sekali bertemu belum pasti, perempuanku di negeri mampu
selalu menghubungi menegur diri menjaga hati
dari angin yang setiap hari berhembus datang menggoda diri
perempuanku di negeri mampu kemana pergi
selalu naik mobil bersopir pribadi
jauh beda dengan diri yang ke mana pergi
jalan kaki atau naik motor dekil sekali
perempuanku di negeri mampu setiap hari bermenu bergizi
yang tak mungkin mampu aku imbangi
yang tak mungkin aku saingi
karena aku hanyalah penulis puisi
yang penghasilannya tak pasti
perempuanku di negeri mampu
sekali bertemu belum tentu
angin selalu jadi tumpuhan hati
yang saling terkait dan saling memiliki
rasa cemburu pasti menjadi gangguan setiap hari
hanya kesetiaan yang termiliki
saling percaya itu pasti
akan mengawetkan cinta yang terjadi
perempuanku di negeri mampu
biarlah ruang dan waktu yang menunggu
bila kehendakNya akan bertemu
akulah yang kali pertama merasa malu
karena keterbatasan kemampuanku
selalu menghubungi menegur diri menjaga hati
dari angin yang setiap hari berhembus datang menggoda diri
perempuanku di negeri mampu kemana pergi
selalu naik mobil bersopir pribadi
jauh beda dengan diri yang ke mana pergi
jalan kaki atau naik motor dekil sekali
perempuanku di negeri mampu setiap hari bermenu bergizi
yang tak mungkin mampu aku imbangi
yang tak mungkin aku saingi
karena aku hanyalah penulis puisi
yang penghasilannya tak pasti
perempuanku di negeri mampu
sekali bertemu belum tentu
angin selalu jadi tumpuhan hati
yang saling terkait dan saling memiliki
rasa cemburu pasti menjadi gangguan setiap hari
hanya kesetiaan yang termiliki
saling percaya itu pasti
akan mengawetkan cinta yang terjadi
perempuanku di negeri mampu
biarlah ruang dan waktu yang menunggu
bila kehendakNya akan bertemu
akulah yang kali pertama merasa malu
karena keterbatasan kemampuanku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar