Dari Ramadhan Ke Ramadhan
Oleh: Suyitno Ethex
Kenapa kita puasa dan untuk apa kita puasa? Sebuah pertanyaan yang jawabannya akan berbeda dan sesuai dengan tingkat keimanan atau pengetahuan kita terhadap puasa itu sendiri. Dari Ramadhan ke Ramadhan, apa yang kita dapatkan? Adakah perbedaan antara Ramadhan tahun lalu dengan Ramadhan tahun sekarang. Disinilah akan menjadi sebuah jawaban dari pertanyaan awal tulisan ini.
Kenapa kita puasa kalau hanya untuk sebuah penghargaan dari orang lain, kalau hanya untuk mencari simpati saja. Bahakan untuk apa kita menaham haus lapar dan dahaga, kalau kita masih suka berkata dusta, kalau kita masih suka menghalalkan segala cara untuk kepentingan kita. Lalu apa bedanya dari ramadhan yang lalu ke ramadhan yang sekarang masih tetap dan tak mengalami perubahan.
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari)
Yang perlu kita ketahui puasa agar mendapatkan pahala yang sempurna tidak sekedar menahan lapar dan dahaga, akan tetapi juga menahan diri dari bujukan nafsu syahwat agar tidak terjatuh dalam kemaksiatan.
Jika bisa diibaratkan maka kita berpuasa ini seperti orang bercocok tanam. Orang bercocok tanam agar kelak panennya bagus dan melimpah harus memilih benih yang baik, itulah ibarat niat yang ikhlas. Dia juga harus memelihara tanamannya dengan prosedur-prosedur yang sesuai dengan ilmu yang benar, itulah ibarat tuntunan nabi. Dan tak lupa pula dia akan membasmi setiap hama dan penyakit yang menggangu tanaman, itulah ibarat kemaksiatan yang harus kita jauhi.
Dengan demikian, agar ada peningkatan dan Ramadhan tahun ini tak seperti Ramadhan tahun lalu. Kita harus berani mengubah sikap kita sendiri, kita harus lebih peka terhadap lingkungan kita sendiri. Jangan sampai dari Ramadhan ke Ramadhan kita hanya mendapatkan lapar saja, kita hanya mendapatkan haus saja. Oleh karena itu, tak ada kata terlambat untuk menyikapi apa yang terjadi di sekitar kita lebih bijak lagi. Jangan sampai angin yang dibawa bulan Ramadhan berhembus sia-sia tanpa dapat kita nikmati.
Angin semilir yang membelai jiwa yang ditiupkan oleh bulan Ramadhan adalah salah satu momen penting yang memberikan semangat baru kepada jiwa manusia. Bulan suci Ramadhan bagaikan sebuah universitas yang memiliki jam pelajaran padat, yang menyatukan seluruh bulan dalam setahun. Pelajaran-pelajaran yang disampaikan dalam universitas ini sangatlah bermanfaat dan membangun.
Manusia meskipun dengan seluruh uang yang dimilikinya, tidak akan mampu mendirikan universitas semacam ini. Firman Allah dalam jiwa kaum muslimin sedemikian dalam dan memberikan pengaruh, sehingga kini setelah berlalu lebih dari 14 abad sejak diturunkannya hukum puasa melalui Rasulullah Muhammad SAWW, universitas ini terus berdiri dengan diikuti oleh jutaan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia.
Bulan suci Ramadhan dengan keistimewaan yang hanya dimiliki olehnya, memainkan peran menentukan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, pemanfaatan bulan ini sebaik-baiknya merupakan langkah pendahuluan dalam perkembangan dan pertumbuhan spiritualitas manusia di sepanjang hidupnya. Allah SWT menginginkan agar kaum muslimin di bulan ini berlomba-lomba dalam melakukan amal kebaikan. Amal terpenting dan wajib dilakukan di bulan ini adalah puasa.
Puasa adalah kewajiban yang sangat banyak memiliki faedah bagi jiwa dan fisik manusia. Puasa akan membuat jiwa manusia menjadi lembut, memperkuat semangat, serta mengontrol hawa nafsu. Allah menetapkan kewajiban puasa agar manusia dihiasi oleh cahaya iman, makrifat, dan akhlak yang mulia. Sebagai balasan atas kewajiban puasa ini, Allah juga memanjakan hamba-hambanya dengan pahala yang sangat besar. Allah berfirman, “Puasa berasal dari-Ku dan Akulah yang akan memberi pahala.”
Kalau puasa itu merupakan kewajiban, apakah kita akan menjalan kewajiban itu hanya semata untuk memenuhi kewajiban saja, dan ta memperhatikan bahwa kewajiban itu tidak ada artinya bila di dalam menjalaninya kita menyimpang dari aturan-arutan yang ada. Bahkan kalau kita mau jujur, berapa persen jumlah penduduk Indonesia yang beragama Islam, dan dari hasil itu, berapa persen yang melaksanakan ibadah puasa.
Dari Ramadhan ke Ramadhan, sekilas mengaca yang terjadi di sekitar kita. Adakah peningkatan dari ramadhan tahun lalu dalam sisi keimanan masyarakat kita. Bahkan yang terjadi mungkin sama, dari Ramadhan ke Ramadhan kita sama saja, tak ada peningkatan yang berarti, bahkan bisa dikatakan Ramadhan tahun ini tak semeriah Ramadhan tahun lalu.***