Persimpangan Jalan
Oleh : Syt Ethex
Pencaharian ini belum berakhir, dan sampai batas waktu yang tak terbatas, aku akan terus mencari. Jalan yang harus aku lewati masih panjang membentang di depan. Aku tak tahu, apa mungkin melewati jalan itu. Jalan yang penuh lubang dan berdebu, jalan yang penuh goda dan nafsu. Pada setiap jalan aku selalu bertemu, kepalsuan, kecurangan, kebohongan, keamburadolan. Kejujuran sangat sulit aku ditemukan di setiap perjalanan.
Pada persimpangan jalan penuh kendaraan. Warung remang temaram napak tenang ke luar masuk satu dua orang. Aku penasaran, tapi aku ragu melangkahkan kaki. Jangan-jangan warung itu tempat berjudi, tempat bertransaksi, tempat penuh dengan segala kemungkinan yang terjadi, dan aku tak mau dalam perjalanan ini terkantuk batu yang membuat aku berurusan dengan surge duniawi belaka.
Sejenak di persimpangan jalan. Aku menghadapi segala kemungkinan yang tak mungkin aku hindari. Melanjutkan perjalanan atau berhenti sampai di sini? Sebuah pertanyaan yang berat terjawab. Karena pada persimpangan jalan begitu banyak alternatif yang harus aku hadapi. Kebimbanganku begitu meraja menguasai keinginanku, antara melanjutkan perjalanan dan tidak, begitu sulitnya aku memilih.
Waktu terus mengalir dan tak mungkin berhenti mengalir. Aku ingin mengikuti aliran waktu, dan tak mau berhenti untuk melakukan sebuah pencaharian yang selama ini telah aku lakukan. Pada setiap jalan yang aku lewati, segala kejadian aku rekam dalam ingatan, dan aku catatan bagian-bagian yang penting saja di sebuah buku harian yang selalu menemani aku dalam perjalanan.
Kala waktu pada jalan sebuah kampong. Aku menemukan sebuah kisah yang sangat sulit untuk dilupakan. Seorang anak kecil merengek-rengek minta sesuatu pada ibunya. Dengan wajah yang memelas, anak itu berharap agar ibunya berkenan meluluskan permintaannya. Tapi ibunya tak menggubris, dan bahkan tak memperhatikan permintaan anaknya. Begitu juga, pada jalan yang lain, ada sebuah peristiwa di mana seorang tua renta berjalan sekuat tenaga, entah mau ke mana. Sepintas melihat raut wajahnya yang sudah keriput, mungkin dia seorang pejuang, yang tegar di dalam menjalani hidupnya.
Semakin jauh berjalanan, semakin penuh kisah-kisah yang terekam. Bahkan buku harianku sudah hampir habis lembarannya, dan hanya tersisa beberapa lembar saja. Sementara itu, di depan mata bentangan jalan masih panjang, dan masih banyak kisah-kisah yang harus aku tuangkan. Apakah aku harus berhenti, setelah lembaran buku harian yang terakhir?
Padahal, aku belum menemukan apa yang aku cari. Aku tengadah melihat matahari yang masih perkasa. Aku berdoa seraya memohon padaNya, akan segera menemukan apa yang aku cari. Pencaharian yang aku lakukan, ternyata bukan pekerjaan yang ringan. Setiap jalan yang aku lewati, selalu aku temui tantangan dan godaan.
Di depan jalan masih panjang membentang, dan jalan itu harus aku lewati. Tapi aku tak mungkin melanjutkan perjalanan. Apalagi jalan di depan bukan jalan biasa, tapi jalan penuh tantangan. Jalan di depan meliwati hutan, walaupun hutan itu tak serindang dulu, banyak pepohonan yang telah ditebang, tapi semak belukar masih mewarnai dan memenuhi hutan itu. Apalagi musim hujan tahun ini agak panjang, semak belukar yang ada nampak segar-segar.
Selain itu, matahari sudah menyambut senja, dan tak lama lagi malam akan menggantikan siang. Aku tak mungkin melanjutkan perjalanan pada malam hari. Mungkin kalau jalan di depan tidak melewati hutan, aku masih berani berani melanjutkan perjalanan.
Aku manusia biasa yang penuh dengan kekurangan, dan hanya secuil kelebihan yang aku miliki. Dari secuil kelebihan itulah, aku mencoba memperkuat keimanan, menghindari sebuah godaan yang terjadi. Sebagaimana yang terjadi semalam, aku bermalam di sebuah rumah warga seijin ketua RT.
“Tujuan anda ke mana?”
“Mencari sesuatu, Pak!” jawabku
“Anda kami persilahkan bermalam, dengan syarat!”
“Baik, syarat apa itu?”
Aku tersentak juga, syarat itu sebenarnya tak berat dan tak sulit. Tapi syarat itu tergantung yang menilainya. Dari sudut pandang mana menilai sebuah syarat yang menurut syariat salah.
Untuk melancarkan sebuah persoalan, kadang aku harus kompromi dengan apa yang terjadi. Begitu juga malam ini, aku harus kompromi dengan apa yang terjadi.
“Baiklah…syarat dan ketentuan aku penuhi, Pak!”
Semalam akhirnya aku bermalam di sebuah kampung yang jauh dari kebisingan kota, yang jauh dari hiruk pikuk persaingan. Kampung ini begitu damai rasanya. Malam mengalir begitu tenang, suara alam begitu merdu terdengar. Desiran angin malam, suara burung malang, dan hilalang saling bersautan.
Serasa malam begitu cepat berjalan, samar-samar kokok ayam jantan sudah memecahkan kendang telingaku. Agak malas juga, aku mengusir mimpi yang belum mau beranjak dari ingatan. Sebuah mimpi yang berloncatan, dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain, dari satu kejadian ke kejadian yang lain, sehingga mimpi yang aku alami semalam, tak dapat diambil sebuah kesimpulan.
Mungkin terlalu lelah atau ada yang tak beres pada diri ini, kenapa mengalami mimpi yang tak mengalir dalam satu peristiwa saja. Pada sebuah tempat aku terlempar, terjatuh, terguling, dan bangun sekuat tenaga. Tapi di suatu tempat yang indah, aku duduk berdampingan dengan wanita cantik jelita. Rambutnya panjang semampai, kulitnya kuning langsap bersih sekali. Senyumnya meruntuhkan iman, apalagi melihat di dadanya yang tumbuh dua gumpalan padat berisi, yang menyimpan rahasia tersendiri.
Mimpi ini agak panjang juga, karena dari mimpi inilah aku mengakhiri malam di kampung ini. Sebuah mimpi yang tak mungkin hilang dari cacatan memori. Di mana aku bersama wanita jelita sedang bermain di sebuah penginapan sederhana. Lupa diri, aku terbawa nafsu birahi yang sulit untuk dikatakan dan dilukiskan.
Sebuah persimpangan jalan, mimpi yang jauh dari tujuan. Beruntunglah aku, itu terjadi hanya dalam mimpi, bukan dalam kenyataan. Tapi aku tak berani mengatakan, akan mampu menghindari sebuah kenyataan. Karena dalam sebuah perjalanan, segala kemungkinan bisa terjadi dan akan menimpa diri.
Mimpi yang terjadi, aku selipkan pada catatan buku harian, dan kalaupun dalam perjalanan ini benar-benar menghadapi sebagaimana mimpi yang telah aku alami. Mungkin itu sebuah anugrah atau ujian yang harus aku terima dan aku hadapi. Semakin jauh berjalan, aku semakin tak tahu di mana tempat yang aman, hidup bebas dari tekanan, tak ada kebohongan, kelicikan, kepalsuan, korupsi dan saudara-saudaranya.
Pada setiap persimpangan jalan yang aku lewati. Selalu kudapatkan peristiwa yang menyalahi aturan. Tapi anehnya masyarakat seakan sudah biasa melihat dan bahkan ikut merasakan persimpangan-persimpangan jalan yang ada. Bahkan masyarakat ikut berlomba menggunakan persimpangan jalan untuk mendapatkan keinginannya.
Pencaharianku semakin jauh dan jauh, karena selalu menemukan persimpangan jalan yang harus aku lewati, dan tak mungkin aku menghindari persimpangan jalan itu.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar