Ketersembunyian sikap dimiliki setiap individu, dan itu merupakan hak privat yang mungkin sulit dipahami, bahkan merupakan rahasia pribadi individu itu sendiri. Ketersembunyian sikap ini merupakan bibit persaingan yang tersembunyi pula di dalam hubungan bekerja. Dalam hubungan kerja, secara naluri atau kasat mata, ada persaingan yang tersembunyi dan tak mungkin nampak, selagi individu itu mampu merahasiakan agendanya yang sebenarnya.
Dalam tulisan ini, penulis ingin membeberkan sebuah realita yang selama ini penulis mencoba untuk menikapi realita yang ada, dan terjadi antara hubungan rekan kerja di sebuah kantor di mana penulis setiap hari bertugas melaksanakan kewajiban sebagai abdi negara. Sebuah realita yang mungkin tak tampak dan kasat mata tapi dapat dirasa, benar adanya. Setiap hari mungkin tak tampak adanya persaingan, itu realita yang nampak, antara teman saling membantu, saling memberi dan menerima. Tapi dibalik itu semua, ternyata ada persaingan yang membuat penulis harus berlapang dada dan menerima kenyataan yang ada.
Untuk menyikapi realita yang ada, penulis mencoba selalu menerima segala keluh kesah yang dirasa oleh rekan kerja. Keluh kesah rekan-rekan di dalam menghadapi atasan ataupun kabag yang kurang akomudatif, dan selalu menyalahkan bawahan setiap ada kesalahan yang timbul dan terjadi menimpa sebuah pekerjaan yang belum kelar-kelar juga. Hubungan personil kalau dilihat memang harmonis, tapi kalau sudah ketingkat hubungan yang lain, jangan ditanya lagi, pasti ada sket yang membuat sebuah perbedaan begitu mencolok sekali.
Menyikapi realita memang memerlukan sebuah keberanian tersendiri, dan juga memerlukan pengorbanan tersendiri, serta harus punya jiwa yang lapang dada, tak mudah putus asa, apalgi mudah tersinggung oleh kata-kata yang kemungkinan dilontarkan oleh rekan kerja. Menyikapi realita bukan perkara yang mudah untuk diterapkan, karena kita harus mampu memahami akan agenda rahasia yang mungkin dimiliki oleh rekan kerja kita. Bukankah dalam hidup ini (dalam bekerja) kita selalu ingin yang enak saja, dan tak mau bersusah payah.
Setiap hari penulis mencoba dan belajar menyikapi realita yang ada, dan dari realita yang ada itu, penulis ingin belajar bagaimana menjadi orang yang mudah diterima di mana kaki berdiri. Semoga kita semua mampu menyikapan realita yang ada, dan mampu mengambil hikmahnya dari apa yang terjadi menimpa diri kita.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar