PETA KOTA
Oleh : Syt Ethex
Membaca peta kota yang aku beli di toko buku, aku semakin bingung. Tanggul pengedali lumpur lapindo tak tergambar dalam peta, yang ada gambar jalan layang meliuk-liuk menggusur ladang pertanian, lumbung padi penompang makanan pokok rakyat negeri ini.
Pesanmu lewat SMS tempo hari, beli peta kota, rumahku dekat jembatan layang yang menghubungkan kota Surabaya dengan kota Sidoarjo yang telah ternoda oleh luapan lumpur lapindo. Padahal jembatan layang itu sudah ikut tenggelam. Mungkinkah kamu lupa, kalau kota Sidoarjo tak seperti dulu lagi, banyak perubahan yang berarti.
Begitu juga kota Surabaya, setali tiga uang, kota Surabaya sendiri penuh dengan perubahan. Duh, bagaimana ini? Jangan-jangan rumahmu juga kena gusur, atau ada tambahan beberapa bangunan di sekitarnya. Wah, bagaimana ini? Haruskah aku pulang, kembali ke desa, kampung halaman yang di mana juga terjadi perubahan, sebagian tanah persawahan terkena landasan untuk jalan tol yang akan menghubungkan Surabaya dengan Mojokerto.
Matahari sudah ada di atas kepala, teriaknya tak begitu lama, karena mendung datang menghalangi sinarnya. Akhir-akhir ini musim sulit dipridiksi, menurut hitungan yang sudah dipercaya oleh masyarakat. Sebenarnya bulan ini sudah tak ada hujan. Itulah sebabnya, banyak masyarakat yang beralih profesi membuat batu bata. Tapi apa yang terjadi?
Perubahan musim yang tak konsisten seakan-akan mencerminkan sikap manusia yang akhir-akhir ini berpolah tingkah salah kaprah, membuat peraturan dan aturan dilanggaran sendiri, kekonsistensinya melengceng dari kepribadian bangsa yang mengenal rasa unggah-ungguh, sopan-santun, tepo slira, yang merupakan budaya warisan dari nenek moyang serta jauh dari norma-norma akar budayanya sendiri.
Kemajuan jaman, kemajuan peradaban menelan korban berjatuhan. Di kota semakin tak ramah lagi, di desa terinfeksi virus-virus ganas yang menggerogoti anak-anak muda, dan tak jarang tersiar berita seorang anak berani orang tuanya sendiri, menuntut sesuatu tanpa peduli keberadaan ekonomi keluarganya.
“Sudah jam sekian sampean kok belum sampai?” sebuah pesan lewat SMS darimu.
Aku tak membalas, krusor aku arahkan ke menu panggilan, begitu terhubung, “Kamu minta aku beli peta kota!”
“Iya…kenapa?”
“Apakah kamu lupa, kalau peta kota yang ada sudah tak sesuai dengan keadaan yang ada?”
Kamu diam tak menjawab
“Halo…halo….!”
Kamu tak menjawab, diam hanya suara desah terdengar. Aku ngebel kamu lagi, dan lagi-lagi kamu tak mau mengakat. Busset, kurang ajar, dancuk, bahasa kasar melayang dalam pikiran. Tapi aku mencoba bersabar. Mencoba menguasai keadaan.
Kembali, sekali lagi aku melihat peta kota, dan entah berapa kali aku melihat peta kota. Tapi belum juga ada tanda yang dapat kujadikan pedoman melanjutkan pencaharian.
“Goblok…!”
Aku terhenyak, temanku yang sejak berangkat dari rumah menemani dengan setia, berkata mengagetkan, “Yang goblok itu siapa?”
“Kamu…!”
“Kamu…!
“Bangsat….kamu jangan ikut-ikutan, biar masalah ini aku hadapi sendiri. Kamu punya wilayah sendiri, dan aku punya wilayah sendiri”
“Tapi kita selalu bersama!”
“Kapan?”
“Sejak kamu lahir, aku selalu mengikuti kamu, apakah kamu tak sadar, kalau selama ini aku ikuti kamu?”
“Siapa kamu….?”
“Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku!”
Aku diam, menghela nafas dalam dan dalam sekali. Teriak matahari begitu keras sekali, tapi tak lama juga, karena segerombolan awan datang menghalangi. Apakah aku harus melanjutkan pencaharian ini? Sebuah pertanyaan tiba-tiba datang dan membonsai keinginanku untuk bertemu kamu.
Ah…mungkin lebih baik aku tak melanjutkan pencaharian ini, dan pulang kembali menyimpan segala keinginan menjadi sebuah monument tersendiri di dalam hati.
“Goblok, baca peta begitu saja gak bisa!”
Buset..! suaramu datang lagi. Apa kamu tak tahu, kalau peta yang aku beli ini cetakaan lama, dan cetakan yang terbaru belum terbit. Karena tak ada orang yang mau lagi, mensurvi keadaan kota, mengikuti perkembangan kota. Orang-orang pada sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
“Apa kamu bilang?” tanyaku
“Mulai kapan kamu goblok?” jawabmu dengan pertanyaan yang membuat aku ingin menangkapmu dan menjotosmu kuat-kuat hingga kamu terkapar di atas aspal.
Sayang! Tiba-tiba ada motor melaju kencang dan hampir menabrak aku. Kalau tidak, mungkin kamu aku tangkap.
“Tuh…tolong dia..kasihan..dia!” katamu dengan nada kalem, “Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku. Mari kita bantu dia!” lanjutmu
Dan, plak….aku tersedar begitu melihat seorang gadis merintih di sebelah motornya. Aku tersadar, telah mengalami gejolak dalam diri sendiri. Dengan sigap aku berlari kecil menghampiri korban.
“Trims…Mas!”
“Sama-sama, sampean tadi kenapa. Kok naik motor tak terkendali?” tanyaku begitu si gadis sudah mampu menguasai dirinya.
“Mas…mungkin mereka masih mengejar aku!” jawabnya diluar konteks pertanyaanku.
Benar juga apa yang dikatakan, dari arah barat dua pemuda berboncengan datang dan dengan tergesa-gesa menghampiri kami. Si gadis bergerak ke belakangku, dan aku dujadikan tameng hidupnya. Melihat gelagat dua pemuda yang kurang sedap. Aku mencoba menguasai diri.
“Ada apa mas sebenarnya?” tanyaku
“Dia itu perempuan yang tak tahu diri!” jawab salah satu pemuda
“Maaf…aku tak mau mencampuri urusan kalian. Tapi kalau mas-mas memaksakan kehendak, apalagi dengan perempuan, aku tak mau diam!” kataku dengan sikap menantang.
Dua pemuda itu saling pandang, dan entah apa yang dibicarakan. Tiba-tiba salah satunya menghampiri aku.
“Begini aja mas, aku minta ganti rugi”
“Maksud sampean?”
“Kita sama-sama lelaki, mas!”
“Oke….berapa?”
“Segini..!” katanya dan langsung menyerang aku dengan bogem mentahnya.
Subbekhanalah…kalau aku tak sigap, mungkin aku sudah tersungkur di atas aspel. Perkelaian terjadi tak seimbang, karena aku harus meladeni dua pemuda. Kalau tak ada petugas polisi lewat. Mungkin aku sudah sekarat.
“Ayo…ke kantor semua…!”
Dengan merasa sakit karena terkena bogeman, aku mengikuti kemauan polisi bersama si gadis, dan dua pemuda yang telah mengkroyok aku. Di kantor polisi hanya sebentar dan tak lama. Karena aku mampu menunjukkan semua dokumen yang di minta. Sementara itu, dua pemuda yang mengkroyok aku masih distrap di kantor polisi.
Sebenarnya, aku ingin meninggalkan kantor polisi sendirian, dan akan kembali melanjutkan sebuah pencaharian yang tertunda. Tapi, si gadis yang telah aku bantu menghentikan langkahku. Demi dia, dengan pengakuan bohong aku katakan pada polisi, kalau dia adik kandungku sendiri, dan kamipun dipersilahkan pergi.
Peta kota masih aku bawa, dengan langkah guntai aku ke luar dari halaman kantor polisi.
“Motormu mana?”
“Ditahan polisi, mas”
“Aku ke kota ini sedang mencari seseorang, kamu tak mungkin mengikuti aku. Lebih baik kamu pulang sendiri”.
“Tidak, Mas….kalau bisa mas mengantarkan aku, kan mas juga perlu istirahat”.
Benar juga apa yang dikatakan. Lagi pula, kami belum saling kenal. Apa salahnya kalau aku menurutinya.
“Baiklah…!” kataku lalu mengikuti kemauannya
Ternyata rumah dia tak jauh juga, dengan angkutan satu jurusan sudah sampai.
“Ini tempat kost aku, Mas, silahkan masuk!”
“Terima kasih….!”
“Sebentar, Mas. Aku buatkan minuman dulu. Mas boleh tidur-tiduran kalau mau”.
Begitu dia masuk ke ruang sebelah. Aku teringat apa yang dikatakan dua pemuda. Ah…mungkinkah dia gadis panggilan? Kalau melihat lagak dan gayanya, polah dan tingkahnya, apalagi body tumbuhnya. Ah…!
“Mas….!”
Aku tersentak, dia sudah ke luar dan sudah ganti pakaian. Aku terkesima, dan terdiam.
“Orang memanggil aku, Bety! Tapi namaku sebenarnya Lasmi. Aku datang dari desa, sampai di kota terjerumus di lubang hina. Aku sangat berterima kasih, karena Mas sudah membantu aku!” katanya sambil meletakkan segelas kopi di meja.
Aku teringat peta kota, duh di mana peta kotaku. Waduh, kalau tertinggal di kantor polisi, bagaimana mengambilnya. Sementara itu, aku sudah lupa kantor polisi mana yang harus aku datangi.
“Ada apa Mas?”
“Peta kota, aku tadi membawa peta kota”
“Apakah yang Mas maksud ini!” katanya sambil menunjukkan peta kota.
“Sykurlah…gak hilang. Aku mau melanjutkan perjalanan!”
“Sabar tho, Mas. Sebenarnya mas mau ke mana?”
“Aku mau melanjutkan pencaharianku, aku ingin membuktikan pada dia, bahwa peta kota sudah berubah”.
“Mas telah membantu aku. Sekarang aku harus membantu mas. Tapi karena waktunya sudah sore dan menjelang malam. Lebih baik mas nginap di sini dulu, besok kita lanjutkan perjalanan”
Haruskah aku menolak tawaran Lasmi? Menunda pencaharian dulu, dan beristirah semalam di tempat kost Lasmi.
“Aku tak memaksa, tapi semua aku tawarkan, karena mas telah menyelamatkan aku dari cengkraman mereka. Apakah mas hanya sampai di sini membantu aku?”
“Maksudmu!” kataku tak mengerti apa yang diinginkan
“Sudah lama aku ingin meninggalkan dunia ini, meninggalkan dunia yang penuh kepalsuan belaka, meninggalkan…!” Lasmi menghela nafas dalam dan dalam sekali. Pandangannya menerawang membentur ruang dan waktu. Dengan nada memelas penuh penyesalan, Lasmi menceritakan dirinya.
Aku diam dan mendengarkan kata demi kata yang dituturkan. Sebuah perjuangan anak manusia yang ingin merubah ekonomi kehidupan yang pada akhirnya mimpinya hilang karena tergoda oleh rayuan kemerlapnya kota metropolitan.
“Begitulah mas ceritaku. Ingin rasanya aku bunuh diri!” kata Lasmi mengakhiri ceritanya.
“Tapi pencaharianku belum selesai, aku harus melanjutkan perjalanan. Aku ingin merubah peta kota sedetil-detilnya, biar tak menyesatkan orang lain” kataku.
“Mas, benerkah mas tega meninggalkan aku?” Tanya Lasmi dengan pandangan matanya bening penuh harapan agar aku bersedia membantu bangkit dari dunia remang-remangnya.
Aku hanya menghelas nafas. Sebuah perjuangan yang mungkin tak ringan kalau aku bersedia membantu Lasmi ke luar dari dunia remang-remang. Dunia reman-remang yang juga bagian dari peta kota. Sedangkan pencaharianku belum tentu ketemu, dan kamu sudah tak menghubungi aku lagi.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar