Penumpang sudah penuh berdesak berdiri, bau ketiak bercampur bedak menusuk lubang hidung ini. Bus masih juga merapat menepi menaikkan penumpang lagi. Bahkan aku sendiri tak kebagian tempat duduk, dan diberi tempat duduk di sebalah sopir, di atas mesin yang rasanya panas sekali. Di terminal Jombang, beberapa penumpang turun, tapi ada juga yang naik. Ke luar dari terminal, ternyata bus masih menaikkan beberapa penumpang, dan salah satunya penumpang itu seorang gadis centil menarik perhatianku. Begitu dia naik, secara otomatis tak kebagian tempat duduk, dan dia diberi duduk di sebelahku yang kebetulan agak longgar dan masih bisa dijadikan tempat duduk.
Bus bergerak melaju, kondektur berteriak melakukan tugasnya. Dari Surabaya bertujuan ke Solo semakin lama aku rasa. Apalagi bus selalu berhenti menurunkan dan menaikkan penumpang di setiap jalan.
"Mau kemana Mbak?" tanyaku
"Sragen....!"
"O.....!"
Sebuah awal interaksi aku lakukan, dari pada hanya merasakan penggapnya keadaan di dalam bus. Ramainya kendaraan begitu terasa sekali, penggap keadaan membuat aku merasa tak nyaman. Untung di sebelah ada seorang cewek kece hehehe....
Di terminal Madiun malam sudah menggulung, perut lapar berteriak minta ampun. Bus berhenti supir dan kundektur turun, para penumpang menunggu bingung. Suasana terminal tak semeriah siang hari yang penuh teriakan yang beraksi dan bersaingan mencari penumpang. Aku turun, dan beberapa penumpang juga turun. Ada yang membuang hajat, ada yang lainnya. Di terminal Madiun aku mengisi perut bersama sopir dan kondiktur di sebuah bedak sederhana. Nasi pecelpincung terasa nikmat sekali, mungkin laparlah yang membuat nasi pecel terasa nikmat.
Agak lama juga bus berhenti di terminal Madiun, dan penumpang sudah tak ada yang berdiri, semua penumpang sudah kebagian tempat duduk. Sebenarnya aku ke Solo bersama teman wanita yang sejak tadi diam menikmati duduknya. Baru di terminal Madiun kami bisa satu bangku, dan bahkan ditambah dia.
"Pean aja di situ, aku di pinggir!"
"Gak, aku yang dipinggir"
"Aku gak enak sama mbak, dia kan istri om!"
"Bukan mbak, aku bukan istirnya, aku temannya, pean aja yang ditengah"
"Nah...apa kataku"
Bus kembali melanjutkan perjalanan, dalam perjalanan ini semakin bermelodi karena aku sudah dapat duduk dengan tenang dan bisa menikmati rasa ngantuk yang menyerang. Tapi rasa ngantukku hilang, karena si Cemplok yang baru aku kenal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar