Demokrasi Di Desa Sukamaju
Rumah-rumah dan jalan di desa Sukamaju mencerminkan kesejahteraan warganya. Tata lingkungan yang asri memberi kedamaian tersendiri. Di pojok desa pertigaan jalan, ada sebuah warung yang selalu menjadi tempat singah warga yang mau pergi ataupun pulang dari sawah ladang. Di warung itulah sumber berita dari mulut ke mulut adanya pilkades yang mulai marak diperdebatkan.
Ada tiga calon yang akan maju dalam pilkades di desa Sukamaju, mereka sudah berkampanye. Adapun ketiga calon itu mempunyai visi dan misi yang hampir sama.
| Calon ke I | : | (Seorang tokoh agama di desa Sukamaju) Pokoknya kalau saya yang terpilih menjadi kepala desa, kegiatan keagamaan akan saya tingkatkan |
| Calon ke II | : | (Bukan tokoh masyarakat tapi merupakan orang kaya di desa Sukamaju) Saya tidak berjanji, tapi saya akan membuktikan, kalau saya nanti terpilih menjadi kepada desa, pembayaran pajak saudara-saudara akan saya bantu 50 % |
| Calon ke III | : | (Orang terpelajaran dan lulusan sebuah universitas ternama) Birokrasi di desa ini harus ditata, aparat desa merupakan pelayan masyarakat, bukan minta dilayani oleh masyarakat. Kalau saya terpilih menjadi kepala desa, birokrasi akan saya tata, dan masalah pendidikan akan saya benahi. |
| Setiap bertemu warga yang sedang berkumpul, para calon kepala desa tersebut berkampanye. Sementara itu, dalam satu keluarga terjadi sebuah percekcokan hanya karena satu sama lain mendukung calon yang berbeda. Suami mendukung si A, istrinya mendukung si B, dan anaknya mendukung si C | ||
| Bapak | : | Kalian berdua harus memilik P. Edy, bagaimanapun juga, kita sering minta bantuan beliau. |
| Ibu | : | Tidak Pak, saya tau P. Edy itu kaya, tapi dalam memilih pemimpin jangan melihat kekayaannya, pak. Kita harus melihat sikapnya, sifatnya |
| Anak | : | Iya, Bu! Ibu memang benar, lalu ibu memilih siapa |
| Ibu | : | Jelas ibu akan memilih P.Kyai, beliaulah tokoh masyarakat di desa ini, dan selama ini sudah kita ketahui sumbangsih pikirannya untuk desa ini. Kamu milih siapa, Nak? |
| Anak | : | Ah…ibu ini aneh! Kenapa gak memilih calon wanita? Bukankah B. Endang itu berpendidikan tinggi, dan selama ini juga aktif di organisasi. |
| Ibu | : | Lho….memangnya kamu mendukung B. Endang |
| Bapak | : | (Hanya mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh istrinya dan anaknya. Karena merasa gerah juga, akhirnya ikut bicara) Sudahlah….bapak sebagai kepala keluarga, kalian harus mengikuti pilihan bapak. |
| Ibu | : | Tidak, Pak! |
| Bapak | : | Kenapa? Apa sampeyan gak mau ini (sambil menunjukkan uang ratusan rupiah) Bagaimana kamu, Nak? |
| Anak | : | Tidak, Pak! Itu namanya monypolitik. Apa jadinya desa kita, kalau P. Edy yang menjadi kepala desa. |
| Debat kusir dalam keluarga itu tak menemukan jalan ke luar, mereka pada mempertahankan prinsipnya, mempertahankan pilihannya. Sementara itu, tak jauh dari rumah keluarga tersebut, di sebrang jalan, di warung kopi terjadi keramaian antara pendukung calon kepala desa. Dengan langkah tergesa-gesa, P. Budi datang dan langsung pesan kopi. | ||
| P. Budi | : | (Belum duduk ke bangku, langsung pesan kopi dan berbicara sesukanya, sebagai tim sukses calon yang kaya P. Budi bicaranya Nampak enak saja) Kopi……! Pokoknya, kalau P. Edy yang terpilih menjadi kepala desa, saya jamin ekonomi warga akan meningkat |
| Nyi Cemplok | : | (Sambil mengaduk-aduk kopi) Alahhhh…Kang, belum tentu itu |
| P. Budi | : | Kamu itu, dibilangin gak percaya, coba liat ini! Aku dari rumahnya dan diminta untuk membagikan ini kepada warga. |
| Warga 1 | : | (Setelah menyeruput kopi dan mengisap rokoknya) Wah…..aku mau P.Pak |
| Nyi Cempluk | : | He…kamu itu kalau ada uang matanya langsung nubruk aja. Apa kamu tau, kalau kamu menerima uang itu, nanti kamu harus memilih P. Edy (kata Nyi Cempluk sambil memberikan secangkir kopi kepada P. Budi) |
| P. Marji | : | (Sebagai tim sukses P. Kyai, bicara P. Marji santun sekali, begitu datang ke warung, duduk dulu, baru pesan) Nyi…kopinya…habis sarapan belum dibuatkan kopi. Wah warung Nyi semakin ramai saja. |
| Warga 2 | : | (Sambil nyeruput kopinya yang tinggal setegah gelas kecil) Ya…iyalah…Pak, kan setiap ke warung ada yang bayari, ini saja aku dibayari P. Budi. |
| P. Budi | : | Iya….pokoknya siapa saja yang minum kopi atau makan di sini, catat saja di Nyi Cempluk. |
| Nyi Cempluk | : | Tapi yang kemarin belum di bayar Pak |
| P. Marji | : | Wah…..kok tak sesuai begitu |
| P. Budi | : | (P. Budi marah merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan P. Marji) Apa katamu? Akan kubayar semua…total semua Nyi |
| Nyi Cempluk | : | Lho….lho…lho…..di sini bukan tempatnya gegeran ya, kalau gegeran sebainya ke lapangan sana (kata Nyi Cempluk sambil menghitung makanan dan minuman yanb belum dibayar) Ini di catatan ada 75 ribu, Pak. |
| P. Budi | : | (Kaget…!) lho…. Kok banyak, siapa saja yang makan dan minum, apa sampeyan tulis namanya? |
| P. Marji | : | Nyi, aku jangan dihitung ya. Ini bayarku sekarang (sambil menyerahkan uang 100 ribu), aku pamit dulu |
| Nyi Cempluk | : | Pak….pak…pak….kembalinya gimana |
| P. Marji | : | Ambil saja…itu uang halal kok, uangku sendiri (kata P. Marji sambil melangkah pergi meninggalkan warung) |
| Persaingan tak sehat mulai terasa, dan setiap hari di warung itu hampir terjadi pertikaian antara tim sukses. Monypolitik mulai berbicara. | ||
| Nyi Cempluk | : | Wah….kalau tiap hari begini enak aku, dagangan masih banyak tapi sudah dapat uang banyak juga |
| Warga 1 | : | Enak…sampeyan, tapi suasana desa mulai tak tenang, apa sampeyan suka begitu |
| Warga 2 | : | Iya…..padahal siapapun yang menjadi kepala desa, kita tetap begini saja |
| Nyi Cempluk | : | Lho…apakah aparat kecamatan tak tahu, kalau di desa kita terjadi kekesruhan |
| Halaman kantor kecamatan nampak sepi, semua pegawai sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Ada beberapa pegawai yang hilir mudik membawa stopmap. Di dalam ruangan camat ada musyawarah. P. Camat didampingi kasi pemerintahan dan dua stafnya. | ||
| P. Camat | : | Dari laporan yang masuk, proses pemilihan kepala desa Sukamaju meresahkan masyarakat, kita harus mengambil tindakan |
| Kasi Pemrh | : | Benar, Pak. Sebaiknya para calon kepala desa dan tim suksesnya kita undangan dalam satu pertemuan, dan kita berikan penjelasan masalah pemilihan kepala desa. |
| P. Camat | : | Kamu siap menjelaskan proses demokrasi? |
| Staf | : | Sebaiknya kita mengundang pakar saja, Pak |
| Pembicaraan mereka berhenti karena ada tokoh masyarakat desa Sukamaju dan seorang warga yang datang ingin bertemu P. Camat. | ||
| P. Camat | : | Kebetulan sampeyan datang, kami sedang membicarakan apa yang terjadi di desa Sukamaju |
| Tokoh Masy | : | (Sebagai ketua panitia pemilihan kepala desa) Kami dating mewakili keresahan masyarakat Pak, kami ingin P. Camat mengambil tindakan, agar keresahan warga masyarakat di desa Sukamaju bisa dikendalikan |
| Kasi Pemrh | : | Itu sudah tugas kami, Pak |
| P. Camat | : | Iya…Pak….! Bapak sebagai ketua pelaksana pemilihan kepala desa, buatlah undangan untuk para calon kepala desa beserta tim suksesnya, mereka kita kumpulkan dib alai desa Sukamaju, saya akan mengajak seorang pekar pemerintahan. |
| Tokoh Masy | : | Terima kasih Pak, kami akan melaksanakan petunjuk Bapak, kami sudah tak mampu menghadapi gejolak yang ada di masyarakat desa Sukamaju |
| P. Camat | : | Biar nanti pakar pemerintahan yang akan memberikan pembelajaran kepada para calon kepala desa khususnya, dan masyarakat desa Sukamaju pada umumnya |
| Tokoh Masy | : | Baik, Pak. Kami permisi dulu, dan segera menyiapkan sarana dan prasarana peremuan itu. |
| Dari warung Nyi Cempluk, berita tentang adanya kampanye simpati bersama tersiar. Masyarakat desa Sukamaju merasa senang mendengar berita itu. Di balai desa Sukamaju sudah disiapkan segala kebutuhan. Panitia nampak sibuk sekali, ada yang menata tatak letak meja dan kursi, ada yang menyiapkan kebutuhan yang lainnya. P. Camat beserta kasi pemerintahan dan seorang pakar pemerintahan sudah dating dib alai desa Sukamaju. | ||
| Tokoh Masy | : | (Melaporakan kesiapan pelaksanaan musyawarah kepada P. Camat) Semua sudah siap Pak! |
| P. Camat | : | Apa semua calon dan timsuksesnya sudah datang |
| Tokoh Masy | : | Sudah…bahkan tadi mereka membawa pendukungnya masing-masing |
| Pakar | : | Sebaiknya kita mulai saja, Pak |
| P. Camat beserta pakar pemerintahan dan ketua pelaksana pemilihan kepala desa memasuki ruangan, di mana dalam ruangan itu saling terjadi adu mulut antara tim sukses. | ||
| Pakar | : | Saudara-saudara sekalian, dalam demokrasi itu kita harus mengetahui tujuan apa demokrasi itu sendiri (pakar menjelaskan panjang lebar tentang demokrasi) |
| Akhirnya para calon kepala desa mengambil kesepakatan, dan masyarakat desa Sukamaju merasa tenang. | ||
-tamat-
SUSUNAN PEMAIN/KRU
Sutradara : Syamsul Hadi
As. Sutradara : Endang Soenaryati
Penulis naskah : Suyitno
Produser :
Para Pemain :
· Calon Kepala Desa
1. Mohkhamad Makin
2. P. Edy
3. Khiptiani
· Penjual kopi/warung
- B. Whinuk
· Tim sukses
Calon 1
- P. Marji
- P. Naryo
Calon 2
- P. Hery P
- P. Nur Budiono
Calon 3
- P. Budi
- P. Heri
· Camat
- P. Rustam
- P. Trianto staf
- P. Broto, staf
· Rumah tangga/keluarga
- P. Supriyono sebagai bapak
- B. Novi, sebagai ibu
- ……sebagai anak
· Pakar Demokrasi
- P. Fatkrohman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar