Senin, 07 Maret 2011

Cerpen


Sepada Pancal

Pukul 07.30 WIB, matahari nampak tertawa, malihat aku yang mengayuh sepeda agak tergesa. Biasanya, pukul 07.30 WIB aku sudah ada di kantor. Tapi hari ini aku terlambat, dan pukul 07.30 masih dalam perjalanan. Sampai di kantor, tempat parkir penuh motor.
“Di mana aku berparkir?” tanya sepeda
Aku diam saja dan menghela nafas mengusir rasa lelah setelah mengayuh pedal sepeda.
“Tempat parkir penuh motor, aku malu, tak ada teman untuk bicara. Biasanya mereka bicaranya muluk-muluk!” sepedaku memprotes dan ingin parkir tersendiri. Karena merasa bosan tiap hari mendengar obrolan motor-motor.
Sepedaku mengisahkan bagaimana motor-motor itu dibuat bosnya hilir mudik. Bagaimana bosnya melunasi kewajiban bayar motor miliknya. Motor-motor itu sombong, sok tahu, dan ada yang bosnya berijasah serjana tapi tak mampu mengatasi persoalan.
“Aku geli, dan tertawa mendengarkan cerita salah satu motor, yang katanya, bos yang diikuti bergelar sarjana, tapi tak mampu mengatasi persoalan. Bahkan ada motor yang mengatakan, bos yang diikutinya tak kerasaan di kantor, selalu mengajak jalan-jalan. Datang ke kantor hanya menunjukkan muka. Setelah basa-basi ngobrol dengan rekan kerja. Ajak motor pergi jalan-jalan”.
“Ah, kamu jangan bicara yang aneh-aneh!”
“Lho, itu benar! Aku tiap hari sampeyan parkir bersebalahan dengan motor-motor milik rekan kerja sampeyan. Motor-motor itu sering membicarakan bosnya masing-masing. Bahkan mereka iri dengan aku, punya bos yang sabar, dan mereka heran. Kenapa sampeyan tak mempunyai anak buah motor”.
“Sudah, nanti saja ceritanya diteruskan. Aku mau kerja!” kataku sambil memparkir sepeda di sebelah motor supra dan sogun.
Baru saja aku melangkahkan kaki, sepedaku berteriak. Katanya, motor sogun mengoda, mengejek, menghina dan melecehkan. Dengan senyum bijak, aku toleh sepada lalu melanjutkan langkah masuk ruangan kantor. Telapak kaki menyapa ruangan. Suara teguran datang.
“Pak No, baru datang! Pukul berapa ini?”
“Maklum Pak, bersepeda pancal!” kata salah satu rekan kerjaku yang selama ini secara diam-diam membenciku.
“Maaf, Pak! Kalau aku terlambat. Tapi kenapa bapak tak menegur Pak Anu, yang datang ke kantor hanya beranu!”
Pak atasanku diam, dan tak berani lagi melanjutkan tegurannya. Baru ini kali aku melawan. Sebenarnya aku tak mau melawan. Kalau Pak atasan menegurku secara bijak.
Kerja di kantor bukanlah cita-citaku. Sebenarnya cita-citaku ingin menjadi guru. Mendidik anak bangsa, mengajar anak bangsa. Tapi aku bersyukur juga. Walau cita-citaku tak tercapai, masih dapat bekerja di lingkungan pendidikan, walau tak jadi guru. Kerja di kantor pendidikan, adalah kerja yang selalu mendata, menghitung, merekapitulasi kebutuhan pendidikan itu sendiri. Data pendidikan merupakan pendukung utama untuk menentukan berapa jumlah kebutuhan guru, kebutuhan personil dan lainnya di sekolah. Tapi kenapa tenaga administrasi pendidikan tak mendapat tunjangan. Sedangkan guru mendapatkan!
Apa bedanya dengan guru? Dan yang aku herankan, kenapa guru-guru itu mudah protes, bila ada rapelan dipotong. Padahal, dalam mengerjakan laporan kekurangan gaji itu membutuhkan tenaga, pikiran. Sebenarnya aku mendukung protes mereka, asal protesnya dipilah dan tak digebyah garam. Terus terang, sebagai pegawai kantor, aku tak pernah kecipratan uang potongan rapelan. Tapi semua guru berkata, aku ikut menikmatinya. Disitulah yang membuat aku mangkel bin tak setuju dengan protes guru.
“He…! Kerja atau ngelamun?”
Aku tersentak, dan ide yang sedang berbicara dalam pikiranku melayang pergi tak mungkin aku ceritakan lagi.
“Aku pulang dulu, ada perlu!” kata Pak Rahmad.
Aku lihat arloji, jarum panjang menunjukkan angka enam, jarum pendek menunjukkan angka sepuluh. Aku lihat rekan kerja yang lain. Ada yang santai dan ngobrol. Ada yang asik mengerjakan pekerjaannya. Ada yang asik nonton televisi yang sedang menayangkan musik dangdut.
Setelah memasukkan data guru. Aku beristirahat barang sebentar. Tapi, baru saja duduk santai. Pak atasan memanggil, dan memberi tugas lagi. Sebagai anak buah yang ingin menunjukkan dedikasi kerja yang baik. Aku turuti perintah atasan, asal sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan. Kalau tak sesuai dengan prosedur semestinya. Jangan disalahkan anak buah melawan.
Tak terasa, waktu begitu cepat berjalan. Jam kantor hampir habis, dan semua rekan kerjaku sudah banyak yang pulang. Di kantor hanya tinggal atasanku, beliau ngajak aku pulang. Sampai di tempat parkir, sepedaku tinggal sendirian.
“Wah, motor-motor tadi pada senang!” kata sepedaku begitu aku mendekatinya.
“Memangnya kenapa?” tanyaku
“Mereka membicarakan bosnya masing-masing. Aku tak tahu, kenapa hari ini mereka nampak senang. Sebenarnya ada apa?”
“Mungkin saja ada hubungannya dengan acara besok.” Kataku
“Memangnya besok ada apa?”
“Kamu hanya sepeda, jangan sok ingin tahu, ayolah kita pulang!” kataku sambil mengajak sepeda pulang.
Matahari di atas kepala. Ada motor bersuara nyaring menyapa. Aku lihat motor siapa. Setelah tahu, aku hanya tersenyum saja.
“Aku heran sama pampeyan, kok ya tak kepingin punya motor.” Kata sepedaku.
“Apa kamu sudah bosan ikut aku?”
“Ya tidak! Tapi setidaknya kalau sampeyan punya motor, aku bias menunggu rumah.”
“Ah, betul juga kamu. Tapi uang dari mana aku membeli motor. Ngeridit seperti orang-orang itu?”
“Kenapa tidak!”
Usul sepeda pancalku cukup menarik. Ya, kenapa aku tak kridit motor. Dengan punya motor, aku tak lagi menguras tenaga untuk memutarkan pedal sepeda. Tapi gaji bulananku tinggal sepertiga. Haruskah aku kridit motor?
Tidak! Biar pakai sepedaa pancal, asal kerja lancar. Dari pada pakai motor, kerja kantor kedodoran.
“Lagi pula, apa  sampeyan tak malu ngajak aku terus. Coba sampeyan bayangkan, ke mana sampayan ngajak aku. Aku selalu sendirian di tempat parkir!” kata  sepeda  seakan tahu benak pikiranku.
“Sebenarnya malu, tapi untuk apa mesti malu. Bukankah kita harus menerima kenyataan dan keadaan?”
Dalam perjalanan pulang. Sepeda pancalku terus bicara. Sepeda pancal yang selama ini kupakai serasa kasihan  melihat aku tiap hari harus memanjal-manjal pulang pergi kantor.***

Tidak ada komentar: