Rabu, 06 Oktober 2010

Cerpen

matapenaku
SURAT YANG TAK PERNAH DITULIS
Oleh : Syt Ethex
              
 Setelah mama papamu satu tahun pacaran, akhirnya kami putuskan untuk mengarungi bahtera kehidupan bersama yang diridhoi oleh Allah. Malam itu di bawah bimbingan bapak naib dan disaksikan kedua belah pihak keluarga mama papa juga orang kampung, kami resmi jadi suami istri sayang.
Sebuah peristiwa yang tak mungkin mama lupakan, dan mulai saat itulah mama papa setiap malam memadu cinta, menumpahkan segala mimpi yang selama ini hanya menjadi angan-angan. Sebuah peristiwa di mama papa saling membiarkan diri dalam pelukan cinta.
Waktu bergulir mengalir, malam berganti siang, dan siang berganti malam. Setiap malam mama papa tak ada bosan-bosannya, memadu cinta, menupahkan rasa yang tak mungkin mama ceritakan padamu. Walaupun sebenarnya pembelajaran masalah itu sangat penting. Biar kelak menginjak remaja kamu tak salah dalam mengartikannya.
              Selang beberapa bulan mama tak mintruasi, mamapun minta pada papa untuk mengantarkan ke bidan yang ada di desa, ternyata mama positif hamil, heemmmm….alangkah senangnya perasaan ini. Sewaktu mama memeriksakan kandungan.
            “Selamat bu positif” kata bidan Endang,
Papamu tersenyum bahagia, wajahnya berbinar gembira sekali, dan papamu berkata.
            “Makasih ma, papa bahagia sekali, sebentar lagi bakal jadi ayah, seperti apa ya ma, anak kita…? Kalau cewek pasti cantik mirip mamanya kalau cowok ganteng mirip papanya” kata papamu sambil mengelus perut mama, dan mama tak kalah senangnya, karena selama ini mama memang sudah kepingin banget punya momongan.
            Branita diam sejenak, mencoba mengingat peristiwa yang sudah termakan waktu. Malam bergulir mengalir bersama sepi yang mencekam sekali. Branita ingin sekali menuliskan semua peristiwa yang pernah dialami, tapi Branita merasa kurang mampu menata setiap peristiwa demi peristiwa agar terangkai sedemikian rupa. Akhirnya semua peristiwa yang pernah dialaminya, hanya dijadikan kenangan yang menyakitkan.
            Sejak saat itu, papa tambah sayang dan perhatian sama mama. Walaupun sebelumnya juga sudah sayang . Tapi sejak mama mengandungmu, papa lebih sayang dan lebih mengkhawatirkanmu sayang. Papa juga nyuruh mama periksa ke dokter terbaik, makan vitamin terbaik, susu terbaik, pokoknya semua terbaik demi kamu sayang. Mama papa ingin kamu kelak jadi putra/putri kebanggaan kami, sejuta harapan dan impian kami rajut untukmu.
              Usia kehamilanmu empat bulan, papamu dapat fax dari Taiwan, mengabarkan papamu harus berangkat ke sana. Bagaikan petir menyambar di siang bolong, kami tak bisa berbuat apa-apa, mama lemas tak berdaya tak tahu harus berbuat apa, air bening ke luar dari kedua kelopak mata mama dan papa, kami saling berpandangan tanpa bicara.
 “Ma… diambil tidak kesempatan ini, kita belum mapan, bagaimana kalau papa ambil, dan tentunya semua itu atas ijin mama” kata papamu. 
  “Tegakah papa meninggalkan mama dalam keadaan seperti ini” jawab mama ketus sambil berlalu dari ruang makan.
“Ma… maafkan papa! Papa bingung tak tahu harus bagaimana, papa ingin mama dan anak kita bahagia, ma..maafkan papa sangat menyintai mama, papa janji akan selalu nelpon mama kalau bos mengijinkan nanti mama melahirkan papa cuti pulang, ma… “ pinta papamu sambil memeluk mama dari belakang.
Mama hanya diam membisu tak tahu keputusan apa yang harus mama ambil, air mata mama terus saja mengalir dengan derasnya. Nak…mama sayang kamu , mama juga mikir jauh ke masa depanmu, akhirnya mama ikhlaskan kepergian papamu. Senja itu terasa begitu mengiris hati mama , jingga pelangi merona seolah ikut menangis dengan kepergian papamu.
Nampaknya faktor ekonomi yang memaksakan papamu pergi jauh ke negeri orang. Papamu ingin sekali kelak kamu lahir, kehidupan kita sudah mapan, dan bisa membangun sebuah rumah untuk kamu. Sementara itu, mencari pekerjaan di sini begitu sulit sekali. Banyak lulusan sarjana yang nganggur, lontang-lantung belum mempunyai pekerjaan yang pasti.
Keesok harinya, dii depan rumah papamu berpamitan, derai air mata tak mampu kami tahan.
 “Ma maafkan papa terpaksa meninggalkan mama dalam keadaan seperti ini, semua ini papa lakukan demi masa depan kita semua” kata papamu sambil menahan deraian air mata.
“Maafkan papa ya sayang papa tinggalin kamu sama mama, jaga diri baik-baik mama,  papa janji di manapun papa berada selalu ingat kalian berdua, jangan sedih mama, papa pergi” papamu berkata sambil mencium perut buncit mama dan menghapus air mata mama.
Lagi-lagi mama hanya diam tak tahu harus bicara apa, entahlah lidah ini tiba-tiba jadi kelu dan rasanya tak ada kata yang harus dibicarakan, yang ada hanya perasaan pedih yang tak terkira, menusuk-nusuk ulu hati mama.
“Baru sekali ini hamil ditinggal suami” bisik mama lirih bahkan tak terdengar telinga papamu. Branita mengelus kandungannya yang semakin besar. Segala peristiwa yang telah dijalani mengusik pikirannya, dan bayangan wajah suaminya selalu melintas datang dan pergi. Membuat Branita semakin sedih sekali. Sambil mengelus-elus perutnya yang buncit. Branita kembali merangkai kata-kata dalam pikirannya.
Mulai malam ini mama tidur sendiri, tak ada yang menemani mama, yang elus perut mama, mama sedih banget.  Maafkan mama sayang… terpaksa ngajak kamu sedih, karena apa yang mama rasakan pastinya kamu juga merasakan karena kamu di perut mama. Kata orang “ orang hamil ga boleh sedih kasihan janinnya, tapi mama tak kuasa menahan kerinduan menggunung di hati mama.
Kamu jangan sedih ya sayang cukup mama yang sedih, pesan papa dan nenek, mama harus banyak-banyak baca Al Qur’an surat Yusuf biar kamu ganteng atau surat Mariam biar kamu cantik. Setiap malam mama selalu berdoa, bermunajat kepadaNya. Mama juga tak lupa, mendoakan papamu yang jauh di sebrang sana, di negeri orang berjuangan mencari dolar, demi kehidupanmu kelak agar bisa tentram.
Tiap malam mama tak mampu menahan linangan air mata. Mama tak mampu membayangkan, kamu lahir tak langsung melihat wajah papamu, dan mama berjuang sendirian tanpa ada lagi yang memberikan semangat cinta. Apalagi ada tanda-tanda papamu mulai melupakan mama, karena papamu sudah jarang menanyakan kesehatanmu.
Heeemmmm….rasanya mama ini sudah tak sabar menunggu kelahiranmu sayang. Malam sudah larut kita istirahat sayang, sambil ngebayangin papamu siapa tahu kita bertemu di alam mimpi. ***

Tidak ada komentar: