Kamis, 25 Agustus 2011

Mudik dan Status Ekonomi Sosial

Fenomena mudik secara langsung maupun tidak akan mempengaruhi status ekonomi di lingkungan masyarakat itu sendiri. Sebab dengan cara dan dayanya para pemudik yang kembali ke kampung halamannya akan mempengaruhi keberadaannya sendiri di kampung halaman, dan tak semua pemudik akan mampu membawa perubahan status ekonomi sosialnya di keluarga. Bukankah mereka (pemudik) itu pulang kampung membawa hasil keringatnya selama setahun atau lebih. Nah disinilah mereka akan mengubah status ekonomi sosialnya, dan tak mungkin semua pemudik bisa mengubah status ekonomi sosialnya.

Bagi pemudik yang pulang kampung membawa kendaraan sendiri, atau membawa mobil sendiri. Masyarakat di kampungnya secara tidak langsung menilai dan menaikkan status ekonomi sosialnya. Di mana waktu ketemu atau berpapasan di jalan, yang berhasil itu selalu menerima penghormatan yang agak berlebih dari pada mereka yang pulang kampung masih biasa-biasa saja. Dan biasanya si pemudik yang berhasil mengubah status ekonomi sosialnya itu gaya hidupnya juga ikut berubah. Padahal waktu meninggalkan kampung pergi merantau biasa-biasa saja, bahkan bisa dikatakan ekonomi keluarganya pas-pasan.

Mudik merupakan ritual atau tradisi yang menarik untuk dikaji tersendiri, dan sejak dari tahun ke tahun yang terjadi, mudik selalu membawa persoalan yang itu-itu saja. Tapi itulah kenyataan yang tak mungkin dipungkiri, dan harus diterima apa adaanya. Yang jelas pada umumnya mereka bertujuan mengubah status ekonomi sosialnya. Ingin memperbaiki ekonomi keluarganya, sehingga mereka harus pergi merantau mencari kerja, pulang kampung setidaknya membawa perubahan ekonomi keluarga.

Oleh karena itu, apa yang terjadi tatkala masa mudik tiba? Desa-desa yang dulu lenggang tak ramai menjadi ramai, dan ekonomi di desa itu bergerak begitu cepat sekali dengan datangnya para pemudik yang sedang berlebaran. Lebaran seakan-akan menjadi waktu yang tepat untuk menunjukkan adanya perubahan status ekonomi sosial bagi mereka. Karena di waktu lebaran itulah, sanak saudara, handai tolan, kerabat, tetangga sebelah saling bersilaturahmi, saling kunjung mengunjungi.

Dari adanya silaturahmi atau kunjung mengunjungi itulah secara tidak langsung penilaian akan didapatkan oleh para pemudik yang pulang kampung. Penilaian yang tak secara langsung akan mempengaruhi status ekonomi sosial mereka. Sebab pada umumnya yang dilihat itu keberadaan atau keadaan si pemudik itu sendiri, serta barang apa yang di bawa pulang atau oleh-oleh apa yang dibawanya. Memang secara inplinsit tak ada yang bertanya secara langsung, tapi dari apa yang disuguhkan di meja tamu, para sanak saudara, teman atau handai tolan yang datang berkunjung sudah bisa menilai, kalau si pemudik berhasil dan mampu meningkatkan ekonomi keluarganya.

Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa mudik dan status ekonomi sosial itu merupakan sebuah hubungan atau dapat dikatakan, bahwa mudik itu dapat mempengaruhi status ekonimi sosial yang ada, terutama bagi para pemudik itu senderi. Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir batin!***

Tidak ada komentar: