Sabtu, 23 Juli 2011

Demokrasi Untuk Pembelajaran

 
Demokrasi Di Desa Sukamaju

Rumah-rumah dan jalan di desa Sukamaju mencerminkan kesejahteraan warganya. Tata lingkungan yang asri memberi kedamaian tersendiri. Di pojok desa pertigaan jalan, ada sebuah warung yang selalu menjadi tempat singah warga yang mau pergi ataupun pulang dari sawah ladang. Di warung itulah sumber berita dari mulut ke mulut adanya pilkades yang mulai marak diperdebatkan.
Ada tiga calon yang akan maju dalam pilkades di desa Sukamaju, mereka sudah berkampanye. Adapun ketiga calon itu mempunyai visi dan misi yang hampir sama.
Calon  ke I
:
(Seorang tokoh agama di desa Sukamaju)
Pokoknya kalau saya yang terpilih menjadi kepala desa, kegiatan keagamaan akan saya tingkatkan
Calon ke II
:
(Bukan tokoh masyarakat tapi merupakan orang kaya di desa Sukamaju)
Saya tidak berjanji, tapi saya akan membuktikan, kalau saya nanti terpilih menjadi kepada desa, pembayaran pajak saudara-saudara akan saya bantu 50 %
Calon ke III
:
(Orang terpelajaran dan lulusan sebuah universitas ternama)
Birokrasi di desa ini harus ditata, aparat desa merupakan pelayan masyarakat, bukan minta dilayani oleh masyarakat. Kalau saya terpilih menjadi kepala desa, birokrasi akan saya tata, dan masalah pendidikan akan saya benahi.
Setiap bertemu warga yang sedang berkumpul, para calon kepala desa tersebut berkampanye. Sementara itu, dalam satu keluarga terjadi sebuah percekcokan hanya karena satu sama lain mendukung calon yang berbeda. Suami mendukung si A, istrinya mendukung si B, dan anaknya mendukung si C
Bapak
:
Kalian berdua harus memilik P. Edy, bagaimanapun juga, kita sering minta bantuan beliau.
Ibu
:
Tidak Pak, saya tau P. Edy itu kaya, tapi dalam memilih pemimpin jangan melihat kekayaannya, pak. Kita harus melihat sikapnya, sifatnya
Anak
:
Iya, Bu! Ibu memang benar, lalu ibu memilih siapa
Ibu
:
Jelas ibu akan memilih P.Kyai, beliaulah tokoh masyarakat di desa ini, dan selama ini sudah kita ketahui sumbangsih pikirannya untuk desa ini. Kamu milih siapa, Nak?
Anak
:
Ah…ibu ini aneh! Kenapa gak memilih calon wanita? Bukankah B. Endang itu berpendidikan tinggi, dan selama ini juga aktif di organisasi.
Ibu
:
Lho….memangnya kamu mendukung B. Endang
Bapak
:
(Hanya mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh istrinya dan anaknya. Karena merasa gerah juga, akhirnya ikut bicara)
Sudahlah….bapak sebagai kepala keluarga, kalian harus mengikuti pilihan bapak.
Ibu
:
Tidak, Pak!
Bapak
:
Kenapa? Apa sampeyan gak mau ini (sambil menunjukkan uang ratusan rupiah) Bagaimana kamu, Nak?
Anak
:
Tidak, Pak! Itu namanya monypolitik. Apa jadinya desa kita, kalau P. Edy yang menjadi kepala desa.
Debat kusir dalam keluarga itu tak menemukan jalan ke luar, mereka pada mempertahankan prinsipnya, mempertahankan pilihannya.
Sementara itu, tak jauh dari rumah keluarga tersebut, di sebrang jalan, di warung kopi terjadi keramaian antara pendukung calon kepala desa. Dengan langkah tergesa-gesa, P. Budi datang dan langsung pesan kopi.
P. Budi
:
(Belum duduk ke bangku, langsung pesan kopi dan berbicara sesukanya, sebagai tim sukses calon yang kaya P. Budi bicaranya Nampak enak saja)
Kopi……!
Pokoknya, kalau P. Edy yang terpilih menjadi kepala desa, saya jamin ekonomi warga akan meningkat
Nyi Cemplok
:
(Sambil mengaduk-aduk kopi)
Alahhhh…Kang, belum tentu itu
P. Budi
:
Kamu itu, dibilangin gak percaya, coba liat ini! Aku dari rumahnya dan diminta untuk membagikan ini kepada warga.
Warga  1
:
(Setelah menyeruput kopi dan mengisap rokoknya)
Wah…..aku mau P.Pak
Nyi Cempluk
:
He…kamu itu kalau ada uang matanya langsung nubruk aja. Apa kamu tau, kalau kamu menerima uang itu, nanti kamu harus memilih P. Edy (kata Nyi Cempluk sambil memberikan secangkir kopi kepada P. Budi)
P. Marji
:
(Sebagai tim sukses P. Kyai, bicara P. Marji santun sekali, begitu datang ke warung, duduk dulu, baru pesan)
Nyi…kopinya…habis sarapan belum dibuatkan kopi. Wah warung Nyi semakin ramai saja.
Warga  2
:
(Sambil nyeruput kopinya yang tinggal setegah gelas kecil)
Ya…iyalah…Pak, kan setiap ke warung ada yang bayari, ini saja aku dibayari P. Budi.
P. Budi
:
Iya….pokoknya siapa saja yang minum kopi atau makan di sini, catat saja di Nyi Cempluk.
Nyi Cempluk
:
Tapi yang kemarin belum di bayar Pak
P. Marji
:
Wah…..kok tak sesuai begitu
P. Budi
:
(P. Budi marah merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan P. Marji)
Apa katamu? Akan kubayar semua…total semua Nyi
Nyi Cempluk
:
Lho….lho…lho…..di sini bukan tempatnya gegeran ya, kalau gegeran sebainya ke lapangan sana (kata Nyi Cempluk sambil menghitung makanan dan minuman yanb belum dibayar)
Ini  di catatan ada 75 ribu, Pak.

P. Budi
:
(Kaget…!) lho…. Kok banyak, siapa saja yang makan dan minum, apa sampeyan tulis namanya?
P. Marji
:
Nyi, aku jangan dihitung ya. Ini bayarku sekarang (sambil menyerahkan uang 100 ribu), aku pamit dulu
Nyi Cempluk
:
Pak….pak…pak….kembalinya gimana
P. Marji
:
Ambil saja…itu uang halal kok, uangku sendiri (kata P. Marji sambil melangkah pergi meninggalkan warung)
Persaingan tak sehat mulai terasa, dan setiap hari di warung itu hampir terjadi pertikaian antara tim sukses. Monypolitik mulai berbicara.
Nyi Cempluk
:
Wah….kalau tiap hari begini enak aku, dagangan masih banyak tapi sudah dapat uang banyak juga
Warga 1
:
Enak…sampeyan, tapi suasana desa mulai tak tenang, apa sampeyan suka begitu
Warga 2
:
Iya…..padahal siapapun yang menjadi kepala desa, kita tetap begini saja
Nyi Cempluk
:
Lho…apakah aparat kecamatan tak tahu, kalau di desa kita terjadi kekesruhan
Halaman kantor kecamatan nampak sepi, semua pegawai sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Ada beberapa pegawai yang hilir mudik membawa stopmap. Di dalam ruangan camat ada musyawarah. P. Camat didampingi kasi pemerintahan dan dua stafnya.
P. Camat
:
Dari laporan yang masuk, proses pemilihan kepala desa Sukamaju meresahkan masyarakat, kita harus mengambil tindakan
Kasi Pemrh
:
Benar, Pak. Sebaiknya para calon kepala desa dan tim suksesnya kita undangan dalam satu pertemuan, dan kita berikan penjelasan masalah pemilihan kepala desa.
P. Camat
:
Kamu siap menjelaskan proses demokrasi?
Staf
:
Sebaiknya kita mengundang pakar saja, Pak
Pembicaraan mereka berhenti karena ada tokoh masyarakat desa Sukamaju dan seorang warga yang datang ingin bertemu P. Camat.
P. Camat
:
Kebetulan sampeyan datang, kami sedang membicarakan apa yang terjadi di desa Sukamaju
Tokoh Masy
:
(Sebagai ketua panitia pemilihan kepala desa)
Kami dating mewakili keresahan masyarakat Pak, kami ingin P. Camat mengambil tindakan, agar keresahan warga masyarakat di desa Sukamaju bisa dikendalikan
Kasi Pemrh
:
Itu sudah tugas kami, Pak
P. Camat
:
Iya…Pak….! Bapak sebagai ketua pelaksana pemilihan kepala desa, buatlah undangan untuk para calon kepala desa beserta tim suksesnya, mereka kita kumpulkan dib alai desa Sukamaju, saya akan mengajak seorang pekar pemerintahan.
Tokoh Masy
:
Terima kasih Pak, kami akan melaksanakan petunjuk Bapak, kami sudah tak mampu menghadapi gejolak yang ada di masyarakat desa Sukamaju
P. Camat
:
Biar nanti pakar pemerintahan yang akan memberikan pembelajaran kepada para calon kepala desa khususnya, dan masyarakat desa Sukamaju pada umumnya
Tokoh Masy
:
Baik, Pak. Kami permisi dulu, dan segera menyiapkan sarana dan prasarana peremuan itu.
Dari warung Nyi Cempluk, berita tentang adanya kampanye simpati bersama tersiar. Masyarakat desa Sukamaju merasa senang mendengar berita itu. Di balai desa Sukamaju sudah disiapkan segala kebutuhan. Panitia nampak sibuk sekali, ada yang menata tatak letak meja dan kursi, ada yang menyiapkan kebutuhan yang lainnya.
P. Camat beserta kasi pemerintahan dan seorang pakar pemerintahan sudah dating dib alai desa Sukamaju.
Tokoh Masy
:
(Melaporakan kesiapan pelaksanaan musyawarah kepada P. Camat)
Semua sudah siap Pak!
P. Camat
:
Apa semua calon dan timsuksesnya sudah datang
Tokoh Masy
:
Sudah…bahkan tadi mereka membawa pendukungnya masing-masing
Pakar
:
Sebaiknya kita mulai saja, Pak
P. Camat beserta pakar pemerintahan dan ketua pelaksana pemilihan kepala desa memasuki ruangan, di mana dalam ruangan itu saling terjadi adu mulut antara tim sukses.
Pakar
:
Saudara-saudara sekalian, dalam demokrasi itu kita harus mengetahui tujuan apa demokrasi itu sendiri (pakar menjelaskan panjang lebar tentang demokrasi)
Akhirnya para calon kepala desa mengambil kesepakatan, dan masyarakat desa Sukamaju merasa tenang.

-tamat-


 SUSUNAN PEMAIN/KRU

Sutradara                     : Syamsul Hadi
As. Sutradara              : Endang Soenaryati
Penulis naskah             : Suyitno
Produser                      :

Para Pemain :
·         Calon Kepala Desa
1.      Mohkhamad Makin
2.      P. Edy
3.      Khiptiani
·         Penjual kopi/warung
-          B. Whinuk
·         Tim sukses
Calon  1
-          P. Marji
-          P. Naryo
Calon 2
-          P. Hery P
-          P. Nur Budiono
Calon 3
-          P. Budi
-          P. Heri
·         Camat
-          P. Rustam
-          P. Trianto staf
-          P. Broto, staf
·         Rumah tangga/keluarga
-          P. Supriyono sebagai bapak
-          B. Novi, sebagai ibu
-          ……sebagai anak
·         Pakar Demokrasi
-          P. Fatkrohman

Jumat, 15 Juli 2011

Membunuh Rasa

bukan mati malah semakin hidup menyiksa diri
dan mengajakku untuk menikmati apa yang seharusnya
aku terima dan akurasakan selama ini

berbagai cara sudah aku lakukan
memberi minum rajun
menggorok dengan belati
rasa itu bukannya mati
tapi semakin berani
menantang diri

sudah lama aku ingin membunuh rasa
biar bisa nyaman menikmati malam
biar bisa tenang beraktivitas seharian
tapi usahaku selalu gagal dan tak mampu
dan rasa itu semakin menyulitkan aku
bahkan semakin membelenggu

entah kali berapa aku mencoba membunuh rasa
tapi rasa itu semakin meraja saja
atau aku sendiri yang akhirnya
terbunuh oleh rasa

sebelum rasa itu membunuhku
aku hentikan saja membunuh rasa itu
dan menikmati rasa itu

***untuk seseorang*

Minggu, 03 Juli 2011

Cerpen "Jejak Cinta"


Malam semakin kelam. Lengkingan belalang semakin jelas terdengar. Dalam kamar ukuran sedang, aku membuka buku harian. Tal pelak, teringatlah aku peristiwa demi peristiwa yang telah aku alami.
Terus terang, dari segala peristiwa yang telah aku catat dalam buku harian, sebagaian besar adalah peristiwa cinta yang selama ini aku cari dan belum aku dapatkan. Betapa tidak! Cintaku selalu kandas di tengah jalan. Hingga penuh jejak cinta yang membekas tanpa satupun aku raih kebahagiaan dari cinta itu sendiri.
Mungkinkah esok cintaku akan terealisasi? Terus terang, aku membuka buku harian malam ini bukan tanpa tujuan. Aku ingin agar apa yang telah terjadi tak terulang kembali. Biar yang telah terjadi tinggalkan jejak, dan aku ingin esok membuat jejak cinta yang indah. Mungkinkah!
Malam bertambah semakin kelam. Bayangan wajah Nina datang menghias layar angan. Aku menghela nafas. Mungkinkah Nina menerima cintaku? Kalau aku nekat naksir Nina, apakah jejak cintaku tak akan menemui kegagalan lagi. Haruskah aku mundur dan tak meneruskan keinginan.
Semakin jauh dan dalam memikirkan harapan cinta yang telah ada dalam hati. Aku semakin tak berani berharap banyak akan diterima tidaknya cintaku. Dan aku semakin takut. Takut akan kejadian yang telah aku alami.
Dengan lesu aku rebahkan badan di ranjang. Aku menggela nafas, lalu menyebut nama Nina. Aku berharap dalam tidur bermimpi ketemu Nina. Siapa tahu, aku bisa memadu kasih dengan Nina dalam mimpi. Dan siapa tahu, mimpi tersebut bisa menjadi awal dari kenyataan. Bukankah mimpi merupakan tanda-tanda juga.
Aku tergagu, tergagap. Matahari telah lama menyapa bumi. Dengan terburu-buru, aku membasuh muka lalu minum air putih.
“Ran, kamu tadi dicari Arli!” kata ibu.
“Arli nggak pesan apa-apa, Bu?”
“Kamu ditunggu di rumahnya!” jawab ibu.
Setelah sarapan, aku pamit ibu pergi ke rumah Arli. Ternyata Arli datang lagi, dan aku tak jadi pergi ke rumahnya. Setelah basa-basi. Arli ngajak pergi ke rumah Nina.
Dalam hati, aku merasakan jangan-jangan Arli punya maksud dan niat seperti yang ada dalam hatiku. Kalau Arli juga naksir Nina, tak pelak jejak cintaku akan terantuk batu lagi.
“Gimana, Ran!”
“Ada apa ke rumah Nina?” taanyaku
“Ya biasa, main-main saja!” jawab Arli
Sebenarnya aku mau menolak. Tapi aku tak kuasa. Lagi pula Arli selama ini begitu akrab dengan aku.
Melihat Arli dan aku datang. Nina berdiri dan menyambut kami. Rambutnya yang agak panjang diikat dengan gelang karet. Sederhana sekali. Begitu juga wajahnya, tak disentuh alat kecantikan sesuilpun. Tapi, biarpun begitu, Nina masih nampak cantik dan anggun.
Sebenarnya Nina ngajak masuk ke dalam rumah. Tapi aku menolak dan memilih duduk di teras saja.
“Duduk di teras saja, Nin! Enak, sambil ngobrol kita bisa menikmati taman!”
“Ala, taman jelek saja, Ran!” kata Nina
“Iya, Ran!” kata Arli menyahut
“Terus terang, sebenarnya yang ngajak kemari Arli, mungkin Arli ada keperluan sama kamu, Nin! Untuk itu, lebih baik aku menunggu di sini saja.”
Akhirnya Arli dan Nina masuk. Dan aku tak peduli. Yang jelas, aku tak ingin mengetahui apa yang dibicarakan Arli dan Nina di dalam.
Agak lama juga aku menunggu di luar. Tapi Arli belum juga ke luar. Dan karena begitu lama menunggu. Akhirnya aku menemui Arli dan Nina di dalam.
“Ar, bagaimana?”
“Maksudmu!” kata Arli
“Lho, kamu kan yang punya maksud! Kok aku?”
Aril diam
Nina member tanda dengan kerdipan mata kepadaku. Aku tersentak. Mungkinkah!
Ternyata apa yang aku duga benar. Bahwa Arli juga naksir Nina. Dan Arli sudah menyampaikan isi hatinya. Ah, jejak cinta yang ada dalam ahtiku terantuk batu lagi. Tapi kenapa Nina tadi member tanda kepadaku? Mungkinkah cinta Arli ditolak!
Dengan lesu, Arli ngajak aku pulang. Dan kalau melihat sikap Arli. Aku bias menebak, jelas Nina menolak. Berarti masih ada kesempatan bagiku untuk melanjutkan langkah. Dan sebelum melangkah jauh dari rumah Nina. Aku menoleh ke belakang, Nina tersenyum, plak hatiku berdebar.
Selang beberapa hari. Aku ketemu Nina di took buku. Kebetulan, Nina sedang mencari buku untuk bahan makalah yang harus ditulis. Sedangkan aku mencari buku bacaan baru.
“Ini!” sapaku
“Eh, kamu Ran, sama Arli ya?”
“Enggak, sendirian!” jawabku
Sambil mencari buku, kami ngobrol. Ternyata buku yang dicari Nina sudah habis.
“Buku apa sih, Nin?” tanyaku
“Kritik sastra!” jawab Nina
“Di rumah ada, karangannya siapa?”
Nina menyebut seorang pengarang kritik sastra. Dan kebetulan aku mempunyai.
Nina berharap agar aku mau meminjamkan buku. Padahal, biarpun Nina tak meminjam, aku akan meminjamkan.
“Ambil saja di rumah!” kataku
“Kapan?”
“Terserah kamu!” kataku
“Kalau begitu, esok aku ke rumahmu!” kata Nina
Dan setelah aku memperoleh buku. Aku pamit Nina, ternyata Nina ngajak aku mampir ke warung dulu. Mau menolak, berarti aku nolak kesempatan.
Di warung bakso, kami membicarakan Arli. Terus terang, aku merasa kasihan juga kepada Arli. Tapi itu semua salahnya Arli sendiri. Dan Nina tahu sendiri, kalau Arli suka ganti-ganti pacar.
Setelah makan bakso. Aku dan Nina berpisah. Sampai di rumah, aku langsung mencari buku yang tadi ducari Nina di toko buku. Ah, lega hatiku. Ternyata bukut tersebut ada, dan telah dikembalikan rekanku yang lain.
Akhirnya aku tulis sebuah puisi  jejak cinta.
Telah kutaruh harap
Gendewa yang telah pasangi senjata
Sasarannya tepat mengenainya
Jejak cinta gendewa telah aku pegang
Padamu….
Aku baca puisi yang telah hamper jadi. Haruskah aku menyebut nama Nina dalam puisi tersebut? Karena aku kurang sreg dengan puisi yang telah aku tulis sendiri. Akhirnya aku menulis lagi sebuah puisi. Tapi dengan judul yang sama. Jejak cinta.
Jejak cintaku terarah padamu
Bunga melati penghias taman sari
Yang selama ini menggoda hati
Siang malam selalu kuimpi-impi
Di dalam buku yang akan dipinjam Nina, aku selipkan puisi tersebut. Dalam hati aku berharap. Nina mengerti. Dan malam telah larut aku rabahkan badan di ranjang. Seperti kemarin malam, sebelum tidur aku sebut nama Nina.***
Salah Sangka
Sudah menjadi kebiasaan. Setiap istirahat aku selalu ke ruang perpustakaan. Memilih buku, lalu duduk di kursi. Dan membaca tanpa peduli ada orang lewat di sekelilingku.
Begitu juga hari ini. Bel istirahat berbunyi, aku ke luar dan menuju ruang perpustakaan. Aku cari buku tentang sastra, enak-enak mencari buku, aku dikejutkan suara.
“Itu anaknya!”
Aku berhenti memilih buku dan menoleh kea rah suara. Tak pelak, ahtiku bertanya. Karena mereka siswa baru dan belum aku kenal namanya.
Tiga cewek siswa baru melabrak aku. Aku dikira telah menggoda salah satu temannya.
“Bukankah kamu yang telah menggoda Anis?”
“Anis yang mana?” tanyaku
“Ini!” kata salah satu dari mereka sambil menunjuk cewek berambut sebahu di sebelahnya.
Haruskah aku meladeni mereka? Sedangkan kami berada di ruang perpustakaan.
Mereka terus mencercaku dengan kata-kata yang kurang enak dan kurang pada tempatnya. Aku tebah dada, bersabar untuk menang. Karena aku merasa tak pernah menggoda salah satu temannya.
“Ngaku atau aku laporkan kepada BP !” kata berambut panjang agak sinis.
“Aku lebih suka dilaporkan, tapi sebelumnya aku ingin tahu, di mana temanmu itu aku goda?”
Mereka pada bego dan saling memandang. Satu jurus telah aku aku lakukan.
“Di mana, Nis?”
Sambil berbisik, Anis berkata. Dan aku tak tahu apa yang dikatakannya. Tapi teman-temannya pada diam.
“Bagaimana, apa jadi melaporkan aku ke BP ?”
Mereka pada diam
Dan aku pun tak memperdulikan meraka lagi. Aku kembali memilih buku. Samar-samar aku dengar mereka saling menyalahkan. Entah kenapa! Aku merasa terganggu.
“Lebih baik kalian bicara di luar, di sini bukan tempat berdebat, tapi tempat membaca buku !” kataku kalem.
Mereka pada memandang aku. Aku cuek saja. Karena aku merasa tak salah.
Bel masuk bordering. Aku harus kembali ke kelas. Dengan seijin Pak Roni, aku pinjam buku yang baru aku baca. Sampai di kelas. Aku ditodong pertanyaan oleh Prapto.
“Kamu tadi dilabrak oleh Anis cs, ya?” tanya Prapto
“Iya, siapa sih Anis cs, itu!”
Prapto membertahu. Dan baru hari ini aku tahu. Kalau di sekolahan ada siswa baru anak pembesar.
Pulang sekolah. Aku berkenan mengikuti langkah Anis cs. Tapi mereka apada dijemput semua. Terpaksa aku berjalan sendiri menelusuri jalan Pahlawan. Mata hari di atas kepala, rasa panas tak mungkin aku hindari. Mungkin kalau aku naik sedan akan bias menghindari panas yang aku rasakan. Ah, anganku kok terlalu melambung, kalau jatuh bisa terkapar.
Sebuah sedan berhenti agak jauh di depanku. Tapi kau tak peduli dan terus berjalan. Dan betapa tersentaknya aku. Anis membuka pintu sedan.
“Mas, ayo sama-sama!”
“Trims…!” kataku
“Ayo Mas, nggak apa-apa!” kata sopirnya
Dengan ragu, aku naik sedan Anis. Anis ikut duduk di jok belakang. Anis berpesan kepada sopirnya. Agar tak bilang kepada orang tuanya.
“baik Non!” kata sopirnya
“Sungguh lho, Pak Pardi!” kata Anis
Aku hanya diam saja. Sedan bergerak lalu melaju kencang. Aku beritahu sopir kalau di perempatan jalan saja dan mau naik angkutan kota. Tapi Anis bersikeras ingin mengantarkan aku. Terpaksa aku mengalah.
Bukan aku takut dilabrak lagi. Tapi aku tak mau menyita waktunya. Sebab tentu orang tuanya Anis telah member jadwal waktu kapan berangkat sekolah dan kalau pulang sampai di rumah jam berapa.
Sedan sudah sampai di perempatan jalan. Karena sopir mematuhi perintah Anis. Terpaksa aku terima saja.
“Mas, aku mohon maaf, aku dan teman-teman telah salah sangka !”
“Yang menggodamu sebenarnya siapa ?” tanyaku
“Anak bahasa, rambutnya mirip denganmu !”
Aku tahu siapa yang menggoda Anis. Dan tak salah Wandi yang menggoda Anis. Kenapa ?
Aku saja juga ingin menggoda. Tapi untuk apa menggoda kalau sudah kenal baik. Dan tak terasa, sedan telah memasuki kampong halamanku. Aku minta ijin di turunkan di pintu masuk gang. Sebenarnya Anis ingin tahu rumahku. Tapi aku bersikeras minta diturunkan di pintu masuk gang.
“Kalau kamu tahu rumahku, kamu akan alergi!” kataku
“Bukan tumahnya yang aku cari!” kata Anis
“Lalu, apanya?”
Anis diam
“Trims, An!” kataku sambil membuka pintu sedan lalu melangkah masuk gang di mana jalan tersebut selalu aku lewati siang malam.***