Senin, 25 Oktober 2010

Cerpen


Wajah Ibu
Oleh : Syt  Ethex

Masih tampak semangat juang di wajah keriput menua itu. Semakin kupandang, aku menemukan kesejukan tersendiri, aku menemukan samudra tersendiri, aku menemukan bulan tersendiri, aku menemukan keikhlasan tersendiri, dan aku mendepatkan pembelajaran tersendiri.
Ibu…! Wajahmu menyimpan sejuta makna, yang tak mungkin bisa kuartikan semua, dirimu mengalir apa adanya, membasahi hidupku selama ini. Kasihmu tak terbalas, cintamu tak terlibas, oleh keberadaan jaman yang semakin bias, antara kebenaran dan kesalahan sulit dibedakan. Tanpamu diri tak mungkin mampu, berdiri di atas bumi yang penuh dengan debu-debu keangkaraan murka ini.
Ibu…! Di wajahmu terselip pengorbanan yang tak mungkin dapat kujabarkan dengan kata-kata, yang tak mungkin dapat kujumlah dengan angka, berapa pengorbananmu selama ini yang telah kau berikan pada anakmu.
“Nak….kenapa kamu memandang ibu!”
Aku tersentak, dan langsung bersimpuh di kaki ibu, “Ibu….maafkan aku! Aku tak mampu membahagiakanmu..!” kataku terputus-putus
Dengan tangannya yang sudah keriput, ibu membelai ramputku, dan berkata, “Berdiri dan duduklah! Sebenarnya ada apa denganmu?”
Malam berjalan belum begitu jauh, suasana anak kecil yang bermain masih mewarnai malam, apalagi mala mini purnama benderang tanpa dihalangi mendung. Di ruang tamu, di kursi goyang ibu melawan penyakit tuanya, dengan kursi plastic aku duduk di sebelahnya. Ruang tamu yang sudah lama tak mengalami perubahan, rak buku yang sudah berumur masih kokoh berdiri, rak buku itu warisan bapak.
Aku sangat sayang dengan rak buku itu, karena di dalamnya berisi ilmu-ilmu.
“Apakah kamu ada masalah, nak?” Tanya ibu dengan suara pelan tapi lembut dan jelas ditengkap telinga.
Aku menghela nafas, “Tidak, bu! Aku tak mau membebani pikiran ibu, biarlah masalah ini aku hadapi sendiri, bu!”
Dengan pandangan yang lembut, ibu memandangku, “Apapun yang kamu alami dan kamu rasakan, ibu tak mungkin membiarkan, apalagi yang kamu alami itu kesusahan”.
Aku menghela nafas, berat rasanya terus terang dengan ibu. Aku tak mau ibu terseret ke masalah keluargaku. Sudah cukup banyak dan bahkan tak terhitung secara matamatika, berapa jumlah pengorbanan ibu untukku. Sedari jabang bayi sampai sekarang, kalau dihitung, tak terhitungkan. Apakah aku harus menambah lagi sebuah pengorbanan.
“Nak, biarpun kamu tak ma uterus terang sama ibu. Ibu bisa merasakan apa yang kamu rasakan!”
Aku tersentak dengan apa yang dikatakan ibu
“Sudahlah….nak! Sudah malam, tidur sana. Ibu mau mengaji!”
“Baik, bu!”
Malam memeluk alam begitu erat sekali. Samar-samar aku dengar suara ibu membaca ayat-ayat suci. Raga ngantuku terusir oleh bayangan wajah ibu. Kata-kata ibu mengiang-ngiang. Ya…mungin benar apa yang dikatakan ibu. Biarpun aku tak berterus terang, dan menyimpan persoalan, ibu bisa merasakan apa yang aku alami. Oh…ibu! Betapa murni jiwamu, perasaanmu.
Keriput wajah ibu menyisakan kecantikan tersendiri, dan aku bayangkan kecantikan ibu di masa perawan. Jelas ibu cantik, ayu, dan menjadi dambaan para kumbang lanang. Membayangkan kecantikan ibu masa muda. Aku teringat seorang perempuan yang jauh di mata tapi dekat di hati, dan bahkan dia selalu mengisi relung hatiku. Sedang apakah dia sekarang malam ini? Munginah dia sudah tidur lelap bersama mimpinya?
Aku sadar, aku tahu, tak mudah mewujudkan kebersamaan dengannya. Memang aku dan dia saling cinta, dan sering memadu cinta lewat hubungan maya maupun telepon. Aku dan dia bersepakat menikmati hubungan yang ada mengalir apa adanya. Tiba-tiba dering HP membuyarkan lamunanku. Dengan gerak reflek, aku ambil HP.
“Mas……!” suara dia menyapa
“Kamu belum tidur, sayang?” balasku
“Aku tak bisa tidur, aku tak tahu, kenapa mala mini memikirkan kamu”
“Sudahlah….sayang! Aku taka apa-apa kok”
“Enggak, Mas! Aku tak percaya!”
Aku menghelas nafas, dalam dan dalam sekali. Anganku melayang-layang menelusuri malam. Membumbung tinggi menembus sepi menyapa bulan dan gemintang.
Samar-samar masih aku dengar suara ibu melafal ayat-ayat suci. Suaranya lembut mendayu menusuk relung hati. Sementara itu, istri dan anakku sudah diselimuti malam bersama mimpinya. Aku menghela nafas, tatkala teringat kejadian yang beberapa manit lewat. Di mana istriku tak berkenan melayani keinginanku. Keinginan seorang suami tidur bersama menikmati kepuasan yang tak mungkin terlukiskan.
Itulah sebabnya aku tadi menemui ibu yang sedang duduk di kursi goyangnya. Sebenarnya aku ingin mengadu, menceritakan kelakuan istriku. Tapi aku tak mampu berkata-kata.
“Mas……!”
“I…ya….sayang!”
“Kenapa diam dan tak bicara?”
“Maaf…sayang! Kamu tak usah memikirkan aku. Aku baik-baik saja, sayang!”
“Aku mau tidur, kalau mas mau menceritakan apa yang sedang ma salami”.
“Baiklah….!”
“Jadi…..!”
“Begitulah sayang…..aku tak pernah menutup-nutupi, aku tahu siapa kamu. Soal kamu percaya atau tidak, itu terserah kamu!”
“Aku percaya, sayang…!”
“Malam sudah larut, tidurlah sayang”
“Aku mau tidur, tapi kiss dulu…!”
“Cuuuppppp…ah…!”
Lewat telepon aku dan dia bercinta, meyampaikan rasa, menyampaikan gejolak yang ada. Malam mengalir bergulir, sepi menggelanyut tak bertepi.
Kembali bayangan wajah ibu menyeruak mengusik anganku. Malam semakin jauh berjalan, dan sudah hampir menjelang senja, tapi rasa ngantuk belum juga menguasaiku, mata ini masih penuh memandang sekitar. Suara ibu sudah tak terdengar, dari kamar mandi aku dengar suara langkah kaki.
“Kamu belum tidur?” tegur ibu begitu melihat aku masih duduk merenung.
“Belum, Bu!”
“Sholatlah…..”
“Baik, Bu!”
Aku tak mungkin menolak perintah ibu. Aku tak mungkin melawan perintah ibu. Ibu bagiku orang pertama yang memberikan sesuatu, bahkan ibulah yang membuat aku mengerti akan dunia ini. Dari ibu, aku mampu berdiri, aku mampu menghadapi, aku mampu menerima kenyataan yang terjadi****

Tidak ada komentar: