yang penuh dengan kekurangan, dan hanya secuil kelebihan yang aku miliki. Dari secuil kelebihan itulah, aku mencoba memperkuat keimanan, menghindari sebuah godaan yang terjadi. Sebagaimana yang terjadi semalam, aku bermalam di sebuah rumah warga seijin ketua RT.
“Tujuan anda ke mana?”
“Mencari sesuatu, Pak!” jawabku
“Anda kami persilahkan bermalam, dengan syarat!”
“Baik, syarat apa itu?”
Aku tersentak juga, syarat itu sebenarnya tak berat dan tak sulit. Tapi syarat itu tergantung yang menilainya. Dari sudut pandang mana menilai sebuah syarat yang menurut syariat salah.
Untuk melancarkan sebuah persoalan, kadang aku harus kompromi dengan apa yang terjadi. Begitu juga malam ini, aku harus kompromi dengan apa yang terjadi.
“Baiklah…syarat dan ketentuan aku penuhi, Pak!”
Semalam akhirnya aku bermalam di sebuah kampung yang jauh dari kebisingan kota, yang jauh dari hiruk pikuk persaingan. Kampung ini begitu damai rasanya. Malam mengalir begitu tenang, suara alam begitu merdu terdengar. Desiran angin malam, suara burung malang, dan hilalang saling bersautan.
Serasa malam begitu cepat berjalan, samar-samar kokok ayam jantan sudah memecahkan kendang telingaku. Agak malas juga, aku mengusir mimpi yang belum mau beranjak dari ingatan. Sebuah mimpi yang  berloncatan, dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain, dari satu kejadian ke kejadian yang lain, sehingga mimpi yang aku alami semalam, tak dapat diambil sebuah kesimpulan.
Mungkin terlalu lelah atau ada yang tak beres pada diri ini, kenapa mengalami mimpi yang tak mengalir dalam satu peristiwa saja. Pada sebuah tempat aku terlempar, terjatuh, terguling, dan bangun sekuat tenaga. Tapi di suatu tempat yang indah, aku duduk berdampingan dengan wanita cantik jelita. Rambutnya panjang semampai, kulitnya kuning langsap bersih sekali. Senyumnya meruntuhkan iman, apalagi melihat di dadanya yang tumbuh dua gumpalan padat berisi, yang menyimpan rahasia tersendiri.
Mimpi ini agak panjang juga, karena dari mimpi inilah aku mengakhiri malam di kampung ini. Sebuah mimpi yang tak mungkin hilang dari cacatan memori. Di mana aku bersama wanita jelita sedang bermain di sebuah penginapan sederhana. Lupa diri, aku terbawa nafsu birahi yang sulit untuk dikatakan dan dilukiskan.
Sebuah persimpangan jalan, mimpi yang jauh dari tujuan. Beruntunglah aku, itu terjadi hanya dalam mimpi, bukan dalam kenyataan. Tapi aku tak berani mengatakan, akan mampu menghindari sebuah kenyataan. Karena dalam sebuah perjalanan, segala kemungkinan bisa terjadi dan akan menimpa diri.
Mimpi yang terjadi, aku selipkan pada catatan buku harian, dan kalaupun dalam perjalanan ini benar-benar menghadapi sebagaimana mimpi yang telah aku alami. Mungkin itu sebuah anugrah atau ujian yang harus aku terima dan aku hadapi. Semakin jauh berjalan, aku semakin tak tahu di mana tempat yang aman, hidup bebas dari tekanan, tak ada kebohongan, kelicikan, kepalsuan, korupsi dan saudara-saudaranya.
Pada setiap persimpangan jalan yang aku lewati. Selalu kudapatkan peristiwa yang menyalahi aturan. Tapi anehnya masyarakat seakan sudah biasa melihat dan bahkan ikut merasakan persimpangan-persimpangan jalan yang ada. Bahkan masyarakat ikut berlomba menggunakan persimpangan jalan untuk mendapatkan keinginannya.
Pencaharianku semakin jauh dan jauh, karena selalu menemukan persimpangan jalan yang harus aku lewati, dan tak mungkin aku menghindari persimpangan jalan itu.***

Kamis, 14 Oktober 2010

Cerpen


PETA  KOTA
Oleh : Syt  Ethex

Membaca peta kota yang  aku beli di toko buku, aku semakin bingung. Tanggul pengedali lumpur lapindo tak tergambar dalam peta, yang ada gambar jalan layang  meliuk-liuk menggusur ladang pertanian, lumbung padi penompang makanan pokok rakyat negeri ini.
Pesanmu lewat SMS tempo hari, beli peta kota, rumahku dekat jembatan layang yang menghubungkan kota Surabaya dengan kota Sidoarjo yang telah ternoda oleh luapan lumpur lapindo. Padahal jembatan layang itu sudah ikut tenggelam. Mungkinkah kamu lupa, kalau kota Sidoarjo tak seperti dulu lagi, banyak perubahan yang berarti.
Begitu juga kota Surabaya, setali tiga uang, kota Surabaya sendiri penuh dengan perubahan. Duh, bagaimana ini? Jangan-jangan rumahmu juga kena gusur, atau ada tambahan beberapa bangunan di sekitarnya. Wah, bagaimana ini? Haruskah aku pulang, kembali ke desa, kampung halaman yang di mana juga terjadi perubahan, sebagian tanah persawahan terkena landasan untuk jalan tol yang akan menghubungkan Surabaya dengan Mojokerto.
Matahari sudah ada di atas kepala, teriaknya tak begitu lama, karena mendung datang menghalangi sinarnya. Akhir-akhir ini musim sulit dipridiksi, menurut hitungan yang sudah dipercaya oleh masyarakat. Sebenarnya bulan ini sudah tak ada hujan. Itulah sebabnya,  banyak masyarakat yang beralih profesi membuat batu bata. Tapi apa yang terjadi?
Perubahan musim yang tak konsisten seakan-akan mencerminkan sikap manusia yang akhir-akhir ini berpolah tingkah salah kaprah, membuat peraturan dan aturan dilanggaran sendiri, kekonsistensinya melengceng dari kepribadian bangsa yang mengenal rasa unggah-ungguh, sopan-santun, tepo slira, yang merupakan budaya warisan dari nenek moyang serta jauh dari norma-norma akar budayanya sendiri.
Kemajuan jaman, kemajuan peradaban menelan korban berjatuhan. Di kota semakin tak ramah lagi, di desa terinfeksi virus-virus ganas yang menggerogoti anak-anak muda, dan tak jarang tersiar berita seorang anak berani orang tuanya sendiri, menuntut sesuatu tanpa peduli keberadaan ekonomi keluarganya.
“Sudah jam sekian sampean kok belum sampai?” sebuah pesan lewat SMS darimu.
Aku tak membalas, krusor aku arahkan ke menu panggilan, begitu terhubung, “Kamu minta aku beli peta kota!”
“Iya…kenapa?”
“Apakah kamu lupa, kalau peta kota yang ada sudah tak sesuai dengan keadaan yang ada?”
Kamu diam tak menjawab
“Halo…halo….!”
Kamu tak menjawab, diam hanya suara desah terdengar. Aku ngebel kamu lagi, dan lagi-lagi kamu tak mau mengakat. Busset, kurang ajar, dancuk, bahasa kasar melayang dalam pikiran. Tapi aku mencoba bersabar. Mencoba menguasai keadaan.
Kembali, sekali lagi aku melihat peta kota, dan entah berapa kali aku melihat peta kota. Tapi belum juga ada tanda yang dapat kujadikan pedoman melanjutkan pencaharian.
“Goblok…!”
Aku terhenyak, temanku yang sejak berangkat dari rumah menemani dengan setia, berkata mengagetkan, “Yang goblok itu siapa?”
“Kamu…!”
“Kamu…!
“Bangsat….kamu jangan ikut-ikutan, biar masalah ini aku hadapi sendiri. Kamu punya wilayah sendiri, dan aku punya wilayah sendiri”
“Tapi kita selalu bersama!”
“Kapan?”
“Sejak kamu lahir, aku selalu mengikuti kamu, apakah kamu tak sadar, kalau selama ini aku ikuti kamu?”
“Siapa kamu….?”
“Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku!”
Aku diam, menghela nafas dalam dan dalam sekali. Teriak matahari begitu keras sekali, tapi tak lama juga, karena segerombolan awan datang menghalangi. Apakah aku harus melanjutkan pencaharian ini? Sebuah pertanyaan tiba-tiba datang dan membonsai keinginanku untuk bertemu kamu.
Ah…mungkin lebih baik aku tak melanjutkan pencaharian ini, dan pulang kembali menyimpan segala keinginan menjadi sebuah monument tersendiri di dalam hati.
“Goblok, baca peta begitu saja gak bisa!”
Buset..! suaramu datang lagi. Apa kamu tak tahu, kalau peta yang aku beli ini cetakaan lama, dan cetakan yang terbaru belum terbit. Karena tak ada orang yang mau lagi, mensurvi keadaan kota, mengikuti perkembangan kota. Orang-orang pada sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
“Apa kamu bilang?” tanyaku
“Mulai kapan kamu goblok?” jawabmu dengan pertanyaan yang membuat aku ingin menangkapmu dan menjotosmu kuat-kuat hingga kamu terkapar di atas aspal.
Sayang! Tiba-tiba ada motor melaju kencang dan hampir menabrak aku. Kalau tidak, mungkin kamu aku tangkap.
“Tuh…tolong dia..kasihan..dia!” katamu dengan nada kalem, “Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku. Mari kita bantu dia!” lanjutmu
Dan, plak….aku tersedar begitu melihat seorang gadis merintih di sebelah motornya. Aku tersadar, telah mengalami gejolak dalam diri sendiri. Dengan sigap aku berlari kecil menghampiri korban.
“Trims…Mas!”
“Sama-sama, sampean tadi kenapa. Kok naik motor tak terkendali?” tanyaku begitu si gadis sudah mampu menguasai dirinya.
“Mas…mungkin mereka masih mengejar aku!” jawabnya diluar konteks pertanyaanku.
Benar juga apa yang dikatakan, dari arah barat dua pemuda berboncengan datang dan dengan tergesa-gesa menghampiri kami. Si gadis bergerak ke belakangku, dan aku dujadikan tameng hidupnya. Melihat gelagat dua pemuda yang kurang sedap. Aku mencoba menguasai diri.
“Ada apa mas sebenarnya?” tanyaku
“Dia itu perempuan yang tak tahu diri!” jawab salah satu pemuda
“Maaf…aku tak mau mencampuri urusan kalian. Tapi kalau mas-mas memaksakan kehendak, apalagi dengan perempuan, aku tak mau diam!” kataku dengan sikap menantang.
Dua pemuda itu saling pandang, dan entah apa yang dibicarakan. Tiba-tiba salah satunya menghampiri aku.
“Begini aja mas, aku minta ganti rugi”
“Maksud sampean?”
“Kita sama-sama lelaki, mas!”
“Oke….berapa?”
“Segini..!” katanya dan langsung menyerang aku dengan bogem mentahnya.
Subbekhanalah…kalau aku tak sigap, mungkin aku sudah tersungkur di atas aspel. Perkelaian terjadi tak seimbang, karena aku harus meladeni dua pemuda. Kalau tak ada petugas polisi lewat. Mungkin aku sudah sekarat.
“Ayo…ke kantor semua…!”
Dengan merasa sakit karena terkena bogeman, aku mengikuti kemauan polisi bersama si gadis, dan dua pemuda yang telah mengkroyok aku. Di kantor polisi hanya sebentar dan tak lama. Karena aku mampu menunjukkan semua dokumen yang di minta. Sementara itu, dua pemuda yang mengkroyok aku masih distrap di kantor polisi.
Sebenarnya, aku ingin meninggalkan kantor polisi sendirian, dan akan kembali melanjutkan sebuah pencaharian yang tertunda. Tapi, si gadis yang telah aku bantu menghentikan langkahku. Demi dia, dengan pengakuan bohong aku katakan pada polisi, kalau dia adik kandungku sendiri, dan kamipun dipersilahkan pergi.
Peta kota masih aku bawa, dengan langkah guntai aku ke luar dari halaman kantor polisi.
“Motormu mana?”
“Ditahan polisi, mas”
“Aku ke kota ini sedang mencari seseorang, kamu tak mungkin mengikuti aku. Lebih baik kamu pulang sendiri”.
“Tidak, Mas….kalau bisa mas mengantarkan aku, kan mas juga perlu istirahat”.
Benar juga apa yang dikatakan. Lagi pula, kami belum saling kenal. Apa salahnya kalau aku menurutinya.
“Baiklah…!” kataku lalu mengikuti kemauannya
Ternyata rumah dia tak jauh juga, dengan angkutan satu jurusan sudah sampai.
“Ini tempat kost aku, Mas, silahkan masuk!”
“Terima kasih….!”
“Sebentar, Mas. Aku buatkan minuman dulu. Mas boleh tidur-tiduran kalau mau”.
Begitu dia masuk ke ruang sebelah. Aku teringat apa yang dikatakan dua pemuda. Ah…mungkinkah dia gadis panggilan? Kalau melihat lagak dan gayanya, polah dan tingkahnya, apalagi body tumbuhnya. Ah…!
“Mas….!”
Aku tersentak, dia sudah ke luar dan sudah ganti pakaian. Aku terkesima, dan terdiam.
“Orang memanggil aku, Bety! Tapi namaku sebenarnya Lasmi. Aku datang dari desa, sampai di kota terjerumus di lubang hina. Aku sangat berterima kasih, karena Mas sudah membantu aku!” katanya sambil meletakkan segelas kopi di meja.
Aku teringat peta kota, duh di mana peta kotaku. Waduh, kalau tertinggal di kantor polisi, bagaimana mengambilnya. Sementara itu, aku sudah lupa kantor polisi mana yang harus aku datangi.
“Ada apa Mas?”
“Peta kota, aku tadi membawa peta kota”
“Apakah yang Mas maksud ini!” katanya sambil menunjukkan peta kota.
“Sykurlah…gak hilang. Aku mau melanjutkan perjalanan!”
“Sabar tho, Mas. Sebenarnya mas mau ke mana?”
“Aku mau melanjutkan pencaharianku, aku ingin membuktikan pada dia, bahwa peta kota sudah berubah”.
“Mas telah membantu aku. Sekarang aku harus membantu mas. Tapi karena waktunya sudah sore dan menjelang malam. Lebih baik mas nginap di sini dulu, besok kita lanjutkan perjalanan”
Haruskah aku menolak tawaran Lasmi? Menunda pencaharian dulu, dan beristirah semalam di tempat kost Lasmi.
“Aku tak memaksa, tapi semua aku tawarkan, karena mas telah menyelamatkan aku dari cengkraman mereka. Apakah mas hanya sampai di sini membantu aku?”
“Maksudmu!” kataku tak mengerti apa yang diinginkan
“Sudah lama aku ingin meninggalkan dunia ini, meninggalkan dunia yang penuh kepalsuan belaka, meninggalkan…!” Lasmi menghela nafas dalam dan dalam sekali. Pandangannya menerawang membentur ruang dan waktu. Dengan nada memelas penuh penyesalan, Lasmi menceritakan dirinya.
Aku diam dan mendengarkan kata demi kata yang dituturkan. Sebuah perjuangan anak manusia yang ingin merubah ekonomi kehidupan yang pada akhirnya mimpinya hilang karena tergoda oleh rayuan kemerlapnya kota metropolitan.
“Begitulah mas ceritaku. Ingin rasanya aku bunuh diri!” kata Lasmi mengakhiri ceritanya.
“Tapi pencaharianku belum selesai, aku harus melanjutkan perjalanan. Aku ingin merubah peta kota sedetil-detilnya, biar tak menyesatkan orang lain”  kataku.
“Mas, benerkah mas tega meninggalkan aku?” Tanya Lasmi dengan pandangan matanya bening penuh harapan agar aku bersedia membantu bangkit dari dunia remang-remangnya.
Aku hanya menghelas nafas. Sebuah perjuangan yang mungkin tak ringan kalau aku bersedia membantu Lasmi ke luar dari dunia remang-remang. Dunia reman-remang yang juga bagian dari peta kota. Sedangkan pencaharianku belum tentu ketemu, dan kamu sudah tak menghubungi aku lagi.***