gagasan mengalir bergulir seirama jarum jam yang tak pernah hilang dari ingatan, secangkir kopi tinggal ampasnya, dialog sana sini saling menyerang, suka tak suka menyelinap antara satu konsep yang ada, tak tertinggal membicarakan teman sendiri yang saling sikut sikutan, karena bukan karya yang dijadikan ukuran, tapi kepetingan merupakan alasan yang dijadikan, kenapa harus terjadi gesekan antara seniman.
di warung kopi taman budaya, aku pendengar setia yang tak mengerti kenapa, selalu mendengar adanya kubu kubuan yang membuat diri gerah merasakan, yang membuat diri serba salah menentukan, berada di tengah salah, berada dipinggir salah, tak mengikuti perkembangan yang ada semakin salah.
mendengar obrolan para seniman, jauh sekali dari apa yang aku pikirkan, sebuah keindahan yang selama ini terpancar, ternoda adanya ketidakharmonisan antara individu yang berbeda kepentingan, mau meninggalkan terlalu sayang, karena diri sudah terlanjur basah, tak mungkin menghindari apa yang terjadi, lebih baik aku hadapi saja, tak peduli dengan anggapan dan penilaian yang akan ditimpakan pada diri
di warung kopi taman budaya, sore hari menjelang senja matahari keperaduannya, gagasan mengalir entah kapan terlaksana, terlalu banyak kosep yang diagendakan bersama, dan semua akan terwujud bila diantara kita saling sinergi menyamakan presepsi, mejauhkan diri dari kepentingan sempit diri sendiri, mengutamakan kepetingan perkembangan dunia seni itu sendiri.
di warung kopi taman budaya, aku pendengar setia yang tak mengerti kenapa, selalu mendengar adanya kubu kubuan yang membuat diri gerah merasakan, yang membuat diri serba salah menentukan, berada di tengah salah, berada dipinggir salah, tak mengikuti perkembangan yang ada semakin salah.
mendengar obrolan para seniman, jauh sekali dari apa yang aku pikirkan, sebuah keindahan yang selama ini terpancar, ternoda adanya ketidakharmonisan antara individu yang berbeda kepentingan, mau meninggalkan terlalu sayang, karena diri sudah terlanjur basah, tak mungkin menghindari apa yang terjadi, lebih baik aku hadapi saja, tak peduli dengan anggapan dan penilaian yang akan ditimpakan pada diri
di warung kopi taman budaya, sore hari menjelang senja matahari keperaduannya, gagasan mengalir entah kapan terlaksana, terlalu banyak kosep yang diagendakan bersama, dan semua akan terwujud bila diantara kita saling sinergi menyamakan presepsi, mejauhkan diri dari kepentingan sempit diri sendiri, mengutamakan kepetingan perkembangan dunia seni itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar