Selasa, 04 Januari 2011

Dunia Sastraku

Pembelajaran Yang Mengasikkan
(cuilan catatanku versi alakadarnya)

Setiap kejadian aku jadikan pembelajaran dan untuk belajar ke arah yang lebih baik dari hari kemarin, karena aku tak mau berjalan ditempat melulu, aku harus bergerak dan bergerak sekuat daya yang aku miliki. Begitu juga di dalam berkarya, yang di mana aku berkecimpung selama ini, sebuah dunia pilihan yang harus aku cintai, yakni dunia sastra, dunia di mana aku beraktualisasi menyampaikan ide dan gagasan yang ada di benak ini. Oleh karena itu, selama tahun 2010 secara langsung maupun tidak langsung aku ikuti perkembangan dunia sastra, yang menurut cacatanku pribadi penuh dengan gejolak dan hiruk pikuknya sebuah persaingan tersendiri antara para sastrawan, baik itu persaingan secara terbuka, maupun terselubung, dengan adanya itu maraklah dunia sastra. Karena dalam sebuah dunia tanpa adanyaa persaingan akan terasa hampa dan biasa-biasa saja.

Dalam tulisan ini, aku tak membahas adanya persaingan yang ada, tapi aku ingin memberikan cacatan pribadi yang aku alami sendiri, bukan berarti aku ingin membela diri atau memojokkan yang lain. Aku hanya ingin memcatat apa yang telah aku alami di dunia sastra selama tahun 2010, dengan harapan di tahun 2011 akan lebih baik dan mampu mengaktualisasikan diri lebih bernas. Karena setiap kejadian merupakan sebuah pembelajaran yang sangat berharga, sebagaimana yang aku alami tatkala melaksanakan acara Festival Bulan Purnama Mojopahit, dengan tema "Majapahit Dalam sastra", sebuah tema yang aku angkat karena ditunjuk oleh teman-teman sebagai koordinator acara itu.

Majapahit dalam sastra, merupakan rangkaian acara Festival Bulan Purnama Mojopahit yang diselenggarakan DKKM (Dewan Kesenian Kab. Mojokerto), dan pada bulan Oktober 2010, merupakan bulan giliran Biro Sastra yang punya gawe. Oleh karena itu, sebulan sebelumnya atas inisiatif seorang teman, membuat pengumuman lewat dunia maya tentang penerimaan naskah puisi dan cerpen. Tak pernah aku bayangkan, tetnyata respon teman-teman luar kotak begitu dahsat, hingga 500 orang lebih yang kirim naskah ke DKKM. Dari kiriman yang ada, akhirnya ditentukan 3 orang kurator untuk memilah dan memilih naskah-naskah yang masuk.

Sebuah prosesw yang membutuhkan keberanian, dimana baru ini kali pertama DKKM menerima tumpukan naskah, dan baru kali pertama menerbitkan antologi Cepren dan Puisi berskala nasional. Sebuah keberaanian yang nekat, di mana saat itu gejolak dunia sastra begitu berkembang, dan silih bergantinya acara sastra di setiap daerah. Sebuah gairah yang patut diapresiasi, karena gairah sastra yang ada begitu menarik sekali, walau pada intinya ada yang menjadi korban atau dikorbankan, tapi semua itu meruipakan riak-riak yang memang harus ada, dan harus kita terima dengan lapang dada.

Memendekkan kata, pada bulan Oktober 2010 merupakan bulan yang penuh pembelajaran bagiku di dalam mengarungi dunia sastra, dunia yang penuh dengan inrik tersendiri, dan siapapun yang ada di dunia sastra harus berani memasuki malam, melawan siang, yang di mana harus berani berkarya sebagaimanaa mestinya, dan tak boleh putus asa kalau memang benar-benar mau berdiamdiri di dunia sastra. Betapa tidak, begitu acara tergelar yang di mana sebelumnya aku merasa ragu, was bertumpuk kekwatiran karena pada acara itu berbarengan dengan acara yang sama di daerah lain, aku tak percaya kalau ternyata banyak teman luar kota yang berkenan hadir.

Sebuah luka yang mungkin masih terasa, yang mungkin akan membekas, karena aku harus siap menerima komplin dari beberapa penyair/penulis yang tanpa babibupa, atau tanpa konfermasi dulu, tapi langsung menyerang panitia hanya karena tak kebagian buku antologi. Sebenarnya, panitia (kami) ingin memberi semua penulis/penyair, tapi apa daya, maksud hati memeluk gunung, tapi tangan tak mungkin mampu memeluk gunung itu, disinilah sebuah kenyataan yang harus aku hadapi dengan lapangan dada yang ada. Aku harus menerima apa yang ada, karena semua itu pembelajaran yang berharga.

Bahkan semala tahun 2010, aku juga mengikuti kegiatan sastra secara langsung, di mana bisa berinteraksi dengan teman-teman. Wah sebuah pembelajaran yang menambah wawasan tersendiri, apalagi dengan maraknya istilah "Peta sastra" maupun istilah lainnya yang membuat aku mengkrenyitkan dahi sendiri menghadapinya. Tapi semua yang ada akujadikan pembelajaran yang berharga, karena semata-mata aku ingin di tahun 2011 punya ruang dan waktu yang semakin lebar untuk mengaktualisasikan diri.

Jelasnya, disamping maraknya perkembangan dunia sastra di tahun 2010, merupakan pembelajaran yang indah kalau kita mau menerima setiap perbedaan yang ada di dunia sastra itu sendiri. Semoga di tahun 2011 ini perkembangan dunia sastra semakin marak sekali. Semoga!!!

Tidak ada komentar: