Tempat itu boleh berubah mengikuti pengembang. Tempat itu boleh tergusur oleh sebuah kepentingan. Tempat itu boleh dikuasai siapapun. Tapi semua itu tak akan menghapuskan peristiwa. Peristiwa yang begitu sulit untuk aku lupakan, dan memang terlalu sayang untuk dilupakan. Di tempat itu, dengan "Terkasih" yang sebenarnya tak pernah aku mimpikan, berdua bersuka berbagi cerita, memadu asmara saling menumpahkan rindu yang lama terkunkung dalam ketidakpastian.
Sebuah kenyataan yang tak pernah terlintas di dalam benak ini. Awal mula lewat jejaring sebuah situs layanan gratis. Aku buat akun dan mencoba mencari teman untuk saling membagi pengalaman. Aku mencari teman untuk menambah wawasan. Bahkan lewat akun jejaring, aku tak hanya ingin mencari kenalan, tapi aku juga ingin mengenalkan kreatifitas yang sudah lama aku tekuni. Dengan akun jejaring aku leluasa menyebarluaskan tulisan, aku leluasa menelurkan ide-ide. Walau begitu aku juga tak lupa masih berkirim tulisan ke koran-koran atau majalah-majalah yang ada.
Percaya atau tidak, dan itu menjadi sebuah kenyataan, serta mungkin tak hanya aku saja yang mengalami keuntungan atau kerugian punya akun di sebuah jejaring. Lewat akun dengan nama tersamar, aku mengenalnya dan secara insten, setiap hari berkomunikasi yang pada akhirnya terjalinlah ikatan hati. Bahkan aku secara terus terang dan tak menutupi keadaanku sebenarnya, aku selalu mengatakan apa adanya. Ternyata dia mau menerima dan bahkan tak mempedulikan siapa aku. Dan siapa lelaki akan menghindari wanita? Apalagi wanita itu cantik mempesona.
Aku sendiri tak percaya, kalau pada akhirnya bisa bertemu dia, dan bermesraan di tempat itu seharian. Sangat diluar nalar dan tak masuk akal, tapi itulah yang terjadi dan tak mungkin aku lupakan, bahkan aku ingin di tempat itu akan berlanjut entah sampai kapan. Karena aku begitu sayang dan cinta padanya. Walau aku tahu pada akhirnya dia bukan milikku. Tapi aku punya kenyakinan dan percaya, pasti suatu saat dia menjadi miliki. Apalagi akunnya juga sudah diserahkan kepadaku. Dengan akun yang ada aku akan menjaganya, aku akan mengawasinya, aku akan memberi kebebasan kepadanya. Karena aku percaya suatu saat dia pasti kembali ke pangkuanku, dan aku siap menerimanya dengan apa adaanya. Itu semua bukan tanpa dasar, kenapa aku siap menerima sisa-sisa dari sisa yang ada. Karena aku punya keyakinan dan aku percaya, bahwa akulah orang lain yang pertama melumat bibirnya, di temapt itu!***
Sebuah kenyataan yang tak pernah terlintas di dalam benak ini. Awal mula lewat jejaring sebuah situs layanan gratis. Aku buat akun dan mencoba mencari teman untuk saling membagi pengalaman. Aku mencari teman untuk menambah wawasan. Bahkan lewat akun jejaring, aku tak hanya ingin mencari kenalan, tapi aku juga ingin mengenalkan kreatifitas yang sudah lama aku tekuni. Dengan akun jejaring aku leluasa menyebarluaskan tulisan, aku leluasa menelurkan ide-ide. Walau begitu aku juga tak lupa masih berkirim tulisan ke koran-koran atau majalah-majalah yang ada.
Percaya atau tidak, dan itu menjadi sebuah kenyataan, serta mungkin tak hanya aku saja yang mengalami keuntungan atau kerugian punya akun di sebuah jejaring. Lewat akun dengan nama tersamar, aku mengenalnya dan secara insten, setiap hari berkomunikasi yang pada akhirnya terjalinlah ikatan hati. Bahkan aku secara terus terang dan tak menutupi keadaanku sebenarnya, aku selalu mengatakan apa adanya. Ternyata dia mau menerima dan bahkan tak mempedulikan siapa aku. Dan siapa lelaki akan menghindari wanita? Apalagi wanita itu cantik mempesona.
Aku sendiri tak percaya, kalau pada akhirnya bisa bertemu dia, dan bermesraan di tempat itu seharian. Sangat diluar nalar dan tak masuk akal, tapi itulah yang terjadi dan tak mungkin aku lupakan, bahkan aku ingin di tempat itu akan berlanjut entah sampai kapan. Karena aku begitu sayang dan cinta padanya. Walau aku tahu pada akhirnya dia bukan milikku. Tapi aku punya kenyakinan dan percaya, pasti suatu saat dia menjadi miliki. Apalagi akunnya juga sudah diserahkan kepadaku. Dengan akun yang ada aku akan menjaganya, aku akan mengawasinya, aku akan memberi kebebasan kepadanya. Karena aku percaya suatu saat dia pasti kembali ke pangkuanku, dan aku siap menerimanya dengan apa adaanya. Itu semua bukan tanpa dasar, kenapa aku siap menerima sisa-sisa dari sisa yang ada. Karena aku punya keyakinan dan aku percaya, bahwa akulah orang lain yang pertama melumat bibirnya, di temapt itu!***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar