Kamis, 18 November 2010

Cerpen


DESEMBER
Oleh : Syt  Ethex

Kenapa kau selalu takut dengan datangnya desember? Apakah ada sesuatu yang mengkwatirkan, sehingga kau selalu takut dengan datangnya desember? Atau itu hanya caramu saja untuk memberi tanda akan bertambahnya jumlah angka tahun dari 2010 ke 2011, begitu seterusnya.
Tepian jalan masuk kota, di pinggir-pinggir pasar dan alun-alun setiap kota sudah sedia terompet-terompet beraneka warna dan berbentuk gaya yang menggoda mata. Dan kau selalu berkata, terompet-terompet itu datang selalu pada bulan desember. Desember seakan-akan menjadi bulan yang penuh dengan terompet-terompet yang menunggu pergantian sebuah tahun, dan selalu menjadi tanda, kalau setiap pergantian tahun tanpa adanya terompet tak akan sempurna.
Desember juga kau hubung-hubungkan dengan hujan yang selalu mengguyur bumi, banjir bandang dan setiap akhir tahun selalu terjadi becana yang menurutmu sebagai peringatan bagi manusia. Mungkinkah itu semua hanya kekwatiranmu belaka, kekwatiranmu karena secara tak sadar sisa-sisa usiamu semakin berkurang saja.
Pada tahun lalu, malam tahun baru, kau larang aku ikut konvai ataupun membeli terompet, dan kau mengajak aku menepi menghindari kemaramian yang sedang terjadi. Aku masih ingat, kau selalu menyediakan kopi kesukaanku dan tak lupa rokok kegemaranku. Aneh…kenapa kau selalu menyoal bulan desember sebagai bulan yang membuatmu tak tenang, membuatmu gelisah.
Tapi bulan desember ini kau nampak berubah dan kelihatan tenang-tenang saja. Mungkinkah kau sudah menemukan jawaban, atau setidaknya sudah memperoleh apa yang selama ini kau cari. Aku jadi penasaran dan ingin tahu, kenapa desember tahun ini kau nampak tenang-tenang saja. Ada apakah sebenarnya?
Sementara itu, desember tahun ini aku yang mengalami kegelisahan yang memuncak. Aku harus menghadapi beberapa tanggungan, memasukkan data-data laporan akhir tahun, dan data-data itu menusuk-nusuk mata hingga nanar rasanya, dan aku tak mungkin menghindarinya. Mungkin ini salah satu konsekwensi yang harus aku hadapi, dan harus aku terima apa adanya.
Ternyata, bukan aku saja yang harus menghadapi bulan akhir tahun dengan kerepotan tersendiri. Bahkan pada umumnya, kita semua mempunyai urusan sendiri-sendiri di mana pada bulan akhir tahun selalu menjadi bulan yang penuh dengan harapan. Harapan di mana pada tahun yang akan datang lebih baik dari tahun yang sudah dijalani.
Aku tahu, kau punya cara tersendiri dalam mengisi bulan akhir tahun. Dan aku tak mungkin mengikuti caramu, karena aku punya cara sendiri dalam bulan akhir tahun. Apalagi akhir tahun ini, aku mempunyai agenda dan ingin memenehi mimpi yang selama ini aku rasa. Rasa itu adalah rinduku pada seorang wanita yang jauh di sebrang samudra. Samudra yang selalu ada ombak atau gelombang yang setiap hari selalu menjadi persoalan tersendiri.
Bahkan wanita itu tadi malam menelpon aku, mengharapkan dan sangat mengharapkan aku datang mengobati rindu yang mendera dirasakan. Haruskah aku mengikuti acaramu? Selain itu, desember tahun ini aku harus melunasi segala piutang yang belum tentu mampu aku atasi. Kau memang sangat beda, dan mengelami perubahan signifikan, tak lagi ada rasa kwatir dengan akhir tahunmu.
Aku sendiri sebenarnya takut dengan datangnya desember, bulan akhir tahun yang setiap tahun selalu terjadi perhitungan diri untung rugi dalam menjalani kehidupan ini. Apalagi tahun yang akan berlalu masih penuh tanggungan yang harus aku selesaikan, dan tak mungkin kelar sehingga menjadi perekjaan yang menambah beban di tahun yang akan datang. Dengan sendirinya, pekerjaan tahun ini yang belum selesai, menjadi pekerjaan tahun yang akan datang.
Padahal, tahun yang akan datang pasti ada kerjaan baru yang harus aku hadapi, kalaupun aku masih diberi ruang dan waktu untuk menghadapinya. Sebab aku tak tahu, apakah masih ada waktu yang diberikan padaku. Untuk itu aku selalu memohon padaNya, agar memperpanjang waktuku sehingga mampu menghadapi serta mengatasi persoalan yang harus aku hadapi.
Kau tentu tahu, kalau aku punya urusan sangat pribadi dan rahasia sekali. Bukan hanya tentang si dia perempuan yang berkenan member perhatian padaku. Tapi soal lain yang tak mungkin aku sampaikan padamu, dan persoalan itu biarlah aku nikmati sendiri. Aku tak mau orang lain, dan bahkan si dia perempuan yang selalu bersamaku tak akan kuberi tahu. Karena aku tak mau orang lain ikut merasakan apa yang sebenarnya aku rasakan.
Desember, ya…desember bulan akhir tahun yang membuat aku dank au bingung, dan bahkan tak hanya aku dan kau saja yang bingung, tapi semua manusia menjadi bingung.***

Tidak ada komentar: