Jumat, 22 Oktober 2010

Cerpen


Dalam Mimpi
Oleh : Syt  Ethex

Apa? Tersentak juga aku menerima SMSmu yang member kabar kalau semalam kamu bermimpi bersamaku. Sebuah mimpi yang indah dan tak mungkin akan terjadi sebenarnya tanpa ijin-Nya. Ceplas, ceplos tanpa rasa risih, kamu ceritakan mimpimu, dan menyeret anganku membayangkan mimpimu itu.
Andaikata, seandainya, itu bukan mimpi. Di sebuah ranjang malam berselimut cinta. Kita tumpahkan segala rasa yang selama ini tertahan. Malam berjalan begitu lembut, kau pasrahkan dirimu tanpa ragu, dan aku menerima kepasrahanmu penuh dengan cinta yang selama ini telah kita rasa bersama. Kau biarkan jemariku bermain di tanah bukit kembarmu, dan kau hanya menggeliat-geliat begitu tanganku mulai nakal.
Benarkah apa yang kamu katakana? Ada rasa ragu menyelinap dibenakku.
“Mas…gak percaya?” tanyamu
“Bukan tak percaya, sayang!”
“Aku sendiri tak tahu, kenapa bisa mimpi begitu, Mas!” suaramu pelan meyakinkan.
“Jadi….kamu benar-benar mimpi bersamaku?”
“Haruskah aku berbohong padamu, Mas!”
“Uh…aku tak mampu membayangkan, sayang”
Tanpa sehelai kain malam itu kita berdua di atas ranjang malam yang indah penuh warna. Kita bermain  kuda lumping hingga akirnya kita sama-sama tak berdaya. Kau tahu, mas! Itu sebenarnya aku harapkan, walau hanya dalam mimpi, aku menikmatinya. Aku berharap mimpi itu terulang lagi mas, dan bahkan aku berharap juga, mimpi itu menjadi kenyataan, walau entah kapan itu terjadi.
Aku tahu, aku sadar, siapa aku, siapa kamu, dan siapa kita. Apakah aku salah bila mempunyai harapan itu. Apapun yang terjadi, aku akan menunggumu, sampai batas waktunya.
“Mas…kok diam…!”
“Enggak kok, sayang! Aku mendengarkan!”
“Tapi, kenapa diam?”
“Pikiranku terbawa ceritamu!”
“Bener lho, mas! Aku gak bohong, mau bukti!”
“Aku percaya, ini kan sudah bukti, kamu telpon aku hanya ingin bercerita tentang mimpi semalam”.
Di kamar tembok bercat merah muda, sebuah fotomu terpajang menghiasi pemandangan dalam kamar. Di pojok kanan meja belajarmu menemani buku-buku yang belum tertata rapi. Sebelah kanan kamar, di tempok tergelantung baju jelanamu, juga kaca mata dadamu. Sepatu yang setiap hari kamu pakai, tergeletak di sisi ranjang. Di atas ranjang itu, kamu bercerita peristiwa lewat mimpi yang kamu alami.
***
Waktu mengalir tak akan berhenti sebelum waktunya. Sejak mimpi itu, hubungan kita semakin mesra, walau hanya lewat dunia maya, maupun lewat HP. Setiap malam, kamu minta di telpon, dan bahkan sehari saja aku tak member kabar berita, kamu sudah kirim SMS dan bertanya. Sebuah kenyataan yang harus aku terima apa adanya.
Aku sendiri tak tahu, kenapa dan kenapa selalu ingin menghubungimu? Padahal, apa yang kita lakukan bukan tanpa resiko. Ada batu besar yang menjadi penghalang, dan kamu tahu itu.
“Aku tahu itu, mas!” katamu tempo hari, di mana aku agak telat menghubungimu. Sebuah mimpi, ya ibarat sebuah mimpi, kita menjalin hubungan selama ini. Aku tak tahu, bagaimana akhirnya nanti. Karena kita bersepakat saling menjaga cinta yang ada, saling percaya, dan saling memahami, juga mau menerima kekurangan serta kelebihan kita masing-masing.
Malam ini sebenarnya tak ada waktu untuk menghubungimu, karena aku harus menyiapkan materi untuk bahan mengajar, belum juga tugas lain yang sempat aku bawa pulang. Di samping itu, ada urusan lain yang harus aku selesaikan malam ini. Aku coba untuk bertahan dan tak menghubungi kamu, tapi apa yang terjadi?
Kosentrasiku terpecah dan aku tak bisa focus ke pekerjaan. Pikiranku selalu tertuju padamu. Akhirnya di sela waktu yang ada, menjelang tengah malam di mana gemintang Nampak bersinar. Aku putuskan dulu menghubungimu dengan berharap, semoga kamu belum tidur, dan menunggu kabarku. Suasana malam sepi, aku ke luar karena tak mau telpon di dalam rumah, takut nantinya membangunkan mereka yang telah tidur lelap.
Begitu ke luar, angin malam menerpa badan. Aku tengadah, melihat bulan tersenyum sendirian. Aku angkat HP dan aku hubungi kamu dengan penuh harap, kamu langsung membalas sapaku, ternyata benar. Penuh dengan nada mesra kau membalas sapaku.
“Malam…mas, kemana aja, kok sejak tadi gak telpon aku!”
“Maaf…sayang, banyak kerjaan yang harus aku selesaikan”
“oh….apa sudah selesai kerjaannya?”
“Belum….!”
“Lanjutkan saja kerjaannya, mas!”
“Terus terang, sayang! Aku tak bisa konsentrasi sebelum telpon kamu!”
“Ya..udah kalau gitu!” katamu dengan mesra dan meminta sesuatu.
“Baik, sayang!”
Sebuah permainan atau apapun namanya. Aku bermesraan denganmu, dan kita saling balas walau hanya lewat kata-kata yang terucap. Kemanjaanmu begitu terasa sekali, nada suaramu begitu manja, membuat aku enggan memutuskan hubungan telepon mala mini.
“Mas..mas…mas….!”
“Iya…sayang!”
“Seandainya mala mini kita benar-benar bersama, apa yang mas lakukan terhadapku”
“Apa…ya…..em….ah, gak etislah kalau aku katakan!”
“Alah, mas! Dengan aku saja kok malu-malu!”
“Aku gak enak…!”
“Nggak…apa-apa, ayo katakana, mas!”
“Oke..oke…akan kukecup bibirmu, akan kulumat bibirmu!”
“Selanjutnya…..!”
“Selanjutnya….”
“Iya….selanjutkan, mas mau apa?”
“Lha, kamu mau apa?”
“Ah….mas! ditanya malah bertanya!”
Tiba-tiba hubungan telepon terputus, dan kita kehilangan kontak. Malam terus berjalan, aku coba lagi menghubungimu.
“Kok putusih, mas!”
“Aku tak tahu!”
“Lanjutkan, mas….!”
“Apanya….”
“Tadi mas bilang, akan kukecup bibirmu….!”
“Oh…itu….yayayaya….!”
Lewat telepon kita bercinta, hingga larut malam, dan di mana pada akhirnya hubungan kita mengalir membahasi kehidupan kita.
Entah sampai kapan hubungan ini berjalan. Mungkinkah selamanya, atau mungkinkah hubungan ini akan menjadi sebuah kenyataan yang sebenarnya. Hanya Tuhan yang punya jawaban, aku hanya mengalir saja, melewati bebatuan penghalang. Dalam mimpi, hanya dalam mimpi hubungan kita begitu mesra sekali.
Haruskah hubungan ini hanya dalam mimpi? Sebuah pertanyaan yang sebenarnya tak sulit untuk dijawab, kalau kamu atau aku berani melawan batu sandungan yang ada di depan mata. Hanya padaNya yang punya keputusan, kita serahkan apa yang terjadi. Karena segala sesuatu itu serba mungkin, dan yang tak mungkin menjadi mungkin. Semoga!***

Tidak ada komentar: